Oleh : DARMIWANDI, S.Ag, MH.
“ORANG KAMPUNG BUKAN KAMPUNGAN”
Perutku terasa lapar lagi, miskipin aku telah sarapan pagi dua jam lalu. Aku minta tolong supaya uni kedai mengantarkan sepiring lontong untukku. Hanya bebarapa minit menunggu, lontong telah terletak di atas menja kerjaku. Di atas meja kerja, bukan hanya sepring lontong, tetapi juga ada sebuah asbak rokok, sebungkus tisu, segelas air putih, sebuah map yang berikan kertas/surat-surat masuk yang harus aku tindaklanjuti dan sebuah laptop yang sedang terbuka, karena aku sedang mengetik beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.
Makan lontong Adhi? Tawaranku kepada salah seorang kawan se kantor yang sedang duduk didapanku. ” Lanjutlah pak!, aku baru siap sarapan pagi”, jawab Adhi sambil menghisap rokok dan mengotak atik handphonnya.
Aku sedang makan lontong, datanglah teman-teman lain seperti Irawadi Uska, Darustam dan Edi Firman. Lontong aku makan, cerita dan candapun mulai terbuka. Darimana mulai dan siapa yang memulai, sulit dipastikan. Yang pasti adalah bercerita dan bercanda. Ada cerita orang yang diceritakan dan ada pula cerita kita masing-masing diceritakan. Contohnya saja; Irawadi Uska menceritakan kepada kami cerita bapak H. Alizar. Bapak H. Alizar adalah salah seorang Plt. Kankemenag Kota Solok sebelum dilantiknya Bapak. H. Eri Iswandi menjadi Kepala Kankemenag Kota Solok.
Apakah hanya cerita Bapak H. Alizar yang kami ceritakan? Tidak!. Tetapi kami juga menceritakan cerita Bapak. H. M. Nasir, Bapak. H. Kamaruzzaman, Bapak H. Burhanuddin Chatib, Bapak H. Eri Iswandi dan para senior kami lainnya. Satu hal perlu digarisbawahi saat menceritakan cerita para senior di atas adalah mengetahui dan memahami karakter masing-masing pimpinan serta mengambil nilai-nilai positif yang pernah beliau tinggalkan. Ilmu dan pengalaman para senior perlu digali dan dipahami, agar kita yang masih kecil/sedikit pengalaman bisa meniru peninggalan terbaik dari mereka. Cerita-cerita beliau ternyata bahan positif bagi orang yang ditinggalkan secara kedinasan. Selain kami menceritakan cerita orang lain, kamipun menceritakan cerita kami masing-masing.
Bapak Irawadi uska bercerita, yang beliau ceritakan adalah cerita Bapak H. Alizar. “Saya mengajar di sebuah Pondok Pesantren Thawalib Padang Panjang. Waktu itu para siswa sedang ujian. Seluruh siswa diwajibkan berpakaian seragam, baju putih celana hitam. Seorang siswa laki-laki yang bernama Ahmad dan postur badannya hampir sama dengan salah seorang pengawas ujian tidak berpakaian seragam. Siswa itu memakai celana warna biru dongker. Pengawas ujian yang bernama Akbar bertanya; Kenapa kamu tidak berpakaian seragam?. Celana hitam saya tidak ada pak!, jawab siswa tersebut. Pengawas berkata lagi;”Kalau begitu kamu tidak boleh mengikuti ujian sebelum kamu menukar celana kamu dengan warna hitam. Sekarang kamu dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan dan berusahalah untuk menukar celana kamu demi keadilan dan keseraman kita semua. Kalau kamu dibiarkan tidak berpakaian melanggar aturan ujian, tentu teman-teman kamu yang lainnya akan komplen dan juga akan melanggar juga dengan alasan mereka masing-masing. Kalau ini terjadi, maka suasana ujian kita tidak berjalan dengan aman dan baik. Oleh sebab itu, kamu tukar celana kamu dulu ya?. Iya pak!. Saya akan tukar pak, terima kasih banyak atas saran dan penjelasan bapak yang logis pak.
Sepertinya Bapak Akbar ini adalah seorang guru yang berpengalaman dan berwawasan tinggi. Beliau orang bijak dalam menyelesaikan permasalahan di sekolah. Dengan bahasa beliau yang sopan dan menyejukan hati, seorang siswa yang bernama Ahmad bisa lunak menerima perintah beliau. Biasanya si Ahmad ini sering melanggar dan membantah setiap diberi peringatan apalagi disuruh pulang. Namun pada hari itu, si Ahmad dengan perasaan segan dan sopannya, dia minta izin keluar untuk menukar pakaiannya.
