“Gadang Di Rantau, Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

“ALIYAH MENUJU KULIAH”

Bacaan Lainnya

“Angok-angok Bauang”, itulah istilah yang sering diungkapkan oleh orang Paninggahan. Istilah ini dipakai disaat seseorang dalam kesusahan/kesulitan dalam menjalani kehidupan. Begitulah kira-kira kondisi keluargaku saat itu. Jangankan untuk kuliah, tamat dari Alayah saja sudah bersyukur. Seorang anak desa yang kerja orang tuanya “makan Upah” ke sawah dan ke ladang orang lain bisa juga menamatkan pendidikan Menengah Atas di Nagari orang miskipun di nagari Paninggahan ada Sekolah Menengah Atas/Aliyah. Apakah teman-teman penulis yang lain bukan anak dari keluarga petani? Umumnya kami yang berasal dari Nagari Paninggahan adalah keluarga petani, namun dari taraf kehidupannya tentu saja berbeda. Orang lain lain menggarap sawah dan ladangnya sendiri, namun kami tidak memiliki setapakpun sawah dan ladang yang menjadi milik sendiri. Sawah dan ladang yang digarap adalah milik orang lain dengan cara “Menyasih atau Bapaduoan”. (bagi hasil).

“Hati Kareh, dado badampuang”. Keinginan kuat, kemampuan tidak ada. Pikiran mau melanjutkan sekolah ke kuliyah, namun keadaan ekonomi tidak menunjang. Bila dibandingkan biaya kuliah dengan Aliyah tentu sudah jauh berbeda. Uang sekolah tidak sampai ratusan ribu, sedangkan uang kuliah tentu lebih itu.

Alhamdulillah, teringat di saat itu seorang mamak yang berna Ir. Abu Bakar Bulek. Beliau beristri orang Payakumbuh dan punya rumah di Padang sedangkan beliau dinas di Kanwil Kehutanan Provinsi Jambi.

Kedua orang penulis menyarankan untuk menemui beliau ke Padang untuk minta bantuan membayar uang kuliah.Tanda penulis ingat hati dan tanggalnya, penulis pergi ke Padang menemui beliau. Karena beliau Dinas di Jambi, penulis hanya bertemu dengan anak-anak beliau. Anak-anak beliaulah yang menghubungkan penulis dengan beliau melalui telphon, dan menyuruh penulis untuk mendaftar ke IAIN “IB” Padang. Hasil dari mendaftar, penulis dinyatakan lulus dengan uang kuliah setiap semester sebanyak Rp. 120.000,- (seratus dua puluh ribu rupiah).

Kuliah dimulai, perjalanan melanjutkan jenjang pendidikan dilanjutkan. Penulis tinggal di rumah mamak H. Abu Bakar di Tabing, sedangkan Kampus Fakultas Syariah saat itu di Jalan Sudirman. Ongkos Bus Kota antara Tabing dan Sudirman sebanyak Rp. 200,-.(dua ratus ruipah).

Amak/ibu penulis yang sering mengungkapkan. “Bialah kapalo bakubang asalkan tanduak makan”. Capek kaki ringan tangan. Capek kaki indak manaruang, ringan tangan indak mamacah.

Kalimat itu selalu penulis ingat dan laksanakan. Apa yang bisa dikerjakan dan dibantu tinggal di rumah mamak, dikerjakan!. Membersihkan perkarangan rumah, menanam pohon pisang, yang anaknya dibawa dari Paninggahan, Memasak, dan lain sebagainya serta menggiling lado adalah menjadi spesialis penulis.

Kuliah terus jalan, Pergi pagi pulang sore. Bagaimana dengan makan siang?, Penulis sering mambawa nasi dengan plastik gula. Makannya di tempat kos teman.

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa untuk membuat tugas pribadi dan tugas kelompok. Suatu ketika, penulis membuat dan mengetik tugas kelompok. Mata kuliahnya penulis lupa. Tugas kelompok selesai tetapi belum diperbanyak sebanyak anggota kelompok. Mau diphoto copy, uang tidak ada. Jangankan untuk memphoto copy, untuk ungkos pergi kuliah saat pagi itu sudah mikir-mikir.

