Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

Direktur Diktis Kemenag RI: Manajemen dan Layanan Profetik Menjadi Kunci Transformasi UIN Mahmud Yunus Batusangkar Menjadi Kampus Bereputasi Global

×

Direktur Diktis Kemenag RI: Manajemen dan Layanan Profetik Menjadi Kunci Transformasi UIN Mahmud Yunus Batusangkar Menjadi Kampus Bereputasi Global

Sebarkan artikel ini

Batusangkar  |  MentrengNews. Com – “Perguruan tinggi keagamaan Islam tidak cukup hanya unggul dalam akademik dan tata kelola administrasi. Kampus harus dibangun di atas nilai-nilai profetik, sehingga setiap kebijakan, pelayanan, dan pengembangan institusi menjadi bagian dari ibadah serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat.” Penegasan tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., saat memberikan pembinaan tentang Tata Kelola Perguruan Tinggi di Kampus II Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, kamis (6/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan UIN Mahmud Yunus Batusangkar tersebut dihadiri oleh Rektor beserta Wakil Rektor, Kepala Biro UAPK, Dekan dan Direktur, Ketua Lembaga, SPI serta pejabat struktural dan fungsional. Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya penguatan tata kelola universitas menuju perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan bereputasi internasional.
Dalam paparannya, Prof. Sahiron memperkenalkan konsep “Manajemen dan Layanan Profetik”, yaitu model tata kelola perguruan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai kenabian (prophetic values).

Menurutnya, paradigma tersebut harus menjadi fondasi dalam seluruh aspek penyelenggaraan perguruan tinggi, mulai dari kepemimpinan, pelayanan akademik, administrasi, hingga pengembangan kelembagaan.

Prinsip pertama yang ditekankan adalah menjadikan setiap pekerjaan sebagai ibadah. Ia menjelaskan bahwa seluruh aktivitas sivitas akademika, baik dosen maupun tenaga kependidikan, harus dilandasi niat pengabdian kepada Allah SWT. Dengan demikian, budaya kerja yang lahir bukan sekadar mengejar target administratif, tetapi juga mengedepankan integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab moral.
Selanjutnya, Prof. Sahiron mengingatkan pentingnya compliance to law, yaitu kepatuhan terhadap seluruh regulasi dan peraturan perundang-undangan.

Menurutnya, aturan tidak boleh dipandang sebagai hambatan birokrasi, melainkan instrumen untuk menciptakan tata kelola yang tertib, akuntabel, transparan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Konsep berikutnya adalah taisīr al-umūr atau mempermudah urusan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ia menegaskan bahwa pelayanan di perguruan tinggi harus mengedepankan kemudahan, kecepatan, dan kepastian layanan tanpa mengabaikan aturan. Budaya pelayanan seperti inilah yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan tinggi.

Prof. Sahiron juga mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kepemimpinan dan pelayanan. Mengacu pada nilai-nilai dalam Surah At-Taubah ayat 128, seorang pemimpin dituntut memiliki simpati, empati, kepedulian, serta kepekaan terhadap persoalan umat. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus tercermin dalam pola pelayanan kepada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun masyarakat luas.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa setiap perguruan tinggi harus memiliki visi besar dan orientasi masa depan. Pengembangan program studi, fakultas, kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan jejaring internasional harus dirancang secara sistematis agar mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi global.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sahiron memberikan perhatian khusus terhadap agenda internasionalisasi perguruan tinggi. Ia menyampaikan bahwa Presiden Republik Indonesia menargetkan 100 ribu mahasiswa asing menempuh pendidikan di Indonesia pada tahun 2029. Oleh karena itu, seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, termasuk UIN Mahmud Yunus Batusangkar, diharapkan mengambil peran strategis dalam mewujudkan target nasional tersebut.

“UIN Mahmud Yunus Batusangkar harus mulai mempersiapkan diri menjadi kampus yang ramah bagi mahasiswa internasional. Penguatan kualitas akademik, layanan berstandar internasional, kerja sama luar negeri, hingga peningkatan kemampuan bahasa asing menjadi langkah penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” tegasnya.
Selain itu, Prof. Sahiron menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kependidikan (tendik) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi perguruan tinggi. Menurutnya, pengembangan kompetensi tendik perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai program pelatihan, baik secara daring maupun luring, termasuk penguatan kemampuan digital, bahasa asing, pelayanan internasional, serta program internship yang mampu memperluas wawasan profesional.

Sementara itu, Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Delmus Puneri Salim, S.Ag., M.A., M.Res., Ph.D., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kehadiran Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam beserta berbagai arahan strategis yang diberikan kepada sivitas akademika UIN Mahmud Yunus Batusangkar.
Menurut Rektor, konsep Manajemen dan Layanan Profetik merupakan paradigma yang sangat relevan dengan arah pengembangan UIN Mahmud Yunus Batusangkar sebagai perguruan tinggi Islam yang mengintegrasikan keunggulan akademik, tata kelola modern, dan nilai-nilai keislaman.

“Berbagai arahan yang disampaikan menjadi bekal penting bagi kami dalam memperkuat tata kelola universitas. Kami berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang profesional, adaptif, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai Islam, sekaligus mempercepat langkah menuju universitas bereputasi global,” ujar Prof. Delmus.

Kegiatan pembinaan berlangsung dalam suasana dialogis melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai masukan yang disampaikan Direktur Diktis Kementerian Agama RI diharapkan menjadi pijakan bagi UIN Mahmud Yunus Batusangkar dalam memperkuat reformasi tata kelola, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas jejaring internasional, serta mewujudkan kampus yang unggul, berdampak, dan mampu bersaing di tingkat global. (hospiburda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *