Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.
Bagian : 2
“ SEHARI MENJELANG” II
Goreng..goreng…, sorakan seperti sepanjang jalan. Kalau tidak bersorak atau iam-diam saja tentu orang tidak akan mendengar. Bla orang tidak mendengar, pengaruhnya jualan tidak akan terjual.
Sebagai seorang laki-laki yang berangsur merangkak remaja, tidak pula dapat dipungkiri bahwa rasa malu dan berat hati juga muncul di dalam hati terutama melihat teman-teman lainnya bermain tanpa adanya beban dan penuh kegirangan. Rasa malu yang terselip di dalam hati harus ditutupi dengan rasa percaya diri dan keadaan juga yang tidak bisa dipungkiri.
Bajojoh (berjualan keliling) dengan dulang di atas kepala yang berisi gorengan terus disorakan. Terkadang habis terkadang harus membawa kembali sisanya ke rumah. Disaat jualan habis, dulang langsung ditelungkupkan di atas kepala, perasaan sangat terasa senang dan bahagia. Tetapi disaat jualan masih banyak tersisa dan tidak ada kemungkinan lagi akan habis, maka kaki terasa berat melangkah menuju rumah. Aku berhenti sejenak menjelang sampai di rumah untuk menghitung goreng yang tinggal dan berapa yang terjual. Alhasil, jangan untung yang diperdapat, malahan rugilah yang diterima. Ternyata seperti itulah konsekwensi dari seorang pedagang termasuk penjojoh gorengan. Kalau tidak untung, maka rugilah imbalannya. Disaat untung, kita bahagia dan bangga, Bagaimanakah disaat rugi melanda??? Kebesaran jiwa dan perasaan optimis disaat itu akan teruji.
Di hari minggu itu, apakah gorengan aku habis atau masih tersisa? Aku tidak ingat lagi. Diperkirakan jam 10 menjelang siang, aku telah sampai di rumah.
Sampai di rumah, aku beru berkemas dan menyusun barang-barang yang akan aku bawa ke Padang Panjang, karena besok harinya adalah hari pertama aku masuk sekolah di MTsN Ganting Padang Panjang. Aku tidak membawa dipan/tempat tidur, aku tudak membawa kasur, aku tidak membawa kompor, aku tidak membawa almari kain . Yang aku bawa hanya beberapa helai pakaian harian dan pakaian sekolah serta bebarapa buah buku yang masih kosong dan berisi.
Bagaimanakah dengan teman-teman ku yang lain yang berasal dari Paninggahan juga? Pada umumnya aku tidak tahu, apakah mereka telah berangkat atau belum. Namun, aku telah mendapat khabar bahwa dua orang teman laki-laki yang satu lokal dan seangkatan oleh aku telah berangkat duluan kepada Padang Panjang. Nama Meraka adalah Erizal
Dan Charles Sevenson.
Dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim, aku pamit kepada amak dan adik-adik ku karena aku harus berangkat meninggalkan rumah menuju Padang Panjang. Keberangkatan aku ditemani oleh Bapak karena akan menitipkan aku kepada seseorang yang bertempat tinggal di pasar Rabaa nagari panyalaian.
Hari Mingu menjelang Senin itulah terakhinya aku menjunjung dulang gorengan.
Bersambung……….






