Payakumbuh | MentrengNews. Com — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kembali menjadi sorotan. Di tengah antrean kendaraan roda empat yang mengular sejak tengah malam hingga pagi hari, muncul dugaan adanya penyaluran solar kepada kendaraan tertentu sebelum jam operasional resmi SPBU dimulai.
Sorotan tersebut mengarah ke aktivitas pengawas dan petugas pompa di salah satu SPBU milik H. Edwar di kawasan Sawah Padang, Payakumbuh. Sejumlah pengendara menduga adanya praktik “melansir” solar menggunakan kendaraan tertentu menjelang SPBU mulai melayani masyarakat.
Keluhan itu mencuat karena kondisi di lapangan dinilai janggal. Masyarakat yang membutuhkan solar bersubsidi harus rela mengantre berjam-jam, bahkan sejak tengah malam. Namun, menurut informasi yang disampaikan sejumlah pengendara, pada waktu yang sama diduga ada kendaraan tertentu yang memperoleh BBM sebelum pelayanan resmi dibuka.
“Kami sudah antre dari tengah malam. Sampai pagi masih menunggu SPBU buka. Tapi kami mendapat informasi, sebelum jam operasional dimulai, ada kendaraan tertentu yang justru sudah mendapatkan solar,” ujar seorang pengendara yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurut pengakuan sejumlah pengendara, dugaan penyaluran tersebut bukan hanya terjadi sekali. Mereka menduga aktivitas serupa dilakukan berulang kali menjelang jam pelayanan SPBU.
Jika dugaan tersebut benar, persoalannya bukan sekadar soal antrean panjang. Ada pertanyaan lebih serius yang patut dijawab: siapa yang mendapat solar sebelum SPBU dibuka, berapa volumenya, dari mana sumber BBM tersebut, serta atas dasar apa penyaluran dilakukan?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena BBM bersubsidi merupakan komoditas yang mendapat pengawasan ketat. Ketika masyarakat harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan haknya, sementara ada dugaan kendaraan tertentu memperoleh BBM lebih dahulu, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakadilan sekaligus merugikan masyarakat dan negara.
Sejumlah pengendara juga mempertanyakan fungsi pengawasan di SPBU tersebut. Mereka meminta agar tidak ada pihak yang bermain dalam penyaluran BBM bersubsidi, terlebih ketika kelangkaan dan antrean panjang masih terjadi.
“Kalau memang tidak ada permainan, kami minta semuanya dibuka secara transparan. Jangan masyarakat yang sudah antre dari tengah malam justru dirugikan,” kata pengendara lainnya.
Para pengendara berharap pihak manajemen SPBU, Pertamina, serta instansi terkait segera melakukan pemeriksaan terhadap dugaan tersebut. Bila diperlukan, rekaman kamera pengawas (CCTV), catatan penjualan, data transaksi, serta aktivitas kendaraan di area SPBU sebelum jam operasional dapat diperiksa untuk memastikan apakah benar terjadi penyaluran BBM sebelum pelayanan resmi dimulai.
Hingga berita ini ditulis, dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi dan klarifikasi dari pihak SPBU serta instansi terkait. Konfirmasi dari pengelola SPBU, pengawas, dan petugas pompa sangat penting untuk memberikan penjelasan mengenai dugaan penyaluran solar sebelum jam operasional tersebut.
Masyarakat pada akhirnya hanya menginginkan satu hal: BBM bersubsidi disalurkan secara adil, transparan, dan tepat sasaran. Jangan sampai rakyat yang sudah rela mengantre sejak tengah malam justru kalah oleh kendaraan yang diduga mendapat pelayanan lebih awal. (Deeby)








