Oleh: Darmiwandi, S.Ag. MH.
“ Mukernas PKP ( Antara Cinta, Cita dan Realita)
“Ini Nagari Bukan Pribadi”
Hari mampir menunjukkan jam 10.00. WIB. Penulis mengetahui acara jam 10. 00. WIB karena penulis membaca dari salah seorang teman yang me WAP kepada penulis pagi minggu itu. Penulis Bersama istri bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi Mukernas PKP di SMAN 1 Junjung Sirih. Istri kebetulan diamanahi menjadi Pengurus inti (Bendahara) di Bundo Kanduang Nagari, maka dia juga ikut hadir ke sana. Menaiki sebuah motor, kami menelusuri jalan besar menuju tempat yang ditentukan panitia Mukernas.
Sampai di lokasi, motor diparkirkan. Kami menuju meja panitia. Istri pergi ke tempat temannya, sedangkan penulis mengisi daftar hadir dan dikasih oleh anak-anak sebagai panitia sebuah tas plastik yang berisi pena dan note book. Biasanya, kalua sudah disediakan ATK untuk peserta, maka peserta diharapkan menulis dan mencatat apa yang disampaikan narasumber dan juga hal lainnya yang perlu.
Sebenarnya penulis telah meminjam sebuah pena dan 3 lembar kertas note book kepada istri sebelum berangkat. Niat penulis memang ingin mencatat apa yang disampaikan dan suasana di lapangan. Pena dan kertas tersebut, penulis masukan ke dalam saku. Karena sudah ada disediakan dan diberikan oleh panitia, maka kedua alat yang penulis bawa dari rumah tidak dipergunakan lagi. Yang berisi adalah buku yang diberikan panitia.
Belum sampai penulis di kursi yang telah disediakan untuk semua peserta yang hadir, penulis lihat orang sudah ramai. Sambil mencari tempat duduk di bagian tengah sebelah tepi, penulis mendengan moderator menyebut, memanggil dan mempersilahkan Bapak Ir. H. Abu Bakar Bulek untuk berbicara. Kapasitas beliau diberi kesempatan berbicara mungkin sebagai mantan Wali Nagari Paninggahan pertama setelah berubahnya system Pemerintahan Desa menjadi Sistem Pemerintahan Nagari. Selain itu, mungkin kapasitas beliau sebagai tokoh masyarakat Nagari Paninggahan.
Sambil berdiri di bagian belakang, penulis melihat beliau berdiri dari tempat duduk beliau, Beliau berdiri dan berjalan tidak seperti biasanya. Dulu dengan tegap dan cepat beliau melangkah tetapi sekarang perlu dipapah. Beliau memegang tongkat di tangan kanan. Melihat kondisi beliau seperti itu, Kankanda Yum langsung berdiri dan membimbing beliau sampai ke pentas dan tempat duduk yang disediakan. Beliau pakai tongkat karena kaki / lutut beliau sebelah kisi baru siap dioperasi. Jadi untuk berjalan harus dibantu dengan tongkat, dan kalua sholatpun tidak bisa berdiri lagi. Itulah kondisi fisik Bapak Ir. H. Abu Bakar Bulek pada saat itu.
Kondisi fisik beliau tidak sekuat dulu lagi. Bagaimanakah cara dan suara serta semangat beliau saat berbicara?. Untuk mendengar dan melihat langsung, bisa dilihat dan didengar dari Chanel You Tube penulis. Dan apa yang beliau sampaikan dalam arahan / pembicaraan beliau, penulis akan mengutip langsung dari video yang sempat penulis rekam. Bahasa beliau Bahasa Minang. Maka dalam tulisan ini, penulis alihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil rekaman video, Bapak Ir. H. Abu Bakar Bulek menyampaikan sebagai berikut:
“ Asalaamu’alaikum Wr. Wb.
Sebenarnya tidak pastas saya duduk di sini. Umur telah 84 tahun. Sudah dekar sebenarnya ke pintu kubur. Tetapi karena cinta ke nigari, cinta ke masyarakat nagat Paninggahan, diusahakan juga hadir.