Ahmad meninggalkan ruangan kelas sambil menuju ke subuah rumah yang tidak jauh dari lokasi sekolah. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Pintu rumah di buka oleh seorang Ibuk. Ahmad berkata; “Buk, Bapak minta celana hitam”. Tanpa berfikir dan bertanya, ibuk langsung mengambilkan celana hitam dan menyerahkan kepada si Ahmad. Ibuk tahu bahwa si Ahmad adalah siswa dari suaminya.
Setelah celana didapat, si Ahmad langsung pergi ke kamar mandi untuk menukar celana biru dengan celana hitam dan seterusnya menuju ruangan ujian.
“Permisi pak, izin melantkan ujian saya”, kata Ahmad. Silahkan! Jawab pak Akbar.
Bapak Akbar adalah seorang pengawas yang benar-benar mengawasi jalannya ujian. Beliau berdiri dari tempat duduk beliau dan berjalan-jalan di dalam ruangan sambil bertanya, kalau ada soal ujian yang tidak jelas dan salah. Selain itu, juga melihat-lihat kalau ada di antara siswa yang melihat “jimat”. Dalam mengawasi tersebut, Bapak Akbar agak lama berdiri di samping Ahmad yang sedang tekun dan serius menyelesaikan ujian. Satu persatu, soal ujian dijawab oleh Ahmad. Soal pilihan selesai, soal esai pun sudah hampir siap. Tulisan bahasa Arabnya bagus dan jelas dibaca. Ternyata, Ahmad ini bukan siswa biasa tetapi termasuk siswa pintar miskipun gayanya biasa-baisa saja.
Pak Akbar mengangguk-anggukan kepalanya melihat Ahmad sedang ujian. Tetapi hati dan pikiran pak Akbar tersentak melihat celana hitam yang dipakai oleh Ahmad. Pak Ahmad bertanya-tanya dalam hati, sepertinya celana yang dipakai si Ahmad ini sama persis dengan celana saya?. Untuk menghilangkan keraguan dalam pikiran pak Akbar, beliau bertanya dengan suara rendah kepada Ahmad.
“Mad, ini celana siapa yang kamu pakai? Tanya pak Akbar. Saya tidak tahu persis pak, tapi…setelah Bapak menyurus saya keluar untuk menukar celana, saya pergi ke rumah Bapak dan saya minta celana hitam kepada ibuk. Lalu ibuk menyerahkannya kepada saya. Lalu saya pakai pak”. Jawab si Amad.
Bagaimanakah reaksi dari Bapak Akbar? Ahamd dan Akbr adalah nama samaran, dan ini cerita yang diceritakan.
Selain cerita yang diceiratakan, ada lagi cerita berdasarkan pengalaman hidup, sebagiamana cerita seorang teman yang namanya H. Tarmizi Malin Rajo Sampono. Dengan ekspresi wajah yang penuh semangat dan sesekali diiringi dengan rasa prihatin, Beliau berceita; “Kampung asal saya dari Simanau kecamatan Tigo lurah. Kecamatan Tigo lurah adalah salah satu kecamatan pemekaran di Kabuoaten Solok. Nagari Simanau termasuk Kecamatan Payung Sekaki dahulunya.
Saya sering berjalan kaki menuju Sirukam. Jarak antara Nagari Simanau dengan Sirukam lebih kurang 30 KM. Penulis bertanya; Kira-kira berapa minit berjalan kaki dari Simanau menuju Sirukam pak.Ji?”. Beliau tersentak dan menjawab;” Sekadar pak Wandi Ketahui, saya berangkat dari Simanau jam 8 pagi dan sampai di Sirukam kira-kira jam 4 sore”. Penulis bertanya lagi;” berantikan pak.
Tarmizi berjalan sendirian atau bersama orang lain?. Beliau menjawab;” Saya berangkat dengan orang kampung lainnya. Ada di antara mereka yang membawa kuda beban, yang membawa barang-barang yang akan mereka jual ke solok. Dalam perjalanan, kami sering melihat binatang liar rimba di jalan bahkan kami sering mendengar suara Harimau. Perlu kita katahui bahwa pada prinsipnya binatang itu takut dengan orang. Binatang berani kalau dia sudah terdesak”.
