Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“Gadang di Rantau Ketek di Kampuang” (Rimantika, Cita, Cinta dan Realita)

×

“Gadang di Rantau Ketek di Kampuang” (Rimantika, Cita, Cinta dan Realita)

Sebarkan artikel ini

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 5

“ UANG KOS TIDAK TERBAYAR” II

Pergi sekolah menuntut ilmu pengetahuan dan mencari pengalaman tidak terlepas dari pikiran dan hati penulis. Bermain dan bermain-main juga tidak bisa dipungkiri. Saat sebagian teman bermain, penulis juga ikut dalam kegiatan itu. Terkadang di saat kawan-kawan belajar, malahan penulis bermain. Manakah yang banyak waktu bermain dan bermain-main-main di banding waktu belajar? Rasanya, waktu bermain hanyalah selingan disaat lelah dan letih setelah belajar minimal mengurangi rasa suntuk karena menulis dan membaca buku atau mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Proses Belajar Mengajar terus penulis lalui sebagaimana kawan-kawan lainnya. Mereka berangkat sekolah, penulis seperti itu juga. Mereka dengan belanja secukupnya, tetapi penulis hanya apa adanya. Sudah dapat saja sarapan pagi menjelang berangkat sekolah, itu sudah lebih dari cukup.

Mengahadapi mata pelajaran dengan kawan-kawan, rasanya penulis tidak terlalu jauh ketinggalan. Dari kelas 1 sampai kelas 2, penulis masih termasuk 10 besar. Pada kelas 1, penulis hanya mampu rangking VI, namun pada kelas 2 semester I, penulis bisa memnembus rangking III. Tanpa mencari-cari kekurangan apalagi kesalahan teman-teman sendiri, penulis memang mengakui kepintaran dan kelebihan teman-teman penulis. Sebut saja teman satu lokal, di antaranya: AINI YUSRA, RINA DONY DAN DELMUS PUNERI. Mereka yang satu lokal dengan penulis, memang tekun dan pintar. Sangat sulit bagi penulis mencari kelemahan mereka dalam belajar. Akhir dari perjuangan penulis untuk mendapatkan prestasi hanya kandas di Rangking III.

Apakah perjuangan penulis dalam belajar karena masalah ekonomi? Tidak. Namun demikian, masalah ekonomi memang berdampak kepada pengalaman penulis. Pengalaman itu, rasanya berat penulis ungkapkan dalam tulisan ini. Dalam bertukar pengalaman dengan teman-teman tentang pengalaman sekolah, penulis jujur menyampaikan pengalaman dan kesalahan penulis saat itu.

Miskipun terasa berat, namun dalam tulisan ini, rasanya perlu juga penulis ungkapkan untuk lebih fairnya pengalaman dalam menggapai dan menuntut ilmu pengetahuan di rantau orang.

Suatu hari, yang hari dan tanggalnya penulis tidak ingat lagi. Sepulang sekolah, kami biasanya memasak bersama bagi teman-teman yang tidak memasak, apakah itu memasak nasi maupun memasak sambal. Teman penulis, yang nama panggilannya “DM” juga mau memasak sebagaimana juga penulis. Penulis lihat minyak kompor, ternyata sudah hampir habis. Mau dibeli? Uang tidak ada. Penulis lihat pula minyak kompor si DM, isinya teng kompornya masih banyak tetapi tidak penuh lagi. Penulis bilang kapada si DM. DM…minyak kompor kamu ini sedikit lagi, kalau tidak diisi, nanti bisa kering dan bisa teng kompot kamu bocor. Oleh sebab itu, belilah minyak kompor kamu ini. DM menjawab: iya , nanti saya beli minyak kompor ku wan.

Sore harinya, penulis bertanya lagi, DM..sudah dibeli minyak kompornya? Belum, jawabannya. Belilah sekarang DM. Maka si DM pergi membeli minyak tanah untuk kompornya. Bagaimana dengan minyak kompor penulis? Ya, sudah kering.

Minyak kompor habis, sewa rumah kos juga sudah tiga bulan belum dibayar. Mikiiiirrr? Tentu iya. Bagaiamana lagi, sekolah harus dilanjutkan.

Tengah malam pada hari itu, antara jam 2 sampai jam 3 dini hari, penulis terbangun. Penulis pergi ke kamar mandi untuk berwudhuk karena akan melaksanakan sholat Tahajjud. Setelah berwudhuk, penulis ingat bahwa kompor penulis sudah habis. Maka terfikirlah oleh penulis melihat kompor DM tadi. Dengan perasaan berat hati dan juga dengan hati-hati, sebagian dari isi minyak kompor si DM penulis salin ke kompor penulis. Setelah menyalin sebagian minyak kompornya, barulah penulis melaksanakan Sholat Tahajjud.

Tahukah si DM atau khawatirkah dia bahwa minyak kompor pernah penulis salin? Jangan sehari setelah itu, sampai sekarang, si DM tidak mengetahuinya termasuk semua teman-teman yang sama satu kos sama penulis. Kapankah si DM dan teman-teman penulis akan tahu? Pastilah setelah membaca tulisan ini.

Pikiran positif dan sangka baik harus penulis kedepankan, mudah-mudahan si DM membaca tulisan penulis ini, atau teman-teman memberitahu keberadaan si DM sekarang sehingga penulis bisa minta maaf kepada DM tersebut.

Lain lagi setelah tidak ada uang untuk membeli minyak kompor. Lebih satu bulan berikutnya, tepatnya 4 bulan uang kos belum terbayar oleh penulis, penulis di panggil oleh amai (pemilik) rumah. Amai bilang bahwa kamar yang di tengah, yakni kamar tempat tidur penulis akan dikosongkan. Alasanya; Famili amai akan pulang. Mendengar kata-kata amai tersebut, penulis diam, karena penulis aku bahwa uang kos terlah menunggak. Terakhir amai bilang lagi adalah pada hari jum’at pagi menjelang pergi sekolah, bahwa kamar itu harus dikosongkan. Penulis menanggapi bahwa sepulang dari kampung, penulis akan bayar, namun amai tidak bisa menerimanya. Yaa..penulis diam saja lagi.

Derapan langkah yang lunglai diiringi kepala yang berfikir, penulis menuju sekolah. Tidak ada seorangpun tahu apa yang sedang penulis pikirkan.Sesampai di sekolah, pikiran penulis tidak fokus untuk belajar, karena penulis harus mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

Dalam lokal sambil belajar, terfikirlah oleh penulis sebuah jalan/solusi. Penulis berfikir lagi, bagiamanakah caranya? “Rumah tanpak, Jalan belum tahu”.
Saat itu, 4 Orang teman laki-laki yang berasal dari Nagari Paninggahan, yakni : E, C. I,dan N telah pulang kampung sebelum tamat kelas 2. Hanya penulis sendiri yang laki-laki masih tersisa di antara teman perempuan lainnya yang berasal dari Nagari Paninggahan.
Dalam lokal, penulis duduk di belakang, mata melihat ke depan, sedangkan pikiran sedang berkecamuk memikirkan masalah tempat tinggal.
Kemana penulis pindah? Bagaimana keindahannya???

Bersambung…………..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *