Oleh : Mega Elvianasti, M.Pd.
(Kandidat Doktor Pendidikan IPA Universitas Negeri Padang)
Paradigma yang terus melekat dalam keberhasilan suatu pembelajaran adalah ketika siswa mampu mencapai nilai tertinggi dan di atas KKM (kriteria ketuntasan minimal). Namun, ini perlu menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam pendidikan bahwa nilai tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam keberhasilan suatu pembelajaran apalagi dalam pembelajaran IPA, karena pembelajaran IPA identik dengan pembelajaran proses dan berbasis penyelidikan. Maka keberhasilan tidak bisa diukur dengan nilai saja tetapi dari serangkaian proses belajar yang dilalui siswa. Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran IPA, diantaranya : guru, siswa, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, pergaulan siswa, sarana dan prasarana yang memadai serta instrument penilaian yang dirancang oleh guru apakah sudah sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa.
Upaya yang dapat dilakukan oleh guru IPA agar siswa dapat mencapai keberhasilan dalam pembelajaran adalah dengan melakukan penelitian tindakan (action research) dan merancang instrumen yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Penelitian tindakan hendaknya dilakukan guru secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan mutu dan keberhasilan siswa dalam pembelajaran. Menurut Gorski (2015), penelitian ini dapat membantu guru dalam menganalisis efektivitas suatu metode pembelajaran dan guru dapat menemukan solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang ditemukan di kelas. Dalam penelitian tindakan terdapat 2 siklus dan langkah yang harus dilakukan oleh guru, yaitu : menyusun rencana yang fleksibel berdasarkan identifikasi masalah yang ditemui oleh guru di kelas, mencari strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui forum group discussion (FGD) atau diskusi teman sejawat dalam kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), langkah berikutnya adalah melakukan tindakan (pengamatan) untuk mengumpulkan data yang menjadi indikator dampak dari implementasi strategi yang telah direncanakan, langkah terakhir melakukan observasi yang bersifat responsif, dan melakukan refleksi yang menjadi dasar perbaikan rencana apabila siklus ke-1 belum berhasil kemudian penelitian dapat dilanjutkan ke siklus ke-2, guru melakukan analisis dibagian mana dari strategi tersebut dapat diperbaiki atau dimodifikasi. Namun, jika strategi yang diterapkan dapat menyelesaikan masalah maka penelitian dapat dilaporkan melalui forum ilmiah di tingkat sekolah, kabupaten, sampai provinsi atau melalui publikasi melalui jurnal ilmiah.
Penelitian tindakan dikatakan berhasil apabila dapat mencapai target yang telah ditentukan, contoh: penerapan model pembelajaran berbasis game untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Jika targetnya adalah motivasi belajar siswa maka dengan penggunaan model tersebut diharapkan adanya perubahan atau peningkatan motivasi siswa. Apabila target sudah tercapai dengan baik maka penelitian tindakan sudah dikatakan berhasil dan sebaliknya jika target belum tercapai maka guru harus mencari solusi alternatif model pembelajaran lain agar mencapai target yang diharapkan.
Banyak kendala yang dihadapi guru IPA dalam melakukan penelitian tindakan, diantaranya guru IPA belum mampu mengolah siklus dalam penelitian tindakan, merancang refleksi dan evaluasi serta instrumennya. Instrumen dalam penelitian tindakan disesuaikan dengan jenis penelitian, dapat berupa data kualitatif, seperti: lembar observasi (misalnya untuk menggambarkan suasana kelas), wawancara (misalnya untuk menggambarkan perasaan atau psikologis siswa) dan catatan lapangan (berguna bagi guru untuk mencatat temuan-temuan selama penelitian). Data kualitatif digunakan untuk menggambarkan/ mendeksripsikan variabel yang tidak dianalisis menggunakan angka atau perhitungan statistik. Sedangkan data kuantitatif dapat berupa hasil penilaian kognitif siswa (instrumen tes) atau frekuensi keaktifan siswa dalam bertanya dan berdiskusi. Data kuantitatif digunakan untuk menganalisis variabel dengan perhitungan statistik dan menghasilkan angka.
Problematika yang dihadapi guru IPA dalam merancang instrumen penelitian tindakan adalah kesesuaian antara instrumen dan kompetensi/ target yang ingin dicapai oleh siswa. Dalam penelitian tindakan apabila guru ingin mengukur keterampilan berpikir kritis siswa maka guru harus merancang instrumen yang HOTS (Higher Order Thingking Skills) faktanya di lapangan instrumen yang digunakan masih LOTS (Low Order Thingking Skills), hal ini tentu tidak akan sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan jika ingin mengukur keterampilan proses sains siswa maka guru harus merancang instrumen yang sesuai dengan indikator KPS atau jika guru ingin mengamati peningkatan motivasi siswa selama pembelajaran maka guru harus menggunakan instrumen lembar observasi.
Penyusunan instrumen yang baik dalam penelitian tindakan harus dilatihkan secara berkala kepada guru IPA, misalnya melalui workshop dan pelatihan dalam MGMP IPA. Guru harus selalu mengupdate strategi dan model pembelajaran yang inovatif dan kekinian sehingga dapat dijadikan solusi untuk memecahkan masalah yang ditemukan di kelas. Hal ini sejalan dengan temuan Danoebroto (2012) bahwa guru harus bisa melakukan inovasi dan berkreasi dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan dan memperbaiki proses belajar. Selain itu, pihak sekolah juga memiliki andil baik dalam memfasilitasi guru untuk mengikuti pelatihan dan mengawasi penelitian tindakan yang dilaksanakan oleh guru. Seorang guru IPA yang professional harus selalu melakukan perubahan dalam pembelajaran dan aktif dalam melakukan penelitian tindakan karena keahlian, bakat, dan kreativitas yang dimiliki oleh guru dapat membantu sepenuhnya kebutuhan siswa.**






