TRAGEDI ORANG LAMA

Oleh: INOKI ULMA TIARA

Politik bukan museum. Ia tidak memajang jasa lama untuk dikagumi, lalu menjadi tiket gratis agar tetap masuk panggung. Politik bekerja seperti pasar siapa yang tidak laku, akan tergeser. Bukan karena dunia jahat. Tapi karena publik punya selera yang terus berubah. Nama Ujang pernah besar, itu fakta. Ia tumbuh dari organisasi, naik dari bawah, pernah duduk di pucuk pimpinan lembaga legislatif daerah di kabupaten. Pada masanya, ia kuat. Pada masanya, ia menentukan.

Masalahnya sederhana dan pahit karena masa itu sudah lewat. Dalam rekapitulasi hasil Pemilu DPRD tahun 2024, perolehan suara Ujang di Dapil nya tidak sampai 200 suara, sementara suara pemenang mendekati dua ribu suara. Ini bukan sekadar kalah, ini kalah jauh. Dan selisih sebesar itu bukan “kurang hoki”, ini lebih mirip lampu merah menyala terang dan publik sedang berpesan Ujang harusnya berhenti”

Yang miris lagi, ketika kekalahan berulang terjadi dari pemilu ke pemilu, politik harusnya menjadi cermin. Sekali kalah bisa disebut kecelakaan. Empat kali kalah (atau kalah berturut-turut) dibaca oleh publik sebagai satu kalimat pendek bahwa ujang tidak lagi dipercaya, bukan karena seseorang menjadi buruk, tapi karena politik tidak hanya hidup dimasa lalu sebagai stempel yang bisa dipakai terus-menerus.

Kalah itu normal dalam demokrasi, yang tidak normal adalah hidup dari “kekalahan”. Kekalahan jadi tragedi ketika seseorang menjadikan kekalahannya sebagai identitas, lalu mengubah politik menjadi panggung balas dendam atas kekalahannya.

Kritik harusnya menjadi kehormatan, tapi kritik juga bisa berubah menjadi barang murahan ketika ia datang dengan energi yang salah, target yang sama, dan nada yang sama dan seolah dunia selalu salah, sementara diri sendiri yang selalu benar.

Di titik itu, publik wajar bertanya ini perjuangan moral, atau ketidakmampuan menerima kenyataan. Karena ada dua jenis kritik, pertama, kritik yang lahir dari kepedulian yaitu berbasis data, menawarkan jalan keluar, dan siap diuji.

Kedua, kritik yang lahir dari barisan sakit hati yaitu pokoknya semua orang/pemerintah salah, miskin solusi, hanya asumsi, dan selalu menyisakan satu tokoh yang suci yaitu dirinya sendiri. Kritik jenis kedua biasanya tidak memperbaiki sistem. Ia hanya membuat pengkritiknya tetap terasa “penting”, ketika kritik melahirkan konflik adalah cara tercepat untuk kembali terlihat.

Dan disinilah politik memberikan penilain karena banyak “orang lama” tidak sadar ketika mereka makin bising, publik tidak selalu melihatnya sebagai keberanian. Publik sering membacanya sebagai cara mencari perhatian. Post power syndrome yaitu kata yang sering dipakai, tapi jarang mau diakui.

Istilah lain yang sering muncul dalam pembicaraan tentang tokoh yang sulit menerima “turun panggung” atau post power syndrome. Post power syndrome dijelaskan sebagai kondisi kejiwaan yang umumnya dialami orang yang kehilangan kekuasaan/jabatan/aktivitas yang dulu membuatnya aktif, sehingga muncul ketidaknyamanan dan penurunan harga diri. Penting dicatat tentang konsep ini, bukan stempel diagnosis untuk individu tertentu. Tapi konsep ini berguna untuk membaca fenomena ketika jabatan terlalu lama melekat pada seseorang dan telah menjadi identitas, sehingga kehilangan jabatan artinya kehilangan identitas dan harga diri.

Kalau publik menilai tokoh lain lebih hadir, lebih bekerja, dan lebih memberi jalan keluar maka publik akan memilih tokoh lain. Sesederhana itu, dan di sinilah orang lama sering salah paham karena mereka mengira sejarah memberi mereka “hak khusus” yaitu seolah-olah masa lalu berutang pada mereka. Tidak, Sejarah tidak berutang suara. Pengalaman tidak otomatis jadi legitimasi, dan jasa masa lalu tidak otomatis berubah jadi mandat masa depan.

Jalan keluar yang bermartabat untuk Ujang adalah menepi atau berevolusi. Ada dua cara terhormat menghadapi musim berganti. Pertama menepi dengan elegan. Menjadi elder statesman lokal yaitu membina kader muda, memberi masukan, menjadi penguat institusi tanpa harus memaksakan diri terus menjadi kandidat.

Kedua, berevolusi sungguh-sungguh. Turun ke akar rumput, membangun kerja nyata bertahun-tahun, mengganti gaya bahasa politik, memperbaiki relasi sosial, dan menerima bahwa “nama besar” tidak lagi cukup untuk keadaan hari ini. Yang memalukan adalah opsi ketiga yaitu memaksa panggung lewat keributan. Karena keributan tidak pernah mendapatkan kepercayaan. Ia hanya menggantikan kesunyian sementara kepercayaan tetap tidak kembali.

Demokrasi itu kejam dan demokrasi memang tidak selalu menghasilkan yang terbaik. Tapi ia jujur pada satu hal yaitu tentang siapa yang masih dipercaya. Dan ketika angka kepercayaan menunjukkan jarak yang sangat jauh, pesan publik seharusnya dibaca bukan dengan marah, tapi dengan tenang bahwa ada sesuatu yang harus diubah atau ada sesuatu yang harus dilepas.

Politik bukan museum. Ia tidak peduli siapa kita “dulu”. Ia hanya peduli tentang apa gunamu hari ini. Dan kebenaran paling pedas dalam politik adalah zaman tidak pernah salah, yang salah hanyalah mereka yang menolak berubah dan hidup dengan kebanggaan masa lalu.**

Pos terkait