Cari punya cari, uang hanya ada Rp. 200,- (dua ratus rupiah). Uang sebanyak itu hanyalah untuk ongkos pergi kuliah. Bagaimana ungkos pulang nanti? Apalagi untuk belanja di kampus. Penulis berfikir sesaat menjelang berangkat ke kampus. Dalam berfikir sesaat itu, timbullah tekat dan nekat penulis. “Saya harus berangkat ke kampus. Andaikan saya tidak mendapatkan uang di kampus untuk ongkos pulang ke Tabing, saya akan nekat untuk berjalan kaki”. Dengan membaca Bismillah, penulis turun dari rumah menuju jalan dan naik bus kota. Dalam perjalanan, ongkos diberikan kepada knektur bus kota. Turun dari bus kota, satu rupiahpun uang tidak ada lagi di badan.

Menjalang masuk lokal, penulis duduk di kantin dengan teman-teman. Karena tugas paper tugas kelompok sama penulis, maka kawan-kawan minta diphoto copian. Dengan jujur penulis sampaikan kepada teman yang minta tolong diphotocopian bahwa uang kawan untuk photo copy ini berlebih, dan lebihnya saya ambil ya. Lebihnya sekira-kira Rp. 100,- lah. Satu, dua dan tiga orang dari uang teman-teman itu, terkumpullah uang sama penulis sebanyak lebih kurang Rp. 500,- (lima ratus rupiah). Uang yang terkumpul itulah yang penulis jadikan belanja dan ongkos pulang ke Tabing. Alhamdulillah, penulis tidak jadi jalan kaki ke Tabing.

Masalah kekurang ekonomi masih berlangsung diawal penulis kuliah. Entah siapa yang menggerakan hati dan pikiran Uda Yan yang bekerja sebagai tukang bangunan mengajak penulis untuk membantu beliau bekerja bangunan. Uda yan ini adalah sumando orang Payakumbuh yang tinggal juga di rumah mamak H. Abu Bakar bersama keluarganya.

Hampir setiap hari sabtu dan minggu, penulis pergi membantu beliau bertukang bangunan. Penulis tidak memikirkan apalagi bertanya tentang gaji. Yang penting, penulis ikut bersama beliau.

Suatu ketika, saat kami mengerjakan rumah di daerah Purus, disanalah penulis merasakan sulitnya mencari uang. Penulis “mambatuh”/ membongkar WC yang dengan mempergunakan martil yang beratnya 5 Kg. Tanpa memakai sarung tangan, tangan penuis lecet dan sedikit mengeluarkan darah. Penulis tatap tangan penulis, lalu seperti tidak merasakan apa-apa.

Tengah hari kami berhenti. Da Yan dan penulis tidak membawa nasi. Karena beliau tidak biasa makan siang “mungkin”, maka kami hanya makan roti.
Disaat waktu istirahat itu, penulis

minta izin kepada Da Yan pergi ke Kampus untuk melihat nikat semester. Penulis berjalan kaki dari Purus menuju Kampus dalam kondisi panas terik. Sampai di kampus, keringat bercucuran. Satu persatu nilai mata kuliah penulis lihat, Alhamdulillah, tidak ada satupun yang bernilai C. Hanya berkisar nilai A dan B. Melihat hasil seperti itu, penulis kembali lagi ke tempat kerja berjalan kaki. Perasaan letih tak penulis hiraukan karena yang ada dalam pikiran adalah nilai semester yang cukup memuaskan.

Senja menjelang, kami pun pulang. Di akhir minggu, penulis diberi Da Yan uang belanja. Uang itulah yang penulis gunakan membantu ongkos pergi kuliah. Bila uang penulis sudah betul-betul tidak ada lagi untuk ongkos pergi kuliah, dengan berat hati, penulis minjam sama uni Vivi dan Yuli. Uni Vivi dan Yuli adalah anak mamak. Kadang minjam seribu, kadang dua ribu. Kalaulah ditotalkan semuanya, mungkin jumlahnya sekitar Rp. 15.000,- s/d Rp. 20.000,-. Hampir seperti itulah perjalanan penulis menjalani hari demi hari selama satu tahun kuliah.

“URANG MAU SARIBU AKA,
URANG ANGGAN SARIBU DALIH” .
“INDAK TALI, AKA PUN JADI”
Bersambung…………

Pos terkait