Kantor Kementerian Agama Kota Solok (Romantika Story dan History)

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, M.H.

Bacaan Lainnya

“BUDIMAN ENGGAN MASUK ISTANA”

Hari menunjukan pukul 22.59. WIB. Jam segini, menurut sebagian orang bahwa hari telah larut malam dan telah tertidur pulas. Namun bagi sebagian lainnya, jam 11 kurang 1 minit masih belum larut malam karena meraka sedang asyik beraktifitas sesuai dengan profesi mereka masing-masing. Bagi pegawai yang harus berangkat subuh atau pagi hari, jam segini sudah terlambat tidur. Bagi pedagang yang menyiapkan barang dagangannya pada sore hari, jam 22.59. WIB masih terasa senja karena mereka biasa menutup barang dagangan mereka menjelang subuh datang. Di tengah malam sampai menjelang subuh, mereka masih berharap agar ada orang yang membeli dagangan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apakah mereka tidak mau berdagang di siang hari sebagaimana orang lain yang bisa istirahat di malam hari? Rasanya..meraka tentu mau, namun keadaan merakalah yang menuntut bahwa mereka harus mencari hidup pada malam hari. Udara dingin mereka rasakan tetapi tidak terlalu mereka hiraukan. Pada siang harinya, mereka maafaatkan untuk istirahat.

Inilah romantika hidup dan kehidupan!. Siang menjadi malam, malam menjadi siang.

Berbagai macam profesi dan pekerjaan orang dalam kehidupan di dunia ini. Mereka menentukan pilihan sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan cara pandang mereka. Selain dari itu, tentu tidak terlepas dari takdir ILLAHI yang menentukan.

Seeorang yang memiliki bakat dan minat untuk menjadi pegawai, baik di diperusahaan maupun di pemerintahan, mereka berusaha sekuat kemampuan untuk mencapai dan menggapainya. Berharap untuk menjadi seorang Pegagai Negeri Sipil, mereka rela dan betah untuk honor belasan bahkan pulhan tahun. Mereka tidak pernah mengenal lelah dan bosan untuk mencari informasi formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan untuk bisa mengikuti dan lulus ujian sehingga mereka menjadi salah seorang pegawai pemerintah. Tempat yang jauh, jalan berliku yang dikelilingi jurang, gunung yang tinggi, lautan yang terbentang luaspun mereka lalui demi mengharapkan untuk diterima sebagai pegawai. Akhirnya nasib juga yang menentukan, ada yang diterima dan ada yang tidak.

Kenapa mereka begitu keras untuk masuk pegawai pemerintahan? Mungkin alasannya ekonomi di hari tua terjamin atau kerja tidak terlalu berat, ditambah lagi dengan iming-iming gaji mencukupi untuk kebutuhan hidup dan berbagai alasan lainnya miskipun mereka mendengar istilah “Umur panjang rezki ditentukan”. Kadang-kadang, begitu keras dan kuatnya kemuauan menjadi pegawai pemerintah, uang puluhan juta, sawah digadaikan, emas yang telah terkumpul dijual lalu diberikan untuk menyogok demi sehelai kertas yang berbentuk SK. Setelah SK di tangan, tampak lagi jabatan yang akan diincar, maka yang tidak ada diadakan, dan ada ditiadakan.

Sebaliknya, tidak sedikit juga orang yang tidak mau seperti orang yang punya kemuan keras untuk menjadi pegawai pemerintah. Meraka pintar, mereka punya keahlian, dan mereka punya keterampilan, namun tidak punya kemauan untuk masuk ke dunia pemerintahan. Mereka mau hidup mandiri, berdikari, wirausaha, wiraswasta, bertani, berdagang dan lain sebagainya. Mereka sarjana? Iya. Mereka punya Ijazah? Iya. Mereka pinta? Iya. Namun gelar sarjana dan ijazah yang di tangan mereka, mereka simpan. Jangankan untuk berkeluh kesah dan pergi ke sinan kemari untuk melamar menjadi pewagai pemerintah, dimintapun mereka tolak, ditawarkan mereka mengelak. Mereka enggan walau telah diminta, tentu mereka punya pikiran dan alasan pula. Sebagaimana sebuah kisah antara seorang Raja dengan seorang Budiman.

Baginda raja mendengar nama seorang Budiman. Budiman ini adalah seorang hukama, tinggi paradabannya dan luas akal budinya. Budiman ini termasyhur ke mana-mana. Raja mendengar kemasyhuran Budiman ini lalu menyuruh panggil untuk menghadap Baginda Raja. Baginda Raja adalah seorang yang bijaksana, suka berkumpul dengan orang berbudi di dalam mejelisnya.

