Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

Pertama Dalam Sejarah Pengibaran Sang Merah Putih Secara Adat Minangkabau

×

Pertama Dalam Sejarah Pengibaran Sang Merah Putih Secara Adat Minangkabau

Sebarkan artikel ini

Mentreng.com | Kota Solok – Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, belum pernah diketahui bahwa dilaksanakannya upacara bendera secara adat Minangkabau khususnya di provinsi Sumatera Barat sebagai peringatan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti yang di laksanakan oleh Ninik Mamak Nagari Taluak, Kelurahan Laing, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, yang di hadiri oleh perwakilan para Pemangku Adat Minangkabau dalam wilayah Langgam Nan Tujuh Lareh Koto Piliang, Ujar Haji Amran Datuk Rajo Lelo selaku Ketua KAN Taluak kepada wartawan. Selasa, 17/08/2021.

Ketua KAN menambahkan bahwa kegiatan ini dapat menjadi contoh dan pertama dalam sejarah Indonesia Merdeka, bisa terlaksananya kegiatan ini dengan sangat sederhana, berkat kerjasama masyarakat kelurahan Laing dengan Limbago Mahkamah Adat Alam Minangkabau (MAAM) yang membina dan mengarahkan kami ujar Haji Amran.

Upacara bendera secara adat koto Piliang dilaksanakan di Balerong Medan Bapaneh Gajah Tongga, dipimpin langsung oleh Tengku Irwansyah Angku Datuk Katumangguangan selaku Pucuk Bulek Alam Minangkabau, selaku Pembina Upacara, dan Yasril Datuk Ampanglimo selaku Inspektur Upacara, namun keunikan dalam prosesi upacara, di awali dengan acara adat koto Piliang dan berbahasa Minangkabau, seperti petatah petitih adat, dilanjutkan pengibaran bendera merah putih, mengheningkan cipta, pembacaan Undang-undang Dasar 1945, pembacaan teks Pancasila, Ikrar Cinta NKRI yang dibacakan langsung oleh J Datuk Prapatie Nan Sabatang selaku Urek Tunggang Alam Minangkabau, kemudian ditutup doa oleh T.A Datuk Rajo Bangkeh yang juga sekretaris jenderal MPT MAAM.

Peserta sangat dibatasi oleh panitia pelaksana, dikarenakan menghormati surat edaran gubernur dan instruksi Polda Sumbar yang melarang melakukan kegiatan-kegiatan kebudayaan dan keramaian 17 an, seperti yang disampaikan Kasat Intelkam Polresta Solok, Iptu Jufrinaldi,SH kepada ketua panitia pelaksana Y Datuk Datuk Ampanglimo, namun tidak mengurangi makna intisari bersejarah ini ujar ketua.

Dalam Pituah Pucuk Bulek Alam Minangkabau, Tengku Irwansyah Angku Datuk Katumangguangan, menyampaikan rasa terimakasih kepada masyarakat kaum adat Lareh Koto Piliang, khususnya nagari Taluak yang merupakan tapatan sipangka dalam adat silungkang Padang sibusuak Gajah Tongga Piliang, dan mengingatkan tetap waspada menjaga Protokol Kesehatan (Prokes), apabila ada yang terpapar Corona, kalau tidak parah maka sebaiknya isolasi mandiri saja, daripada masuk rumah sakit sendiri dan sampai selesai tidak bisa ditemani. Namun pada intinya bahwa upacara bendera secara adat ini merupakan penegasan bahwa Minangkabau cinta NKRI, tidak ada lagi alasan untuk meragukan kecintaan masyarakat adat terhadap Indonesia, dimulai sejak perjuangan kemerdekaan, sampai kiamat yang Minangkabau tetap NKRI, dan sekarang sudah final, tetapi sebagai warga negara, Orang Minang sudah sangat banyak berkontribusi terhadap negara.

Salah satunya dengan cara berkompetisi di berbagai bidang, seperti menjadi Kapolri atau panglima TNI, karena sejak merdeka, atau pasca peristiwa PRRI, sangat sulit Orang Minang bisa mendapatkan Jendral Bintang Empat. Sehingga wajar saja stetmen Megawati beberapa waktu lalu mempertanyakan eksistensi orang Sumbar, namun sebagai Orang Minang Megawati sangat perhatian ke Sumbar,

Sehingga tidak tertutup kemungkinan, Megawati secara adat Minangkabau dari garis keturunan ibunya adalah Orang Minang asal Bengkulu, maka pertanyaan tokoh Minang tersebut di jadikan cambuk, agar dimasa datang, orang Minang bisa menjadi pucuk pimpinan negara seperti Megawati dan puan Maharani, orang Jawa asli Minang, terang Angku mengakhiri.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *