Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.
“PRESTASI DAN ORGANISASI”
Kegiatan ekstra kurikuler cukup banyak di almater penulis. Di awal masul sekolah, kami telah mulai “plonco” dengan kegiatan OSPEKPRAM. Kegiatan melahir pesan dan kesan dari masing-masing siwa baru. Bagi yang belum pernah berpengalaman, tentu suatu kegiatan yang menyiksa fisik dan mental. Makan tidak teratur. Kalaupun makan, nasi yang dimakan tidak sempurna masaknya karena berpacu dengan yang terus menghembus. Sambal entah dimana rasanya, karena bahan yang dimasak juga apa adanya. Sedang makan, panggilan datang untuk berbaris dan mengikuti kegiatan/agenda lainnya. Terlambat datang memenuhi panggilan, skojam, push up dan lari telah menunggu untuk dilaksanakan. Jam tidur memang telah ditentukan, namun sering tidak sesuai dengan jadwalnya. Kalau di suruh tidur, harus tidur. Alasan mata belum ngantuk tidak bisa dijadakan alasan, minimal picingkan saja mata dan diam. Bila terdengar bisik-bisik, hardikan datang, bahkan disuruh keluar untuk dimintakan keterangan.
Kegiatan ospek menimbulkan cara pandang yang berbeda. Ada yang menanggapi dan menyikapinya positif dan tidak sedikit pula yang berangkapan negatif. Bagi orang yang menykapi negatif, karena mereka merasa tersiksa dengan kegiatan tersebut. Tidur mereka tidak nyenyak, makan mereka tidak enak. Saat hari panas, disuruh berpanas. Disaat hujan datang, hujanpun terpaksa mereka tahan. Mandi mereka tidak teratur, jangan bersih, kadang-kadang pakai sabunpun tidak sempat. Baru saja akan makan, sudah disuruh berbaris dan berlari. Dan banyak lagi cara dan sikap kakak-kakak tingkat yang tidak mereka sukai sehingga kegiatan ospek begitu menyiksa. Rasanya mau cepat selesai dan pulang saja.
Selain yang menanggapi negatif tentu tidak sedikit juga yang menyikapi positif, termasuk penulis sendiri. Ospek merupakan kegiatan yang bertujuan belatih dan mendidik diri baik fisik maupun mental terutama karakter pribadi. Menerima dan menjalani apa adanya merupakan sesuatu hal yang harus kita jalani. Namun demikian, kita tentu harus kreatif dan inovatif. Tantangan dan rintangan akan banyak dihadapi. Kekuatan pribadi mesti dimiliki.
Satu langkah kegiatan ospek telah penulis lewati bersama seluruh teman-teman yang baru masuk sekolah, pada langkah selanjutnya, penulis memasuki lagi kegiatan LATIHAN KEPEMIMPINAN. Tidak banyak yang penulis kenang dalam latihan kepemimpinan ini, namun penulis semakin diajari disiplin dengan waktu, cara berkomunikasi, beradaptasi dan berkoordinasi. Hal ini ternyata sangat penting abgi seorang calon pemimpin dan saat menjadi pemimpin. Kapan penulis menyadari hal ini? Saat penulis diberikan amanah kecil-kecilan.
Salah satu materi yang diberikan tutor saat Latihan Kepemimpinan adalah: “ KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW “. Saat itu, penulis belum memahaminya karena masih proses belajar, namun saat ini barulah penulis ingat bahkan mencoba belajar menyampaikan dan mempraktekannya. Salah satu dalil atau dasar tentang Kepemimpinan Rasulullah SAW terdapat dalam Q.S. 3 : 159, yang artinya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Latihan Kepemimpinan telah dilewati. Kegiatan-kegiatan lainya menyusull diikuti, seperti BANTARA dan PKS.
Belajar terus berjalan, kegiatan organisasi di sekolah terus juga diikuti, bahkan organisasi yang berada di luar sekolah juga diimban, seperti Pengurus IPKAS dan IPPP ( Ikatan Pemuda Pelajar Paninggahan) khususnya. Pada tahun yang sama, (1991), Penulis juga dipercaya menjadi Ketua IPPP. IPPP mencakup seluruh Pemuda dan/atau Pelajar yang menuntut Ilmu di Padang Panjang, Bukit Tinggi dan sekitarnya.
MENUNTUT DI SEKOLAH, PRAKTEK DI LAPANAGAN.
Bagaimanakah MENGIMPLEMENTASIKAN TEORI…???
Bersambung…………