Dalam rapek harus salasai. Tidak ada yang tidak selesai. Apabila telah diputuskan, maka keputusan itu harus dilaksanakan. Kalau ada yang menghabat dalam siding, seperti kata tadi, maka diambil saja lagi. Kenapa harus diambil? Itu pengacau. Dan menghambat pembangunan nagari Paninggahan. Kalau seorang berdua menghambat, biarkan saja. Kalau tidak, maka pembangunan ntidak akan berjalan dengan baik. Itu prinsip kami dahulu.
Kalau rapat itu jam 9 iya jam 9. Kalau lewat jam 9, ya keluar. Kami pernah ditanya oleh Bapak Bupati (Gamawan Fauzi), Kami berjalan bersama-sama dengan beliau; Kalau ada masalah pak Wali di atas mobil sajalah kita karena saya mau rapat pula di Koto Baru. Beliau bertanya; Apa kuncinya pak wali? Sehingga pak wali bisa seperti ini?. Dahulu orang pergi ke Paninggahan itu takut. Kalau rapat di Paninggahan tu takut. Soalnya kalua duduk, duduknya seperti duduk di lapau (kedai). Kakinya tegak. Kan itu seperti itu? Yang meng iya kan itu meungkin pernah seperti itu.
Insya Allah kini pak Bupati, itu telah berubah. Intinya adalah disiplin. Disiplin dengan waktu, disiplin dalam keuangan, disiplin dengan janji. Intinya itu saja: Disiplin, menepati janji. Janji itu adalah hutang. Jangan kita melempar janji tetapi tidak menepati janji. Melempar janji ke sana ke mari tetapi tidak ditepati. Itu adalah hutang bagi kita.
Bapak-bapak, ibuk-ibuk..tidak semuanya kami sampaikan. Tadi disampaikan oleh moderator;
Pertama adalah masalah Pendidikan. Kalau masalh Pendidikan. Kami masuk kemari, kami sama denagn napak tilas. Terinagt zaman membangun SMA ini. Betapa sulitnya membangun SMA ini. Bukan membangun kelasnya yang sulit, tetapi membangun jalan dari kantor Camat menuju SMA ini. Hanya 800 meter. Tetapi memakan proses Panjang. Berapa orang ninik mamak yang tersangkut di sini, berapa orang pemuka masyarakat, tonganai yang tersangkut di situ; itu harus diselesaikan satu persatu.
Dan Alhamdulillah, berkat do akita Bersama dan dibawah Lindungan Allah Subhaanallaahu Wa Ta’ala, semuanya bisa selesai.
Tetapi memang janji tadi. Maka itu kami meminta kepada ninik mamak seluruhnya, dari dulu sampai kini; Tolong Wali Nagarinya dibimbing. Sekali lagi, tolong Wali Nagari dibimbing. Wali Nagari tidak bisa jalan sendiri. Dan harus berjalan bersama-sama dengan ninik mamak, Alim ulama, cardik pandai, Bundo Kanduang dan pemuda.
Kenapa Paninggahan dulu GO Internasional? Kami ingin Paninggahan ini menjadi contoh di bidang Pendidikan. Kami Bersama Dt. Sati dan juga bersama Lembaga-lembaga Internasional seperti IKRAF; berusaha meningkat bidang Pendidikan di Nagari Paninggahan. Yang pertama kami usahakan adalah datangnya utusan daru HASFARD UNIVERSITY di AMARIKA SERIKAT. Hasfard University adalah Universitas yang terbaik di dunia. Itu kita datangkan kemari. Ada juga bantuan dari Bogor, ITB Bandung, IKRAF dan dari Amerika sendiri, Yakni Mr. Horm. Datang menawarkan bantuan dalam masalah Pendidikan. Bantuanya adalah MENAWARKAN BEASISWA UNTUK NAGARI PANINGGAHAN, KEPADA SMA NAGARI PANINGGAHAN. Namun kami beserta Dt. SATI tidak boleh ikut rapat. Jadi beliau sendiri (Mr. Horm) dengan penterjemahnya langsung dengan masyarakat.
