Pencegahan Radikalisasi di Lingkungan Perguruan Tinggi

Mentreng.com | Batusngkar – Intitut Agama Islam Negeei (IAIN) Batusangkar mengadakan kegiatan FGD Pencegahan Radikalisme, Intoleransi & Terorisme Bagi Civitas Akademi IAIN Batusangkar, yang dilaksanakan atas kerjasama antara Polda Sumbar dalam hal ini Direktorat Intelkam Polda Sumbar dengan IAIN Batusangkar, Kamis (18/11/2021).

Pemateri Rektor IAIN Batusangkar Dr. Marjoni Imamora, M.Sc., dan Kasubdit Kamsus Dit Intelkam Polda Sumbar, KOMPOL Samsualdi

Dr. Marjoni Imamora, M.Sc mengutarakan, bahwa Kampus IAIN Batusangkar konsen terhadap anti radikalisme dan terorisme, hal ini terwujud dengan adanya deklarasi untuk Indonesia yang berisi pertama menjunjung tinggi NKRI berdasarkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan UUD 1945, kedua menjaga semboyan Bhineka Tunggal Ika, ketiga anti radikalisme/terorisme, keempat anti narkoba/obat terlarang, dan kelima cinta tanah air dan bela negara.

Disamping deklarasi, pencegahan radikalisme dan terorisme di kampus dilakukan juga dengan kerjasama berbagai mitra diantaranya MoU antara IAIN Batusangkar dan BNPT, bermitra dengan Polda Sumbar yaitu Pengembangan Forum Komunikasi Kepolisian Masyarakat dan Mahasiswa (FKMM), adanya upaya pencegahan peredaran narkoba dan obat terlarang dan tes narkoba.

Kemudian, juga bermitra dengan Pondok Pesantren dan Lingkar kampus yaitu program IAIN Bersholawat, IAIN Berdizkir, dan bakti sosial lingkar kampus.

Dr. Marjoni Imamora, M.Sc juga menyampaikan bahwa setiap mahasiswa baru di IAIN Batusangkar juga mengikuti kegiatan pendidikan bela negara yang dilaksanakan di Secata B Padang Panjang.

Hal senada juga disampaikan Kepala Polda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa Putra, S.H., S.I.K
diwakili Kasubdit Kamsus Dit Intelkam Polda Sumbar, Kompol Samsualdi menyampaikan, bahwa pendidikan adalah menjadi salah satu faktor dalam proses pencegahan terorisme dan radikalisme,

Kamsus Direktorat Intelkam Polda Sumbar Kompol Samsualdi menyampaikan secara singkat menyangkut tentang Sejarah Radikalisme, bagaimana paham Radikalisme berkembang ditengah-tengah masyarakat, Ciri-ciri radikalisme, dan bagaimana membentengi masyarakat agar terhindar dari paham Radikalisme.

Kompol Samsualdi memaparkan 5 (lima) cara dalam mencegah masuknya paham radikalisme ke Perguruan Tinggi yaitu pertama, ada regulasi di Perguruan Tinggi yang bernuansa bela negara/cinta tanah air/kode etik mahasiswa/surat pernyataan komitmen bersedia melaksanakan peraturan kampus termasuk komitmen kepada 4 konsensus dasar yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Kedua, adanya program pendampingan UKM/BEM dan setiap kegiatan mahasiswa oleh Dosen yang kompeten, ketiga, adanya kerjasama dengan instansi terkait pencegahan penanggulangan Radikalisme Terorisme di kampus, keempat, berikan dukungan positif untuk organisasi kemahasiswaan yang menjadi kompetitor bagi organisasi intoleran dan radikal dan terakhir yang ke lima adalah tingkatkan intensitas, kualitas dan kuantitas giat mahasiswa dalam rangka peningkatan kecintaan kepada NKRI dan 4 Konsensus dasar.

Lebih spesifik, Kompol Samsualdi mengatakan, berdasarkan penelitian dan survei menyimpulkan bahwa gerakan radikalisme ini telah masuk yang menjadi target adalah kalangan influencer (kelompok berpengaruh) yaitu profesional, birokrat, pengusaha sektor strategis, para Dai populer di media, Artis, Atlet berprestasi, tenaga pendidik dan tentunya termasuk didalamnya yang dipilih adalah mahasiswa berprestasi, artinya mahasiswa yang disiplin, baik dan cerdas. Tujuan dari para influencer menjadi target adalah mempermudah memberikan sugesti kepada orang orang disekitarnya atau masyarakat.

terdapat ciri dan tahap dalam proses menjadi radikalisme yang di bagi menjadi 3 bagian besar yaitu tahap pertama Fikrah (pemikiran) artinya klaim merasa yang paling benar, tahap kedua Amaliah artinya mempertentangkan sunnah dan tradisi masyarakat, tahap ketiga dibagi menjadi dua yaitu Harakah gerakan propaganda yaitu mempertentangkan syariat dengan negara dan Harakah gerakan ekstrem yaitu mengangkat senjata, pada terakhir ini Negara sudah dalam kondisi berbahaya, imbuh Kompol Samsualdi.

Kecenderungan mengapa mahasiswa menjadi target radikalisme adalah karena cenderung lebih kritis kepada pemerintah ( misal menyoal ketidakadilan, kesejahteraan sosial dan lain lain), berusia muda umumnya masih labil, masih dalam tahap mencari jati diri, melek teknologi dan sikap serba instan. Imbuh Kimpol Samsualdi.

Diakhir kegiatan Rektor IAIN Batusangkar Dr. Marjoni Imamora, M.Sc berharap melalui kegiatan ini terdapat tindak lanjut dan pengembangan materi agar semua civitas akademika dapat ikut berperan aktif mencegah radikalisme dan terorisme.

Hadir dalam kegiatan tersebut :
Rektor IAIN Batusangkar Dr. Marjoni Imamora, M.Sc., Kasubdit Kamsus Dit Intelkam Polda Sumbar, KOMPOL Samsualdi, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr. Ridwal Trisoni, M.Pd, Wakil Rektor II Bidang Adm Umum Perencanaan dan Keuangan, Dr. H. Eficandra, M.Ag, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Sirajul Munir, M.Pd., Dosen IAIN Batusangkar, Karyawan, Mahasiswa dan Mahasiswi IAIN Batusangkar.**

Pos terkait