Perjalanan yang sangat lama dan melelahkan itu, kadang membuat kaki saya bengkak. Bila hujan, kami terpaksa basah-basah sampai bertemu tempat perhentian. Sekedar pak Wandi ketahui, saya baru tahu bentuk dan apa itu mobil setelah saya kelas 3 SD. Saya sangat tercengang melihat mobil. Begitulah keterbelakangan kami di kampung yang jauh dari perkotaan atau dari masyarakat ramai. Kalaupun ada di antara masyarakat yang punya honda, honda sangat sederhana. Bila terjadi kebocoran ban dalam perjalanan, maka daun ilalang yang dimasukan ke dalam ban honda tersebut karena tidak ada tambal ban di pinggir jalan. Yang penting bagi kami adalah sampai miskipun jalan honda meng-enggak-enggak karena anginnya adalah daun ilalang.
Menurut sejarah, nenek-kakek kami berasal dari Sijunjung. Pabalah kami masih banyak di sana. Bila ada acara adat dan agama, kami di undang dan mengundang sanak saudara kami yang di Sijunjung.
Melihat dan memperhatikan keadaan kampung kami yang memprihatinkan, saya punya niat untuk melanjutkan terus pendidikan saya. Tamat SD saya melanjutkan pendidkan ke MTsN Solok. Tamat dari MTsN Solok, saya melanjutkan pendidikan ke Thawalib Padang Panjang. Sementara teman-teman saya yang lain, banyak melanjutkan pendidikan ke Jaho Padang Panjang. Alhamdulillah, berkat usaha dan do’a, saya sampai menamatkan Perguruan Tinggi dan menjadi Sarjana. Pak Wandi, Saya bangga menjadi orang kampung tapi saya berusaha tidak kampungan”. “Mantap pak Haji, saya juga orang kampung”. Tanggapan singkat penulis.
Pak Wandi, ada satu hal yang sedikit memprihatikan saya dan bagaimana menurut pandapat pak Wandi?. Tentang apa tu pak. Ji?. Beliau bercerita;” Di kampung saya sudah banyak yang sarjana. Ada yang bergelar S.Pd.I, S.Ag. S.Hi dan gelar lainnya. Menurut masyarakat, banyak juga dari Sarjana yang enggan dan tidak mau menjadi khatib jum’at. Kadang-kadang masyarakat mengatakan; “ Baa Sarnjana kini ko Pak. Haji?( Bagaimana Sarjana sekarang ini pak.Haji?). Sudah menjadi Sarjana bahkan Sarjana berasal dari Perguruan Tinggi Agama namun tidak mampu dan tidak mau menjadi khatib jum’at”.
Mendengar cerita pak Tarmizi di atas, maka penulis menanggapi secara sederhana saja.” Semuanya tergantung kepada kebiasaan dan ilmu yang dimiliki, selain itu rasa percaya diri dari Sarjana yang berangkutan juga menentukan. Miskipun seorang Sarjana memiliki ilmu yang cukup, akan tetapi tidak mau mencoba dan belajar apalagi membiasakan, maka menjadi Khatib Jum’at tidak akan bisa terwujud. Kita yang sedikit bisa menjadi Khatib Jum’at dan berceramah, tentu tidak terlepas dari mencoba, membiasakan serta menambah ilmu pengetahuan yang terasa masih sangat kurang. Oleh sebab itu, mangkin salah satu kewajiban dari pak Tarmizi untuk berbagi pengalaman kepeda teman-teman yang memiliki persoalan tersebut. Berbagi pengalaman bukan menggurui adalah cara baik untuk mengajari orang”.
Bercerita dan berbagi pengalaman di ruangan kecil yang sebelumnya adalah tempat tumpukan berkas dan barang-barang yang tidak dimanfaatkan lagi telah menjadi tempat bekerja, bercerita dan berbagi pengalaman yang ada. Manfaat akan bisa diambil oleh orang yang bisa memanfatkan. Tumpakan kertas yang berisikan tulisan tidak akan bermanfaat bagi penjual ikan kering kecual untuk membungkus ikan kering tersebut. Satu kata dalam sehelai kertas buram akan bermanfaat bagi orang yang merasa kekurang ilmu pengetahuan.
Sebagai penutup tulisan, penulis tutup dengan sebuah ungkapan;
“BERKIRIM CERITA BISA BERTAMBAH SEDANGKAN BERKIRIM UANG BISA BERKURANG DAN HILANG”