Ada masalah yang sangat menyedihkan di sana. Apa pertanyaan dari mereka? APAKAH PANINGGAHAN PERLU DIBANTU DALAM BIDANG PENDIDIKAN?. Kami telah menyampaikan sebelumnya bahwa Paninggahan itu perlu dibantu dalam bidang Pendidikan. Tanpa pendidkan, Paninggahan tidak akan maju. Bak kato Dt. Rajo batuah tadi; Tiap rumah harus ada Sarjana. Ini harus menjadi target oleh pak Wali bahwa setiap rumah harus ada sarjana. Itu harus target.
Kemudian apa yang terjadi di dalam rapat dengan Hasfard University? Itu sedang dengan ibuk-ibuk tu. Apa kata pemuka masyarakat pada saat itu, yang hadir saat itu?, salah seorang cuman; “KAMI TIDAK PERLU DIBANTU LAGI BUK”.
Akibatnya apa? Mereka pulang. Karena kita tidak perlu dibantu. Kami tidak perlu dibantu oleh Haffards University.
Masalah ini sampai kini
oleh kami pribadi sendiri adalah sangat menyakitkan. Beassiswa ditawarkan kepada Nagri Paninggahan melalui SMA oleh Haffard University Amarika Serikat, ditolak oleh masyarakat Nagari Paninggahan. Apa tidak sakit hati Ibuk-ibuk, bapak-bapak?. Kami telah bersusah payah mendatangkan mereka. Di Indonesia yang satu-satunya yang mereka kunjungi adalah Nagari Paninggahan. Mereka melihat pembangunan nagari Paninggahan di bidang lingkangan hidup. Nagari Paninggahan menjadi contoh bagi nagari-nagari lain di sekitar danau singkarak. Ini yang mereka respek kepada Nagari Paninggahan. Tetapi kenapa, Orang Paninggahan sendiri yang tidak mau dibantu dalam bidang Pendidikan.
Mereka tidak habis piker di waktu mereka pulang. Kenapa sampai begitu?. Kami tidak bisa menjawab dengan Dt. Sati.
Itu dijawab oleh pemuka masyarakat kita (pertanyaan saat rapat). Siapa orangnya tidak usah kami sebutkan. Orang tidak ada lagi. Orangnya sudah pergi ke Balik Papan. Ini adalah kerugian yang paling besar yang kita terima selama kami menjadi Wali Nagari. Sampai kini menjadi angan-angan bagi kami. Kalaulah 5 orang saja tamatan SMA Nagari Paninggahan kuliah di Haffard University Amarika Serikat, Alangkah bangganya kita. Tidak ada SMA yang ditawarkan kecuali hanya SMA Nagari Paninggahan. Tetapi malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih. Apa boleh buat, kami tidak dibolehkan ikut rapat. Ikut rapat saja tidak dibolehkan. Mereka ingin, apa yang disampaikan masyarakat itu betul-betul murni keinginan masyarakat. Bukan keinginan kami berdua. Sampai kini, Insya Allah, mungkin sampai kami mati teringat juga. Berepa kerugian kita? Kalau setiap tahun saja ada 5 orang anak kita yang kuliah di Haffard University. Sarjananya, sarjana Haffard University. Dimana saja dia mau bekerja, akan diterima. Itu sarjana yang tingkatnya internasional. Nomor 1 di dunia. Hanya sayang..niat dan cita-cita kami tidak kesampaian karena dipatahkan oleh seorang yang mengatakan; Tidak perlu dibantu.
Jadi perlu kami sampaikan, bapak-bapak, ibuk-ibuk..Sebagai unek-unek kami. Mungkin akan dibawa mati itu, karena tidak sampai niatnya. Sudah bersusah payah kita. Ada yang membatu datu Unand, Ikraf dan Belanda. Ada yang menjadi perioritas tetapi tidak tersampaikan.
Baiklah moderator. Kalau kami sampaikan yang lain, sejarah membangun SMA ini Panjang ceritanya. Terutama membangun jalan dari kantor camat ke sini. Itu pak Jorong; pak Nazar, beliau tahu ceritanya. Bagaimana susahnya membangun jalan. Sudah selesai jalan dihambat juga baru.
