“Gadang Di Rantau, Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

“CANGKUL DI SANDANG, BUKU DI PINGGANG”
Kelas 1 mencari, Kelas 2 mengembangkan, Kelas 3 melepaskan. Itulah kalimat yang tertulis di dalam hati saat menuntut ilmu di MAN/MAPK Padang Panjang saat itu. Prestasi terus dikejar, organisasi untuk menempa diri tak ketinggalan. Mungkin orang berlayar di biduak gadang, biarlah ambo mendayung kapal kecil.

Bacaan Lainnya

Sebagai orang yang diamanahi (Didahukan salangkah dan ditinggikan sarantiang) di Ikatan Pemuda Pelajar Paninggahan (IPPP) Cabang Padang Panjang pada tahun 1991, penulis mencoba mengembangkan teori-teori yang dipelajari diwaktu Latihan Kepemimpinan dan Bantara. Komunikasi dan Silaturrahmi terus dijalin dengan teman-teman yang berada di sekitar Koto Baru Padang Panjang, Padang Panjang dan Bukit Tinggi.

Di Padang Panjang, penulis bisa bertemu dengan Anto, Bet, Syaf dan lainnya. Di Bukit Tinggi, penulis bisa mengunjung Alizar Mayus dan Zulkifli Zukma. Sedangkan di Koto Baru Padang Panjang, penulis tidak bisa menyebutkan nama kawan-kawan semuanya karena cukup banyak juga. Namun demikian, satu atau dua orang, bisalah penulis tuliskan, di antaranya: Lendra Umar, Yen Syafnidar, Yanto, Ar, Marjulis, Sudirman, Arpen, Yoserizal, Dewi, Syahrul, kakanda Marjulis, Kak Taher, dan banyak yang lainnya.

Satu hal yang menurut penulis agak luarbiasa di bidang anggota/teman-teman di saat itu. Teman-teman atau adik-adik yang dari Nagari Saning Bakar ikut bergabung dengan kegiatan kami. Mereka ( Efni, Susi, Dahlia dll ) juga menjalin hubungan baik dengan IPPP Cabang Padang Panjang. Dalam hal kegiatan/program kerja, selain memeriahkan/memperingati Hari Besar Islam, bakti sosial pun kami jalani secara bersama-sama.

Perjalanan menimba ilmu berorganisasi dan mengembangkan ilmu yang dipelajri tidak berjalan lama karena waktu yang membatasi. Sekedar dasar ilmu pengetahuan dan pengalaman, rasanya sudah cukup.

Bagaimanakah dengan prestasi? Penulis hanya ingat komentar dari salah seorang teman satu kamar dan kebetulan adik kelas, namanya Zaki. Komentar dia: “Ambo heran samo Da wan, Kok lalok acok capek dan jagopun acok talambek, urang maota, liau maota lo, Kadang mandi pai sekolah, kadang indak, tetapi kok beliau bisa dapek juara I ?”. Sebenarnya jawaban ada, tetapi tidak penulis jawab di saat itu. Jawabannya adalah: “ Penulis kadang-kadang memang cepat tidur, lalu tengah malam penulis bangun dan menghafal disaat semua teman sedang tidur, Menjelang pagi teman-teman bangun, penulis tidur lagi. Makanya penulis sering bangun terlambat juga. Di sengaja seperti itu, agar orang lain tidak mengetahui bahwa penulis belajar di tengah malam.

Saat pulang kampung, yang nama buku terus juga dibawa. Dibaca ataupun tidak, itu persoalan lain. Karena penulis seorang petani, tentu sampai di kampung, sawah dan ladang adalah pekerjaan utama. Bukan hanya sawah yang disasih yang dikerjakan, makan upahpun ke swah orang lain sudah hal yang biasa. Pergi ke sawah, cangkul di sandang, buku disisipkan di belakang. Sambil melepaskan rasa letih berjalan kaki dari rumah menuju sawah yang cukup jauh (tambak menuju sawah di tepi Danau Singkarah dalam wilayah Nagari Muaro Pingai), penulis sempatkan juga melihat sekilas buku catatan.

Satu hal yang berbeda dari pengalaman semasa di MTsN Gantiang, Selama Penulis sekolah di MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang, penulis hanya tinggal di satu tempat/rumah, yakni FAMILY HOUSE. Apakah tidak ada suka dukanya? Tentu saja ada, namun dibawa enjoy saja. Hanya satu yang sulit juga dilupakan disaat hari panas terik, penulis harus buka baju dulu menjelang masuk kamar karena kamar penulis dan 4 orang teman lain terletak di suyuk atap. Panasnya tidak tertahan kalau masuk kamar tersebut.

Satu lagi pengalaman selama tinggal di Family House. Namanya teman-teman, baik yang sama tinggal serumah maupun di tempat lain seperti Berok, kadang-kadang kawan memasak bersama dan sambalnya adalah ikan. Ikan yang dimasak itu, penulis tahu darimana asalnya. Untuk menghormati kawan-kawan makan bersama, penulis ambil juga ikat tersebut, tetapi tidak penulis makan dan penulis buang ke belakang. Kenapa penulis seperti itu? Karena ada rasa pergulatan di hati antara halal, haram dan subhat.

Tiga tahun selesai penulis menimba ilmu dan pengalaman di MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang. Masuk tahun 1989 dan tamat tahun 1992. Alhamdulillah, peringkat terendah hanyalah peringkat 3.
“PRESTASI TIDAK TERLALU TINGGI DAN BERORGANISASI HANYA SEKADAR MENAMBAH ILMU SENDIRI”

Bersambung…………

Pos terkait