BAB 2
“Turing Yang mengasikkan”
Pagi yang cerah di minggu pagi yang ceria, berdiri di tepi jalan menunggu kehadiran rekan rekan pengurus dan anggota PKK, kami yang telah berjanji akan menghabiskan liburan minggu ini secara bersama, keasikan yang membuat timbulnya rasa kebersaamaan diantara kami, suka duka dalam berorganisasi yang kami lalui membuat kami makin tegar dan semangat.
Sebelumnya rekan rekan telah memintak kepada penulis untuk pergi wisata bersama sama, namun karena kesibukan penulis membuat penulis belum bisa menyanggupi ajakan mereka.
Pada minggu ini semua impian pengurus PKK dapat terealisasikan, dibuatlah pengumuman di WA grup, yang diumumkan oleh Sekretaris PKK “Nurhayati Syantik”.
Assalamua’laikum wr wb, siang ibuk ibuk syantik, hari minggu kita turing yuk ibuk ibuk syantik, melepaskan lelah kita lagi, dengan silaturrahmi, diumumkan pada tanggal 26 mei 2021. Dijawab oleh buk Dian dengan ucapan Waalaikumsalam, Insya Allah buksek, sedangkan buk Rina hanya bertanya sudah pulang buksek dan dijawab “sudah dalam perjalanan rina”, kemudian buksek bertanya lagi ‘’ ibuk kalau jadi turing kama wak pai (kemana kita pergi), dijawab buk Dian dengan candaan “ ke Bali buksek” dibalas lagi oleh buksek “ batu limbek yan (singkarak), santiang buksek.
Banyak yang usul bisa pergi pada acara turing tersebut, ada yang minta bonceng karena tidak bisa bawa motor. Semua kami tanggapi positif, karena kami mengutamakan kebersamaan dalam berorganisasi.
Waktu berjalan haripun berganti, kembali buksek syantik memberi pengumuman di WA grup kami “ Assalamu a’laikum wr wb, pagi ibuk ibuk syantik, mengulang rencana kita turing, kemana kita turing ibuk ibuk, mintak usulannyo dong”. Ada yang menjawab pergi mandi mandi dan mengajak anggota senam untuk ikut serta dalam kegiatan turing. Namun ada perbedaan pendapat antara grup senam dan pengurus yang mana mereka meminta untuk pergi ke Alahan panjang kebun teh dan ada juga yang beranggapan tidak ikut turing karena sesuatu hal yang mereka tidak pahami, kemudian penulis memberi tanggapan atas semua persoalan yang mereka hadapi dengan memberi penjelasan di WA Grup “ Mana yang bagus saja buksek, yang penting kita menjalin silaturrahmi dengan cara seperti ini, akhirat kita cari, duniapun kita nikmati dan agama tidak memberatkan umatnya yang penting adalah niat kita”,
buksek kembali melempar jawaban kepada kawan kawan dan one menanggapi dengan jawaban “one terserah saja mana yang bagus”. Perbedaan masih berlanjut diantara yang mau ikut turing tentang lokasi yang akan ditempuh, kemudian dilanjutkan dengan membuat data siapa saja yang ikut.
Kesepakatan didapat dengan agenda acara kita mandi di mato aia paninggahan dan setelah itu baru kita mengelilingi danau dan kembali pulang kerumah masing-masing, dan yang lebih hebatnya lagi ada anggota yang lelaki yang ikut yaitu Nono dan Jamaris, menambah semaraknya acara turing ibuk ibuk ini.
Kami turing dengan memakai motor dan saling berboncengan, pada hari sebelumya buksek memberikan lagi pengumuman di WA Grup “ ibuk ibuk syantik, kita turing mengilingi danau aja ya, kumpul di rumah buk waket jam 9 (ibuk ibuk kita turing mengelilingi danau dan kita kumpul di rumah buk waket jam 9 pagi)”.
Kemudian buksek mengumumkan kembali “ ibuk ibuk syantik kita turing bawa baju ganti, kalau sempat kita mandi di mato ai paninggahan”.
Hari Minggu tanggal 30 Mei 2021, kami berkumpul dan menunggu kedatangan ibuk ibuk yang mau ikut turing, perbedaan pendapat masih berlangsung, karena masing masing kita punyo ego yang berbeda. Akhirnya perjalanan berubah arah karena mengikuti kemauan rekan yang mengatakan ada tempat yang lebih bagus untuk mandi mandi yaitu di ombilin.
Disaat keberangkatan kami telah menunggu dan ada beberapa orang lagi yang belum datang,diambil kata sepakat untuk menelpon baru mereka mengatakan kalau mereka tidak bisa ikut karena ada sesuatu hal, inilah kelemahan kita sebagai manusia sering lupa menyampaikan pesan kepada teman kalau kita tidak bisa ikut acara, sehingga teman teman yang lain tidak resah lagi menunggu kedatangannya kalau memang tidak bisa ikut.