Jadi SMA yang dibangun pemerintah, hanya 3 lokal. Yang dibelakang tadi tu 3 lokal, itu sebanyak 120 juta. Sedang local lainnya adalah swadaya masyarakat. Itu bantuan masyarakat. Orang Sulit Air / SAS, yaitu Zainal Rais 42 juta, H. Nazar 28 juta. Sehingga menjadi 9. 80 juta kita jadikan 9 lokal sehingga menjadi 12 lokal. Sehingga Gubernut menjadi heran. Dengan dana 3 lokal bisa menjadi 12 lokal?. Di kampung kami, dikasih dana 8 lokal tidak selesai 8 lokal, tetapi di Paninggahan diberi dana 3 lokal bisa menjadi 12 lokal.
Yang terakhir, kami minta maaf kepada bapak-bapak, ibuk-ibuk selama kami di pemerintahan mohon dimaafkan. Bagaimana di bapak-bapak, ibuk-ibuk? Apakah dimaafkan? Alhamdulillah. Hanya yang tadi tu..yang sat utu, memang susah yang sat utu. Mungkin sampai mati indak hilang dalam pikran kami, Mudah-mudah bisa kami maafkan. Ini menyangkut nigari bukan menyangkut pribadi. Sata dikatai-katai di atas balai-balai, di kantor tidak menjadi maslalah, tetapi ini menyangkut masa depan masyarakat nagari Paninggahan. Ini yang menjadi masalah.
Baiklah bapak-bapak, ibuk-ibuk yang kami hormati. Kami tidak akan sampai sampai acara ini selesai karena fisik kami tidak memungkinkan; Duduk lama susah, berdiri lama susah, berjalan apalagi. Kami minta maaf bapak-bapak ibuk-ibuk.
Sekian, Billahi taufiq wal hidayah,
Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh”.
Sambil berdiri dari tempat duduk, beliau bersalaman dengan moderator. Moderator menyampaikan; “Alhamdulillah. Sebenarnya beliau memberikan PR kepada kita. Itu menjadi unek-unek beliau sampai mati, kata beliau. Tidak sampai oleh beliau, tentu kita yang akan menyampaikan. Apakah kita setuju?”. Peserta yang hadir menjawab; “Setuju”.
Menjelang Bapak H. Abu Bakar sampai di tempat duduk semula yang dibimbing oleh kakanda Yum, Kakanda Karnedi sebagai moderator memberikan penegasan dan harapan bahwa anaanak SMA 1 junjung Sirih dapat melanjutkan kuliah mereka ke Haffard University, oxport University minimal perguruan tinggi yang ternama di Indonesia seperti UI, ITB dan UGM. Kalau mereka telah kuliah di sana, tentu adik-adik mereka akan mengikutinya nanti. Ini menjadi PR bagi SMA 1 Junjung Sirih.
Apakah hanya itu pemikiran dan penjelasan Bapak H. Abu Bakar di saat mengikuti Mukernas PKP 2022 di SMA 1 Junjung Sirih?. Tidak.
Di teras SMA sambal berjalan lambat-lambat dengan sebilah tongkat dan tiba di jenjang menurun ke bawah, penuli ikut membimbing beliau Bersama Kak. Yum. Tiba di teras local bawah, belaiu “dicegat” oleh salah seorang peserta yang hadir. Namanya Nur Aida. Nur Aida meminta waktu beliau sebentar untuk bertanya dan meminta pendapat Bapak H. Abu Bakar. Dalam istilahnya wawancara. Apa yang ditanyakan oleh Nur Aida dan Bagaimana penjelasan dan pendapat Bapak H. Abu Bakar?. Sekedar diketahui topiknya saja, bahwa yang ditanyakan oleh Nur Aida adalah tentang JALAN PANINGGAHAN – LUBUK MINTURUN KOTA PADANG. Lalu bagaimana tanggapan Bapak H. Abu Bakar? Setujukah beliau atau tidak??
Bersambung………….






