Oleh: Darmiwandi, S.Ag. MH.
“ Mukernas PKP ( Antara Cinta, Cita dan Realita)”
= Calon Wali nagari =
Malam semakin larut. Udara dingin sudah mulai dirasakan oleh sebagian orang. Bagi orang yang masih panas dan kuat darahnya, jam 11 malam mungkin belum terasa apa-apa. Namun bagi orang yang telah lanjut usia dan kondisi fisiknya sudah mulai turun, jangankan jam 11 malam, jam 9 sudah tidak tahan lagi untuk duduk di ruang terbuka apalagi di lapangan yang tidak ada sedikitpun dinding yang akan menghambat angin malam masuk. Untung saja penulis disaat acara pembukaan MUKERNAS PKP 2022, sehingga udara dingin tidak terlalu terasa dan mungkin kondisi fisik agak fit.
MUKERNAS PKP telah dibuka Gubernur Sumatera Barat secara resmi sekitar jam 11 malam minggu. Setelah beliau membuka secara resmi, acara ditutup oleh MC dan mengembalikan mik kepada pemandu acara kesenian.
Penulis lihat dari sorenya, pemandu acara kesenian ada dua orang. Dari dua orang tersebut hanya seorang yang penulis ingat panggilannya, yakni Mak KALEK. Nama mak. Kalek tidak terasa asing juga karena pernah melihat beliau di youtube. Dengan diserahkannya mik oleh MC kepada mak Kalek, suasana yang serius sebelumnya langsung berubah menjadi cair dan riang kembali. Melalui mik yang dipegang oleh mak. Kalek beserta temannya, mereka memanggil lagi artis-artis yang sempat istirahat sejenak selama acara pembukaan.
Melihat dan mendengar kocakan mak. Kalek mamandu acara kesenian, penulis beranjak beberapa Langkah ke tepi lapangan dari tempat duduk. Penulis melihat para pengunjung / masyarakat Nagari Paninggahan yang menyaksikan masih bertahan dengan riang dan gembiranya. Termasuk Gubernur dan rombongan masih duduk menyaksikan acara kesenian. Kalaupun ada yang meninggalkan tempat / pulang, jumlahnya tidak terlalu banyak. Karena penulis masih duduk di kursi penjual sate, maka diperkirakan Gubernur pamit dari lokasi sekitar pukul 12. Kalaupun tidak lebih dari jam tersebut, bisa dipastikan antara jam 11 s/d 12 malam. Sebelum Bapak Gubernur meninggalkan lapangan, rombongan Bapak Wakil Bupati telah duluan berangkat.
Setelah semua rombongan pemerintah pamit dari acara, Penulis masih duduk santai bercengkrama dengan kawan-kawan. Namanya duduk di kedai minuman, pembicaraan tentu kemana pergi saja. Miskipun kemana-mana pembicaraan tetapi ada hal yang hangat kami diskusikan, diantaranya masalah isi kata sambutan dan tanggapan Bapak Gubernur tentang jalan provinsi yang melalau Nagari Paninggahan. Kami hanya bisa berandai-andai dan berangan-angan agar permintaan Gubernur bisa dikabulkan. Bila permintaan beliau dikabulkan, maka permintaan kita juga dikabulkan. Beliau hanya minta hitam di atas putih dari masyarakat Paninggahan. Kenapa kami hanya berangan-angan karena kami bukanlah pengambil kebijakan dan keputusan. Agar angan-angan menjadi kenyataan, maka petinggi-petinggilah yang diharapkan untuk menindaklanjuti supaya TANDA CINTA DAN CITA MENJADI REALITA.
Selain itu, kami juga menghabiskan air ludah dan diganti dengan segelas kopi susu membicarakan masalah CALON WALI NAGARI periode yang akan datang. Masalah ini juga telah dan sedang menjadi selingan pembicaraan dalam media local khusus.
Sabagai anak nagari yang juga punya rasa cinta kepada Nagari Paninggahan tentu berkeinginan pula memiliki pimpinan yang bisa membawa nagari kea rah yang lebih baik dan maju. Kita memiliki SDA dan SDM yang luar biasa. Jangankan kita mengakui, Bapak Gubernur saja mengakui dalam kata sambutan beliau. Sebagai bukti nyatanya; lihat dan perhatikanlah semua masyarakat yang hadir dalam acara pembukaan MUKERNAS. Selain jumlah penduduk yang sangat banyak, para intelekpun bertaburan. Jangan disebut gelar dan pangkat mereka, tetapi perhatikanlah kompetensi dan potensi SDM yang dimiliki oleh Nagari Paninggahan.
Untuk CALON WALI NAGARI PANINGGAHAN yang akan datang, Kami masyarakat badarai dan tidak punya pengaruh apalagi pandai mempengaruhi, hanya punya harapan; SIAPA YANG PUNYA KEMAUAN DAN KEMAMPUAN hendaknya memiliki VISI dan VISI serta PROGRAM yang jelas dan terukur. Visi, Misi dan Program tersebut bisa dibaca dan diketahui oleh orang banyak. Misalnya;
1. Bidang Adat
2. Bidang Agama
3. Bidang Pendidikan
4. Bidang Budaya dan kesenian
5. Bidang Olah Raga dan Kepemudaan
6. Bidang Ekonomi
7. Bidang Pariwisata
8. Bidang Infrastruktur
9. Bidang Pertanian dan Perkebunan
Dari sekian banyak bidang, MAMPUKAH CALON WALI NAGARI MENJABARKANNYA KE DALAM PROGRAM KERJA?? Persoalan akan terlaksana semuanya, itu tergantung komitmen kita semua. Yang penting programnya terarah dan terukur serta bisa dinilai dan dievaluasi oleh masyarakat banyak.
Kalau hanya “Mancalon urang, mancalon awak”, lebih baik urungkan saja daripada tidak mampu menjalankan Amanah yang sangat berat dan besar. Yang pada akhirnya menjadi gunjingan dan cemoohan orang banyak di belakang kita.
Karena hari telah menunjukkan jam 01 lewat 40 minit, dilihat orang hamper lengang dan musiknya tidak kedengaran lagi, maka kami mau tak mau meninggalkan tempat dan mengakhiri pembicaraan di meja kopi. Kami menyadari bahwa hasil pembicaraan kami tersebut tidak didengar oleh orang banyak apalagi akan ditindaklanjuti. Minimal itulah pengisi waktu kami sambal memeriahkan alek Nagari Nan Tacinto.
Hari sudah berubah nama menjadi hari Minggu, tetapi masih gelap gulita. Besok paginya, Penulis telah punya niat pula mengikuti MUKERNAS PKP di SMAN. 1 Junjung Sirih.
Apakah Note book yang diberikan oleh panitia akan terisi dengan setetes tinta? Atau hanya sekedar dikundang kesana kemari? Atau hanya terletak di atas kursi sehingga menambah kerja panitia lagi??
Bersambung………….