Berangkatlah kami dengan gembira dengan izin dari pasangan masing-masing, dan mengenyampingkan semua persoalan yang terjadi menjelang keberangkatan, kami beriringan berangkat dengan memakai 4 motor yang saling berboncengan.
Ada lagi cerita yang membuat penulis sendiri tidak bisa menahan tawa, karena adanya permasalahan sejak pagi, hingga ada rekan yang lupa kalau rute telah berubah, tiba di persimpangan Sumani karena macet, maka iringan kami agak berjauhan dan penulis sendiri serta satu motor lagi terus menuju arah singkarak, sedangkan tiga motor di belakang kami mereka terus masuk kearah saningbakar.
Lama dalam perjalanan penulis heran juga kenapa rekan rekan kami tidak muncul muncul juga dan meminta buksek yang membawa motor untuk berhenti untuk menunggu rekan yang dibelakang, namun rekan yang satu motor lagi terus melaju dan tidak mengangkat telpon penulis untuk menunggu, setelah penulis menelpon jamaris, bapak itu menjawab dengan candaan kalau mereka sedang mengisi angin, kami menyangka mereka memang mengisi angin ban motor mereka, tunggu ke tunggu kenapa mereka tidak muncul juga, setelah di telpon balik rupanya mereka tiga motor, telah salah mengambil arah jalan, hingga kami tertawa dengan kesalahan yang telah kami lakukan. Diambil kesepakatan penuils dan rekan satu motor lagi yang kembali menemui mereka.
Kembali laju motor di pacu buksek Nurhayati dan Erdianti walau dengan sedikit omelan kekesalan dari mereka karena kesalahan yang telah terjadi. Saat laju motor berjalan kembali dering telpon masuk ke HP penulis dan nono menelpon, “dima anthe” penulis jawab “ menuju kearah mereka”, kemudian dijawab nono “tunggu kami disimpang karena kita akan pergi ke janjang seribu”, mendengar kata janjang seribu buksek menghentikan kendaraan motornya dan berkata “kita tunggu disini saja bukwaket, karena arah lokasi janjang seribu bisa dekat disini”. Kembali kami menunggu dengan candaan yang tentang kesalahan informasi yang telah diterima, namun setelah ditunggu beberapa saat, mereka yang kami tunggu tidak juga muncul, kembali penulis menelpon nono dan jawaban mereka membuat kami tambah tertawa dengan kerasnya, “maaf anthe kami menunggu disimpang lokasi wisata Ban seribu bukan janjang seribu”. Waktu sudah menunjukkan Jam 11 lewat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menemui mereka yang telah menunggu di warung sebelah jalan menuju lokasi ban Seribu.
Kami berkumpul dengan mereka dan bertanya kenapa sampai bisa terjadi kesalahan seperti ini, memang kejadian ini bisa membuat masing masing menahan emosi dan ada yang sebahagian melampiaskannya dan ada yang diam saja sambil tertawa. Agar tidak terjadi lagi kesalahan dalam memberikan informasi, kami membuat kesepakatan baru, kemana kita akan melanjutkan perjalanan karena waktu telah menunjukkan jam 12.00 WIB. Akhirnya muncul kata sepakat setelah shalat zuhur kami mandi di Mato ai (mata air) paninggahan dan istirahat disana dengan melihat pemandangan yang ada di Paninggahan, kami beristirahat di rumah sahabat kami yang ada disana sampai sore.
Canda tawa mewarnai perjalanan kami, dengan sambutan tuan rumah yang sangat ramah, menghilangkan keresahan dari rekan rekan penulis yang ikut turing, Turing itu bukan pekerjaan yang harus ditinggalkan dan juga tidak harus diikuti, semuanya tergantung niat kita dalam melakukan sesuatu. Kalaupun kita sudah berdiam diri dirumah, seandainya Allah mentakdirkan kita harus meninggal, itupun tidak akan bisa kita hindari, kecelakaan bisa terjadi dimana saja dengan porsi yang berbeda.
Pesan Moral yang kami dapat, dalam membuat sebuah acara, pikirkan secara mantap kemana kita harus pergi dan seandainya telah ada kata sepakat jangan diurai lagi, karena itu yang akan membuat rancu perjalanan, dan juga kepada rekan rekan yang memang tidak bisa ikut atau batal untuk pergi, cobalah untuk menelpon teman teman, hingga mereka tidak resah untuk menunggu kehadiran kita.
Minggu(30/5/21).( Helda)






