Example floating
Example floating
Example 728x250
Example 728x250
Example 728x250
Daerah

Sanggar Saweuna Sukses Gelar Festival Geulayang Tunang 2026, Rawat Tradisi dan Perkuat Perdamaian di Aceh

×

Sanggar Saweuna Sukses Gelar Festival Geulayang Tunang 2026, Rawat Tradisi dan Perkuat Perdamaian di Aceh

Sebarkan artikel ini

Aceh Besar  |  MentrengNews. Com — Sanggar Saweuna sukses menggelar Festival Geulayang Tunang 2026 di Gampong Reuleung Geulumpang, Kecamatan Kuta Malaka, Kabupaten Aceh Besar, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi permainan layang-layang khas Aceh, sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat dan menumbuhkan kreativitas generasi muda.

Mengusung tema “Dengan Semangat Juang Sultan Iskandar Muda, Mari Kita Lestarikan Budaya”, festival ini turut menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-11 Sanggar Saweuna yang berdiri sejak 10 Oktober 2015.

Ketua Sanggar Saweuna sekaligus penyelenggara kegiatan, Arif Firnandy, mengatakan festival tersebut bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang kebersamaan untuk menjaga warisan budaya Aceh agar tetap dikenal dan diminati generasi muda.

Menurutnya, geulayang tunang merupakan tradisi yang dahulu kerap dimainkan para pemuda setelah musim panen. Hamparan sawah yang telah kosong menjadi tempat berkumpul, menerbangkan layang-layang, sekaligus mempererat hubungan sosial antarmasyarakat. Namun, tradisi tersebut kini semakin jarang dijumpai seiring perubahan pola hiburan dan perkembangan teknologi digital.

“Melalui festival ini, kita ingin menghidupkan kembali tradisi geulayang tunang yang menjadi bagian dari budaya Aceh. Kita berharap generasi muda kembali mencintai budaya sendiri, mengembangkan kreativitas, dan menjadikan kegiatan positif seperti ini sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan,” ujar Arif.

Ia menambahkan, kegiatan budaya juga memiliki peran penting dalam merawat perdamaian, membangun solidaritas, dan mengarahkan generasi muda pada aktivitas yang bermanfaat. Dengan demikian, pemuda diharapkan mampu menjauhi narkoba serta tumbuh menjadi generasi yang kreatif, berkarakter, dan bertanggung jawab.

Arif juga berharap semangat yang diangkat dalam festival tersebut dapat menjadi inspirasi untuk mengenang kejayaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, ketika Aceh dikenal sebagai salah satu kerajaan besar dan berpengaruh di dunia.

“Semangat kejayaan masa lalu harus menjadi motivasi bagi kita untuk membangun Aceh yang lebih sejahtera, makmur, beradab, dan damai. Salah satu langkahnya adalah menjaga budaya, memperkuat persatuan, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, panitia menyelenggarakan dua kategori perlombaan, yakni Lomba Geulayang Tunang dan Lomba Layang Hias. Pada kategori geulayang tunang, peserta diwajibkan menggunakan benang sepanjang 350 meter, dengan layang-layang berwarna merah, kuning, atau hijau serta memuat gambar atau logo Alam Peudeung, sesuai ketentuan panitia.

Pada kategori Lomba Geulayang Tunang, juara pertama diraih Muhammad Yuni dari Ule Ue, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Juara kedua diraih Rahmat Danil dari Gampong Reuleung Geulumpang, Kecamatan Kuta Malaka, sedangkan juara ketiga diraih Grup Peng Bicah dari Weubada, Kecamatan Montasik.

Sementara itu, pada kategori Lomba Layang Hias, Haikal dari Gampong Reuleung Geulumpang berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua diraih Dely Rifki dari Lambaro Samahani, Kecamatan Kuta Malaka, dan juara ketiga diraih Grup Peng Bicah dari Weubada, Kecamatan Montasik. Panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp500.000 untuk kategori layang hias.

Penilaian perlombaan dilakukan oleh tiga orang juri, yakni Mukhlis, Munazar, dan Adli, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan panitia untuk masing-masing kategori. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mendorong kreativitas peserta sekaligus memperluas pengenalan tradisi geulayang tunang melalui media digital.

Melalui Festival Geulayang Tunang 2026, Sanggar Saweuna berharap tradisi permainan rakyat Aceh tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan masyarakat, penguatan persaudaraan, serta kontribusi nyata dalam menjaga perdamaian dan membangun masa depan Aceh yang lebih baik. (Rizki M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daerah

Sragi, Lampung Selatan  |  MentrengNews. Com – Menindaklanjuti berita…