Setelah Budiman itu hadir dihadapan Raja, lalu Bagnda Raja bertanya kepada Budiman; “Wahai Budiman yang masyhur, yang berfikir tinggi dan berakal cerdas, yang beradab dan berpengalaman luas serta ilmu yang meliputi seluruh tubuh, yang tahu menimbang manfaat dan mudharat, yang berfikir sebelum bekerja. Kenapa Tuan menjauhkan diri dari kami?, sementara apa yang ada pada Tuan hendak kami ambil dan buahnya hendak kami petik. Apa sebabnya Tuan keberatan mendekati kami? Hendaklah Tuan iringi dengan kata hikmahmu yang dalam, buah hasil akalmu yang laksana lautan yang sukar diajuk.

Budiman menjawab;”Bagianda Raja telah membuka pintu keizinan kepada manusia supaya mendekat, dan terhadap diri saya sendiri Baginda telah menyediakan tempat tersendiri, diluaskan hamparan tempat duduk, dilapangkan medan temat tegak. Tetapi semua kesempatan itu saya abaikan dan pemberian Baginda saya lengahkan. Saya cukupkan saja keadaan yang serba kekurangan, tidak mengharapkan yang banyak, saya menjauh dari pangkat tinggi dan enggan masuk pintu kemulyaan yang sedang terbuka. Sebabnya saya berbuat demikian adalah karena saya telah timbang bahwa dengan berbuat demikian akan lebih sentosalah hati dan akan lebih amanlah jiwa saya. Saya tidak usah syak wasangka kepada orang lain di dalam keadaan saya sekarang. Tidak ada orang lain yang saya benci, dan tidak pula saya raguakan disakiti orang. Sudah barang maklum bahwa di dalam mencari pangkat dan jabatan tinggi serta berdekatan dengan Baginda Raja itu banyak sekali orang berebut dan tamak. Yang seorang hendak lebih daripada yang lain, pantang kelintasan dan didahului, sehingga tumbuh dan berkembanglah hasad dengki lantaran hawa nafsu. Semuanya hendak bertambah pangkat, naik jabatan dan bertambah harta sehingga tidak segan menjegal dan menjatuhkan orang lain bahkan kawan sendiri. Untuk menyenangkan hati Raja, mereka perlihatkan yang bagus-bagusnya saja, yang buruknya mereka sembunyikan. Meraka dinding mata raja dari hakikatnya. Tertutuplah kebenarannya lantaran harta dan jabatan.

Kalau raja yang bijak, insyaf dan tahu kecurangan mereka, tentu bagnda raja akan mengambil sikap yang keras. Orang itu akan baginda usir, bagida hapus jejaknya dari istana sehingga mereka kembali kepada orang banyak, lebih hina daripada dahulunya. Sekiranya raja itu hanya raja karena pangkat, jabatan dan turunan, lemah hati dan budinya, didengarnya orang yang pandai mengambil muka, pandai menyusun kata dan bahasa, pandai mangambil perhatian raja, pandai memenuhi keinganan raja, pandai mencarikan kesukaan raja, pandai memuji dan menyanjung raja, maka bersihlah istana dari orang yang ikhlas. Itulah sebabnya saya menjauhkan diri. Karena berjuah diri, itulah yang lebih selamat dan membuat jiwaku tenang.

Pipatah, “Tamak akan harta adalah pintu kebinasaan jiwa. Tamak akan harta adalah menyuburkan tipuan dan menanggalkan baju budi bahasa”. (Buya Hamka).

Keingianan untuk mendapatkan dan mencapai yang lebih dalam hal harta, pangkat dan jabatan merupakan suatu hal yang manusiawi. Kita memang disuruh untuk terus berusaha. Namun mencapai dan mendapatkannya, sebagian orang tidak pedulikan caranya, sikat sikut kiri kanan, teman sejawat dipijakkan, lampu kita dihidupkan sedangkan lampu kawan dimatikan. Kita mendapat, orang kehilangan. Iri menyelimuti; merasa tidak senang kepada yang mendapatkan nkmat. Dengki menghiasi hati; selain tidak merasa senang dengan apa yang diperoleh orang dan juga berusaha menghilangkan nikmat nikmat tersebut.

Berusaha dan berdoa adalah keharusan. Takdir Illahi yang mengakhiri.
“KALAU TUAH ADO DI BADAN, KASIAK DI TANGAN BISA MANJADI INTAN”

Pos terkait