Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.
“LAMPU JALAN PENERANG TULISAN”
Mencari dan berusaha yang lebih baik sudah menjadi pemikiran dari dahulu. Bukan tinggal di simpang haru tidak menyenangkan, namun mencoba juga di tempat lain. Lebh kurang sembilan bulan penulis tinggal di Simpang Haru, penulis pindah ke Masjid Nurul Ulya di jalan Damar. Tugas dan kewajiban tinggal di Masjid Nurul Ulya tidak ada bedanya dengan masjid sebelumnya.
Kerja tambahan selain menjadi petugas masjid, penulis ditawari kawan untuk menjadi SATPAN di rumah dan gudang beras H. Nurli Zakir. Bapak H. Nurli Zakir, selain menjadi ketua umum Masjid Nurul Ulya, beliau adalah seorang pengusaha besar di Kota Padang. Kerja sebagai Satpan di rumah beliau bukan tugas tambahan dari pengurus masjid tetapi kerja tambahan pribadi penulis.
Kapan tugas sebagai satpan ini penulis laksanakan?. Yakni setelah sholat magrib sampai setelah sholat subuh.
Setelah magrib penulis berangkat ke tempat tugas. Tugas yang dilaksanakan adalah menjaga rumah dan gudang beras. Berbagai pengalaman penulis hadapi juga dalam menjaga malam ini. Karena kami berdua, kami melaksanakan tugas secara bergantian. Menjelang jam 9, kami melaksanakan tugas bersama. Namun setelah jam 9 sampai jam 1 malam, kami bertugas sendirian. Satu orang tidur, seorang lagi menjaga malam.
Bukan sekali atau dua kali, penulis melihat dan memperhatikan orang yang tak di kenal tetapi mencurikan. Kadang-kadang hanya satu orang, kadang-kadang juga beberapa orang. Taktiknya berbeba. Diantaranya ada yang berpura-pura bertanya, sedangkan temanya yang lain mencari jalan masuk. Karena penulis curiga, maka penulis membangunkan teman yang sedang tidur. Sementara penulis menghadapi orang yang bertanya, penulis menyuruh teman untuk berkeliling ke tempat lain. Ternyata memang bertemulah orang yang mencurigakan. Setelah kami interogasi, alasannya memang banyak. Untuk mencari yang lebih aman, maka teman saya melepaskan orang yang mencurigakan tersebut.
Cuaca tidak selamanya cerah. Di saat hujan lebat dan angin kencang, rasa dingin terpaksa ditahan. Payung di tangan menjadi salah satu alat untuk melindungi penulis dari hujan di saat berkeliling lokasi yang dijaga.
Suatu malam, begitu lebat dan derasnya hujan, jalan raya bagaikan sungai karena begitu derasnya air. Setelah hujan berhenti, di tengah jalan penulis menemukan sebuah “ dandang”. Dandang adalah sebuah alat yang dipergunakan untuk menggali tanah yang keras. Karena dandang itu tidak diketahui siapa yang punya, maka penulis bawa saja pulang.
Bagaimana di saat malam cerah, dimana langit dihiasi cahaya bulan dan bintang berkilauan? Penulis sebagai mahasiswa mempergunakan kesempatan tersebut untuk membaca buku dan majalah.
Dimanakah penulis membaca? Di antaranya di bawah tiang listrik. Lampu jalan tersebut sudah cukup bagi penulis untuk menerangi tulisan yang dibaca. Karena sudah tengah malam, pernah penulis dihardik oleh seseorang yang lewat sambil bertanya; Oei..manga waang duduak di siko? ( kenapa kamu duduk di sini ?). Penulis jawab: Saya membaca sambil tugas menjadi satpam di rumah bapak H. Nurli Zakir ini pak”. Orang tersebut diam dan terus melanjutkan perjalanannya.
Setelah selesai malaksanakan tugas malam, jam 06.00.WIB, penuls pulang lagi ke Masjid untuk persiapan berangkat kuliah.
Sampai di kampus, Kuliah juga dikuti seperti teman-teman lainnya. Menurut perkiraan penulis, bahwa tidak ada seorangpun teman sama kuliah yang mengetahui kerja penulis sebagai satpan di malam hari. Ada seorang teman sekampung yang kos di jalan Bangdes, namanya Railis. Penulis sering singgah dan istirahat di tempat kosnya. Setiap penulis sampai di rumah kosnya di jam istirahat, penulis selalu tidur. Dengan melihat dan memperhatikan penulis selalu tidur ditepatinya, pernah dia bertanya: “
Saya heran, kenapa setiap kamu ke sini dan di sini, saya tepai kamu tidur wan?. Penulis jawab saja dengan bahasa seloroh:” Saya pulang kuliah menyapu pasar Raya Padang”. Penulis tidak mengatakan kepada dia bahwa penulis menjadi Satpan di malam hari.
Suatu hal juga yang sulit penulis lupakan di waktu jam kuliah di kampus. Jam masuk kuliah setelah zuhur. Kalau tidak salah, saat itu mata kuliah Pancasila dengan dosen ibuk.Rosna. Penulis terlebih dahulu masuk lokal bersama sebagian teman-teman lainnya. Ibuk dosen belum masuk. Sementara menunggu dosen, mata penulis sangat mengantuk. Lalu penulis susun tiga buah kursi dibagian belakang sekali. Penulis tertidur.
Kapankah penulis bangun? Penulis terbangun di saat pentugas kampus mau menutup pintu karena hari telah sore. Pada saat itu, penulis tidak mengetahui apakah orang kuliah atau tidak. Penulis turun dari lantai II dan langsung pelang menuju Masjid lagi.
Menjalani kerja sebagai satpan juga tidak diketuhui oleh orang tua penulis. Sekali sebualan penulis sempatkan pulang kampung, namun balik lagi di hari besoknya. Kadang-kadang kembali lagi di hari yang sama. Ada satu komentar dari amak penulis: “Urang lai lo kuliah, tapi indak sarupo waang. Urang pulang kampuang, sampai beberapo hari di kampuang, sedangkan waang, tibo pagi, patang baliak lo liak. Babini waang di Padang tu ndak??”.Dengan tersenyum penulis menjawab: “Ambo mangarajoan tugas kuliah mak”.
Penulis berangkat lagi ke Padang menjalani kuliah sebagai mahasiswa dan melaksanakan tugas di malam hari sebagai Satpan.
Pada bulan berikutnya, penulis pulang kampung lagi. Pulang dari kampung, penulis harus berhenti menjadi Satpan. Kenapa harus berhenti menjadi satpan??
Bersambung……………






