Oleh: Tiarma Simanjuntak, SH
-Kader GMNI
Dies Natalis ke-72 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) seharusnya menjadi ruang kontemplasi yang sakral, namun kenyataannya justru menjadi panggung yang menyesakkan. Alih-alih merayakan persatuan dan kemajuan ideologis, kita justru disuguhi tontonan perpecahan yang berlarut-larut dalam tubuh organisasi.
Perpecahan ini bukanlah hasil dari perdebatan dialektika pemikiran yang sehat, melainkan buah dari syahwat politik para petinggi organisasi yang lebih haus akan kedekatan dengan kekuasaan ketimbang setia pada garis perjuangan kaum Marhaen.
Upaya penyatuan yang sering digembar-gemborkan hingga saat ini belum terlaksana dengan baik karena ego dan kepentingan sempit individu masih diletakkan jauh di atas hakikat perkembangan organisasi.
Kondisi GMNI saat ini sedang mengalami kemunduran dalam banyak hal, terjebak pada kesalahan serupa dari masa ke masa tanpa adanya program konkret yang dihasilkan sebagai pedoman gerakan nasional.
Kita melihat arah politik GMNI yang semakin pragmatis, para pemimpin pusat cenderung memosisikan diri secara seremonial dan menjadikan organisasi sekadar alat untuk mengamankan posisi di hadapan rezim.
Fenomena impotensi ilmiah dan euforia pragmatis ini telah menjauhkan GMNI dari tugas historisnya sebagai kekuatan politik revolusioner.
Alih-alih menjadi pelopor bagi emansipasi sosial, organisasi justru berhenti sebagai komunitas sektoral mahasiswa yang sibuk dengan konflik internal. tajam harus dialamatkan pada kepemimpinan nasional yang kehilangan arah ideologis.
Struktur yang ada saat ini seringkali hanya menjadi formalitas tanpa aksi nyata, di mana pengambilan keputusan lebih didasarkan pada kemauan bebas individu kader ketimbang keterpaduan organik organisasi.
Praktik-praktik yang cenderung mengedepankan politik praktis personal telah menciptakan jurang antara pengurus pusat dengan realitas di tingkat lokal. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi komando bagi metode perjuangan justru seringkali enggan mengupayakan tuntutan historis organisasi demi mempertahankan kenyamanan personal.
Di tengah situasi ekonomi-politik Indonesia yang semakin dikuasai oleh modal asing dan kebijakan yang merugikan rakyat, GMNI seharusnya kembali ke khitah Manifesto Politiknya. Pemerintah saat ini terus mendorong liberalisasi dan deregulasi melalui berbagai paket kebijakan ekonomi yang seringkali berujung pada perampasan hak-hak agraria dan kriminalisasi terhadap petani miskin.
Dalam konteks inilah GMNI harus hadir sebagai corong pengetahuan sosialisme dan tenaga penggerak massa Marhaen. Kita tidak boleh lagi terjebak dalam sterilitas Gerakan, sebaliknya, obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen harus terus dinyalakan agar semangat Marhaenisme tetap murni dan yang tidak murni terbakar mati.
Arah politik GMNI ke depan harus didasarkan pada kesatuan teori dan praktik (praksis). Hal ini berarti setiap langkah organisasi harus berpijak pada pengetahuan ideologis Marhaenisme yang relevan dengan tuntutan zaman.
Kita membutuhkan jebol-bangun organisasi secara revolusioner untuk menyusun ulang struktur, program, dan metode perjuangan yang lebih inklusif dan progresif.
Persatuan tidak akan pernah terwujud selama para elit masih bersembunyi di balik identitas formalitas tanpa substansi ideologis. Hanya dengan membersihkan diri dari anasir-anasir karierisme dan reformisme semu, GMNI dapat kembali menjadi alat perjuangan yang efektif bagi kaum yang tertindas.
Menyongsong usia ke-72, sudah saatnya GMNI mengakhiri dualisme dan perpecahan dengan cara kembali pada dialektika organisasi yang sehat. Kepemimpinan nasional harus dipahami sebagai kesatuan tindakan dari pusat hingga lokal, bukan sekadar hirarki kekuasaan di tingkat pusat.
Kita perlu membangun kembali media propaganda sebagai ruang ekspresi pemikiran kritis untuk melawan narasi kapitalisme-imperialisme yang semakin masif. Jangan biarkan Dies Natalis ini hanya menjadi rutinitas seremonial, jadikanlah ia sebagai momentum untuk menjebol hambatan-hambatan internal dan membangun kembali kejayaan GMNI yang setia pada garis perjuangan Bung Karno. Kita menuntut persatuan yang murni, persatuan yang lahir dari kesamaan ideologi dan semangat untuk menghancurkan sistem neokolim yang masih membelenggu bangsa ini.






