Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 15

Bacaan Lainnya

“BERJUMPA KETIKA WISUDA”

Jambul toga Wisuda sudah dipindahkan, Ijazah sudah di tangan.
Namun ada suatu kejadian kecil yang penulis hadapi menjelang berjalan menuju tempat pemindahan jambul toga dan serah terima Ijazah. Salah sati atribut pakaian Wisuda adalah:”Salempang”. Salempang itu yang tidak ada di badan penulis. Mungkin jatuh?. Dilihat ke kiri tidak ada. Dilihat ke kanan juga tidak ada. Dilihat kebelakang juga tidak ada. Berarti salempang terjatuh saat masih berada diluar ruangan dalam keramaian. Salempang itu tidak akan mungkin lagi dicari karena suasana tidak memungkinkan. Perasaan dan pikiran sedikit gelisah, karena penulis sudah berdiri mau jalan menuju tempat pemindahan jambul. Saat seperti itu, terlintaslah dalam pikiran penulis:“SEPERTI PERMASALAHAN DAN PERJUANGAN BELUM SELESAI”.

Dalam pelaksanaan Wisuda, kita berjalan bergiliran sesuai dengan barisan. Mana yang telah siap, maka kembali ke tempat duduk masing-masing. Dalam suasana kritis seperti itu, timbulah pemikiran penulis untuk meminjam salempang kawan yang baru selesai. Penulis buka salempang kawan, lalu penulis pasang sambil berjalan. Akhirnya selesai juga satu permasalahan di detik-detik yang sangat genting.

Berfikir harus! Panik jangan!.
Wisuda selesai, Semua kawan-kawan telah mencari-cari yang kadang-kadang tidak tau siapa dan apa yang dicarinya. Siapa yang kenal, maka saling mengucapkan selamat. Berphoto-photo, Ada yang memoto dan ada yang diphoto. Berphoto bersama teman-teman dan sudah dipastikan juga bersama keluarga, serta tidak ketinggalan berphoto bersama/didampingi PW bagi yang sedang punya PW.

Sebagian kawan mungkintelah punya PW dan masih banyak yang belum punya PW termasuk penulis sendiri. Namun demikian, ada suatu cerita di saat itu.

Cerita saat itu, rasanya agak berat hati penulis meyampaikannya, namun untuk melengkapi sedikit dari perjalanan ini perlu juga penulis kutip.

“Ketika duduk santai di tras gedung perkuliahan, datang seorang perempuan menyapa dan mengucapkan selamat kepada penulis. Ucapan selamat itu, penulis jawab dengan ucapan terima kasih. Siapakan wanita tersebut? Penulis rasanya tidak kenal. Cerita punya cerita, dia lah yang kenal sama penulis. Karena dia punya hubungan kekeluargaan dengan Uni Ren yang sama mengajar di Masjid Muttaqin Simpang Haru dulu. Di waktu itu, dia pernah bertemu dengan penulis. Dia masih ingat, sedangkan penulis sudah lupa.

Berawal dari pertemuan itu, komunikasi kami tetap jalan. Penulis telah selesai kuliah, sedangkan dia masih kulian di AMIK lubuk Bagalung ( UPI sekarang). Sekian bulan perkenalan, penulis bertemu dengan amak/ibunya di tempat kosnya. Saling bercerita, saling bertukar informasi termasuk kampung halaman masing-masing. Kampung penulis di Paninggahan, sedangkan kampung amak ini di Palambayan Bukittingg.

Melihat dan memperhatikan dari sikap amak teman ini, sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa beliau keberatan kalau penulis berteman dengan anak beliau. Beliau tidak banyak bicara dan beliau baik. Untuk membuktikan tanggapan dari amak tersebut, maka penulis bertanya langsung kepada teman penulis. Jawabannya: “ Amak sedang dan suka dengan penulis”.

Silaturrahmi dan komunikasi sudah berjalan sekian bulan. Pada suatu ketika, penulis juga jujur dan terbuka bicara kepada Apak dan amak di kampung. Beliau sering menyampaikan informasi bahwa si A. Si B telah menikah. Orang yang kecil dari penulis pun telah punya anak. Bagaimana dengan penulis?. Berdasarkan ini, penulis menyampaikan kepada kedua orang tua bahwa penulis punya teman di Padang, Nama ini, kampung di sana, pekerjaannya sekarang masih ini.

Amak penulis hanya menanggapi bahwa si A ada yang bertanya dan si B juga ada yang datang tentang penulis. “Prinsipnya, amak tidak keberatan dengan siapapun calon minantu amak. Namun, kalau boleh amak meminta;……”. Itulah kalimat amak.

Akhir kisah dengan teman penulis yang bernama “M.E” ini, Kami becara bertemu dan bicara baik-baik di rumah Kos nya. Alhasil; Dia melanjutkan kuliahnya di AMIK sedangkan penulis pergi menuruti kaki yang akan dan sedang melangkah. Sampai sekarang kami tidak pernah berkomunikasi apalagi berjumpa lagi.

“APAPUN DAN SIAPAPUN KITA, HATI DAN PIKIRAN ORANG TUA HARUS MENJADI PERTIMBANGAN”.
“KATA-KATA AMAK YANG BEGITU BANYAK, SAMPAI SEKARANG MASIH ADA DALAM INGATAN PENULIS”.

‘BILA ADA ORANG YANG MENYEBUT TENTANG AMAK, TANPA SENGAJA, PENULIS TERMENUNG DAN TERINGAT SEMUANYA TENTANG BELIAU, TANPA DISADARI..MATA BERLINANG. TIDAK ADA GORESAN DI HATI KECUALI RASA PENUH KASIH SAYANG YANG BELIAU BERIKAN”.

Bulan Seprember 2007, kuliah tamat. Pertengahan tahun 2008, penulis harus pulang kampung. Lebih kurang, satu tahun penulis berada di Padang setelah tamat kuliah. Pekerjaan sebagai karyawan toko masih penulis lanjutkan. Tempat tinggal masih di Masjid Nurul Ulya. Sesekali, kampung halaman dilihat dan dikunjungi juga. Sehari, dua hari di kampung kembali lagi ke Padang.

Menjadi seorang Sarjana, memang ada rasa bangga. Namun perlu juga diketahui, Menyandang titel sarjana juga menjadi beban. “Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi kalau kehidupan akan bertani juga di kampung, menganggur dan tidak punya pekerjaan. Uang habis, waktu habis, tenaga habis, bahkan ini dan itu sudah terjual dan tergadaikan. Hasilnya apa??”. Inilah kalimat-kalimat yang tidak asing didengar.

Bertahan sekuat kemampuan berada dan berusaha di Padang tetap lakukan. Ingin melanjutkan kuliah, melamar S.2 pernah dicoba. Tes sudah pernah penulis lalui. Karena biaya pribadi, penulis mundur lagi.

Mencari informasi dan memasukan lamaran untuk menjadi Pegawai Negeri ( Hakim pada MA ) telah dicoba, namun belum berhasi. Di coba lagi melamar menjadi TNI karena sudah ada sedikit pengalaman menjadi Resimen Mahasiswa, akhirnya gagal lagi. Mau tak mau, menjadi karwawan di souvenir Silungkang tetap dijalani sebagaimana biasanya.

Pertengahan tahun 2008, penulis mau tak mau juga harus pulang ke kampung. Penulis mendapat tawaran pekerjaan yang tidak singkrong/sejalan dengan jurusan kuliah dulu. Jurusan penulis adalah Peradilan Agama.

Bersambung……………

Pos terkait