Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel
×

Sebarkan artikel ini

Oleh: Meriyanto, S.H.
(Penggiat Sosial Budaya & Putra Asli Pagaruyung)

Di tengah gemerlapnya modernisasi dan derasnya arus informasi global, kita sering lupa bahwa fondasi terkuat masyarakat Minangkabau bukanlah sekadar bangunan fisik atau kekayaan materi, melainkan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Namun, hari ini, fondasi tersebut sedang digoyahkan oleh musuh dalam selimut yang diam-diam namun mematikan: Narkoba.

Example 300x600

Sebagai seorang putra daerah yang lahir dan besar di lingkungan adat Pagaruyung, saya menyaksikan dengan prihatin bagaimana peredaran narkoba tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi secara sistematis menghancurkan struktur sosial dan nilai-nilai luhur nagari kita.

1. Runtuhnya “Rasa Malu” dan Harga Diri
Dalam filosofi Minangkabau, “Malu Ado, Sopan Santun Tuntuik” (Malu ada, sopan santun dituntut) adalah rem utama perilaku seseorang. Narkoba merampas rasa malu itu. Saya melihat banyak pemuda—yang seharusnya menjadi tulang punggung nagari dan penerus estafet kepemimpinan di surau—kini kehilangan martabatnya. Mereka tidak lagi malu mencuri harta keluarga sendiri, menipu tetangga, atau melakukan tindakan asusila demi mendapatkan zat adiktif tersebut. Ketika rasa malu hilang, maka hancurlah benteng pertahanan moral pertama seorang Minang.

2. Disintegrasi Fungsi Surau dan Keluarga
Surau bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pendidikan karakter, tempat bermusyawarah, dan wadah pembinaan pemuda (anak kamanakan). Namun, peredaran narkoba telah menggeser fungsi ini. Banyak surau yang sepi dari kegiatan positif karena para pemudanya lebih memilih berkumpul di tempat-tempat tersembunyi untuk mengonsumsi narkoba.

Dampaknya merambat ke unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Konflik rumah tangga meningkat drastis. Ayah yang seharusnya menjadi imam dan teladan, atau anak yang seharusnya menjadi penyejuk hati orang tua, justru menjadi sumber kehancuran ekonomi dan psikologis keluarga. Ikatan sasarek (kekeluargaan) yang dulunya kuat, kini retak karena ketidakpercayaan akibat ulah korban narkoba.

3. Ancaman Terhadap Kepemimpinan Masa Depan Nagari
Minangkabau dikenal dengan sistem demokrasi lokal melalui pemilihan Wali Nagari dan penghulu. Calon-calon pemimpin masa depan adalah para pemuda hari ini. Jika generasi muda kita terjangkit wabah narkoba, maka siapa yang akan memimpin nagari besok? Kita sedang menghadapi krisis kaderisasi kepemimpinan yang serius. Pemuda yang kecanduan narkoba kehilangan visi, integritas, dan kemampuan berpikir jernih—syarat mutlak seorang pemimpin adat maupun formal.

4. Ekonomi Nagari Tergerus
Selain dampak sosial, narkoba juga menggerus ekonomi. Uang yang seharusnya digunakan untuk modal usaha, biaya pendidikan anak, atau kontribusi dalam acara adat (kenduri), habis terbakar untuk membeli barang haram. Kemiskinan struktural di nagari bisa semakin parah jika produktivitas angkatan kerja muda lumpuh akibat ketergantungan narkoba.

Solusi Berbasis Kearifan Lokal

Penegakan hukum oleh aparat keamanan seperti Polres Tanah Datar dan Kodim 0307/TD memang sangat penting dan harus didukung penuh. Namun, pendekatan yuridis saja tidak cukup. Kita perlu menghidupkan kembali peran institusi adat dan agama:

Reaktivasi Peran Ninik Mamak:
Penghulu dan ninik mamak tidak boleh tinggal diam. Mereka harus turun tangan memberikan sanksi adat (denda adat atau pengucilan sementara) bagi warga yang terlibat, sebagai bentuk “shock therapy” sosial.

Penguatan Pendidikan Surau:
Mengembalikan fungsi surau sebagai benteng akhlak dengan program mentoring intensif bagi remaja, melibatkan tokoh agama dan tokoh pemuda.
Sinergi Tiga Pilar:
Kolaborasi erat antara Pemerintah Nagari, Aparat Keamanan (Polri/TNI), dan Lembaga Adat harus diperkuat. Program rehabilitasi tidak hanya medis, tetapi juga reintegrasi sosial berbasis komunitas nagari.

Sebagai putra Pagaruyung, saya menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat: Jangan biarkan narkoba menjadi tuan di tanah rantau maupun di kampung halaman. Mari kita jaga marwah Minangkabau dengan menolak narkoba. Karena jika narkoba menang, maka tamatlah sudah harga diri kita sebagai orang Minang.

Biarlah pusaka tetap pada tempatnya, dan generasi muda tetap pada jalannya yang lurus.

Meriyanto, S.H.
Penggiat Sosial Budaya & Putra Asli Pagaruyung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *