Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

MIRIS TANPA AMPUN: PEMBANGUNAN TERKESAN PELUPA LUMBUNG PANGAN!

×

MIRIS TANPA AMPUN: PEMBANGUNAN TERKESAN PELUPA LUMBUNG PANGAN!

Sebarkan artikel ini
TAK MENUNGGU ANGGARAN PEMERINTAH, PETANI SUKARAJA RELA BERKORBAN 3 TAHUN KUMPULKAN DANA SENDIRI DEMI BANGUN JEMBATAN PENGHIDUPAN

Lampung Selatan  |  Mentrengnews. Com — 22 April 2026– Janji mulia tentang Ketahanan Pangan Nasional digembar-gemborkan di berbagai forum. Namun di Kabupaten Lampung Selatan, janji itu terasa hambar dan jauh dari kenyataan. Di Dusun 1 Sukaraja, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, terukir kisah keprihatinan sekaligus kemandirian yang seharusnya menjadi CERMINAN BURUK BAGI ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH.

Rakyat kecil yang berperan sebagai penyangga perut bangsa justru ditinggalkan berjuang seorang diri. Selama bertahun-tahun, akses satu-satunya menuju lahan pertanian mereka hanyalah jembatan bambu rapuh yang setiap musim hujan pasti hanyut diterjang banjir. Lelah menanti uluran tangan pemerintah, para petani akhirnya mengambil keputusan pahit namun mulia: Membangun masa depan pertanian mereka dengan keringat dan harta sendiri.

Selama TIGA TAHUN PENUH, mereka rela menyisihkan sisa hasil panen yang sudah pas-pasan. Satu per satu koin mereka kumpulkan hingga terkumpul dana sebesar Rp50 Juta. Inilah wujud nyata Semangat Gotong Royong yang tidak pernah mati di hati rakyat, sekaligus menjadi TAMPARAN KERAS bagi jalannya roda pemerintahan daerah.

📜 USULAN MATI DI TANGAN BIROKRASI: ALASAN YANG MENYAKITKAN HATI

Ironi terbesar dalam peristiwa ini bukan hanya karena rakyat harus berjuang sendiri. Lebih menyakitkan lagi, permohonan bantuan pembangunan sarana ini sudah diajukan SEJAK MASA PEMERINTAHAN BUPATI NANANG ERMANTO, namun selalu kandas di tengah jalan.

Menurut keterangan Operator Desa Sukaraja, upaya terakhir dilakukan pada tahun 2025 lalu melalui pengajuan ke Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Selatan. Namun jawaban yang diterima justru melukai hati para penggagas pangan:

“Usulan kami ditolak dengan alasan: Jalur tersebut bukan jalan penghubung pemukiman warga.”

Alasan administratif tersebut seolah MEMBUTAKAN MATA HATI PARA PENENTU KEBIJAKAN. Pemerintah seolah lupa bahwa di ujung jalur yang dianggap “tidak penting” itu, terbentang 200 HEKTAR LAHAN PERTANIAN PRODUKTIF. Di sanalah padi dan tanaman pangan yang menjadi sumber penghidupan sekaligus penopang ketahanan pangan daerah tumbuh subur. Bagaimana mungkin akses menuju sumber pangan dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan jalan pemukiman?

💧 SETIAP HUJAN DATANG, PETANI HIDUP DALAM KETAKUTAN

Bagi para petani seperti Eko, turunnya hujan bukan lagi berkah yang dinanti. Bagi mereka, musim hujan adalah MUSIM KEKHAWATIRAN.

“Setiap akan tiba masa panen, kami bukannya bersuka cita, malah pusing memikirkan akses jalan. Jembatan bambu kami harus diperbaiki berulang kali. Kalau banjir besar melanda, bisa sampai dua kali struktur penghubung itu hanyut terbawa arus. Kami sudah bosan berharap terus…” ungkap Eko dengan nada sendu yang menusuk kalbu.

Risiko kerugian melayang-layang di depan mata. Hasil panen yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat seringkali terhambat bahkan rusak hanya karena akses jalan yang tidak memadai. Di tengah beban berat kenaikan harga pupuk dan ketidakpastian harga gabah, petani masih harus menanggung beban biaya perbaikan akses sendiri setiap tahunnya.

📉 KEMANDIRIAN RAKYAT MENJADI BUKTI KEGAGALAN NEGARA

Terkumpulnya dana sebesar Rp50 Juta hasil patungan petani membuktikan satu hal: Rakyat punya kemauan, namun Pemerintah lalai dalam tugasnya.

Dana sebesar itu adalah hasil pengorbanan luar biasa. Uang itu bukan berasal dari kantong tebal pejabat, melainkan dikumpulkan dari sisa pendapatan keluarga petani yang penghasilannya pas-pasan. Dana tersebut pun sebenarnya MASIH SANGAT KURANG CUKUP untuk membangun jembatan beton yang layak menahan arus banjir. Namun karena tidak ada lagi harapan pada anggaran daerah, mereka memaksakan diri.

Kenyataan di Lumbung Pangan Kecamatan Palas ini menggambarkan PEMBANGUNAN YANG TIDAK BERPIHAK PADA PRODUSEN PANGAN. Selama ini pembangunan infrastruktur lebih banyak berfokus pada wilayah perkotaan dan pemukiman, sedangkan urat nadi pertanian di pinggiran desa terus terabaikan.

📢 PESAN MULIA YANG MENOHOK HATI PEMERINTAH KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Kisah keikhlasan warga Desa Sukaraja ini menyampaikan pesan tegas bagi seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan:

❓ APA ARTI GEMBAR-GEMBOR KETAHANAN PANGAN, JIKA AKSES MENUJU SAWAH SENDIRI DIPANDANG SEBAGAI URUSAN BELAKANGAN?

Para petani telah membuktikan cinta mereka pada negeri dengan terus mengolah tanah meski terabaikan. Kini giliran Pemerintah membuktikan janji mereka: Apakah pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat kecil dan penyangga pangan?

Semoga perjuangan keras warga Sukaraja ini tidak hanya berhenti di sebuah berita. Semoga hati nurani Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan tergerak. Jangan biarkan semangat kemandirian rakyat terus tumbuh karena KEGAGALAN PEMERINTAH MENJALANKAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWABNYA.

Penulis : Tim Redaksi Mentrengnews
Sumber : Wawancara Warga dan Dokumentasi Desa Sukaraja
mentrengnews.com | Suara Rakyat, Pengawas Pemerintah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *