Mantan Kepala Sekolah Marjuki Kini Dipindah ke Kalianda, Tinggalkan Deretan Peristiwa Kelam & Citra Sekolah Rusak
Sragi, Lampung Selatan | Mentrengnews.com – 18 Mei 2026, Sejarah kelam dan catatan hitam panjang masih melekat erat pada nama SMK Negeri 1 Sragi. Di balik operasional sekolah yang terlihat berjalan biasa saja, tersimpan fakta pahit bagaimana lembaga pendidikan ini pernah nyaris hancur dihantam amarah warga, mengalami kemerosotan mutu, hingga kehancuran moral pelaku pendidikan dan peserta didiknya.
Sosok yang menjadi pusat sorotan dalam rentetan kejadian memalukan itu adalah Marjuki, M.Pd.T, mantan Kepala Sekolah SMKN 1 Sragi. Kini, nama itu kembali disebut-sebut masyarakat setelah diketahui telah dipindah tugaskan ke wilayah Kecamatan Kalianda.
Pergantian tempat tugas ini ternyata tidak serta merta menghapus jejak kelalaian, sikap angkuh, dan deretan masalah serius yang ditinggalkannya selama memimpin di Sragi.
LUPA SEJARAH, SIKAP ANGUH PICU AMARAH WARGA SUMBER AGUNG
Puncak kemarahan masyarakat meledak pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2025. Saat itu, warga Desa Sumber Agung bergerak serentak, berbondong-bondong akan mendatangi sekolah dengan emosi yang meluap-luap.
Situasi saat itu sangat panas, nyaris seluruh warga desa ini menggeruduk gerbang sekolah, berteriak kecewa, dan menuntut kejelasan.
Penyebabnya sangat menyakitkan hati warga: puluhan putra-putri asli warga Sumber Agung ditolak masuk ke sekolah tersebut. Padahal, sejarah mencatat, berdirinya SMK Negeri 1 Sragi tidak lepas dari perjuangan darah, keringat, dan air mata para tokoh masyarakat serta warga Desa Sumber Agung.
Tanpa perjuangan keras warga setempat dulunya, kemungkinan besar sekolah ini tak akan pernah ada.
Namun di bawah kepemimpinan Marjuki, sejarah besar itu seolah dilupakan begitu saja. Sikapnya terlihat angkuh, kaku, dan sama sekali tidak memihak warga yang menjadi induk semang berdirinya sekolah tersebut.
“Kami berjuang mati-matian dulu agar ada sekolah di sini, agar anak cucu kami bisa sekolah dekat rumah. Tapi fakta tahun lalu? Anak-anak kami ditolak mentah-mentah.
Rasanya hati ini hancur, seperti ditusuk pisau. Seolah-olah jasa kami dulu tak ada harganya,” ungkap salah satu tokoh warga Sumber Agung dengan nada masih bergetar menahan kecewa.
Kekacauan itu nyaris berujung huru-hara. Gerbang sekolah terancam ditutup, dan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar terancam berhenti total.
Berkat kelincahan, ketenangan, dan langkah bijak yang diambil oleh Kepala Desa Sumber Agung saat itu, api kemarahan warga akhirnya bisa diredam.
Sekolah “lolos” dari amukan massa yang nyaris tak terbendung. Namun, jejak luka dan rasa sakit hati warga sudah terlanjur mendalam.
TIDAK BELAJAR DARI KESALAHAN: MUTU MEROSOT, MORAL RONTOK
Sayangnya, peringatan keras dari kemarahan warga itu tidak membuat Kepala Sekolah dan jajarannya berkaca atau memperbaiki diri.
Marjuki dan tim pendidikannya dinilai gagal belajar dari pengalaman pahit. Alih-alih memperbaiki pelayanan dan meningkatkan kualitas pendidikan, kondisi sekolah justru berbalik semakin parah.
Mutu pendidikan tidak naik, melainkan merosot jauh. Lebih mengkhawatirkan lagi, akhlak dan moral Sebagian siswa sekolah ikut runtuh.
Kasus perselingkuhan sesama guru yang mengguncang tahun 2024 lalu, di mana penanganannya timpang dan tidak tuntas, menjadi bukti awal kehancuran etika di lembaga ini.
Kemudian masalah merembet ke sebagian peserta didik. SMKN 1 Sragi menjadi sorotan negatif nasional karena maraknya siswa yang terpapar judi daring (Judol). Di sinilah tampak jelas betapa pucatnya rasa tanggung jawab para pendidik.
HATI BEKU: TAK ADA EMPATI BAGI MURID KORBAN KELALAIAN
Puncak kemarahan dan kecaman publik terjadi saat terungkap kasus menyedihkan seorang siswa yang menjadi korban jeratan judi daring. Siswa ini tidak hanya kecanduan, namun diajak, dibimbing, dan akhirnya terperosok dalam utang jutaan rupiah pada rentenir yang ternyata beroperasi dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri.
Anak itu tertekan hebat, ketakutan, dan mengalami trauma mendalam. Orang tua sudah tak sanggup lagi menanggung beban psikologis anaknya, hingga mengambil keputusan berat: mencabut putranya dari sekolah dan menghentikan pendidikan di sana.
Tapi apa respons Kepala Sekolah Marjuki dan para guru?
Tidak ada apa-apa. Keheningan mutlak.
Marjuki sama sekali tak menunjukkan rasa empati sedikitpun. Celakanya lagi, sikap Kepala Sekolah itu menular ke seluruh guru di sekolah tersebut.
Tak ada satu pun guru yang datang berkunjung, tak ada yang menenangkan, tak ada yang memberikan dukungan moral, tak ada yang meminta maaf atas kelalaian pengawasan yang terjadi.
“Seolah-olah anak itu bukan tanggung jawab mereka lagi setelah rusak. Bagai tak punya hati, tak punya nurani. Murid jadi korban kelalaian mereka sendiri, tapi mereka malah diam seribu bahasa.
Ini pendidik macam apa yang tidak punya belas kasihan begini?” tegas salah satu wali murid yang mengecam keras perilaku pihak sekolah.
PINDAH TUGAS KE KALIANDA, JEJAK KELAM TETAP DIINGAT
Kini, kabar bahwa Marjuki dipindah tugaskan ke wilayah Kecamatan Kalianda tidak serta merta menghapus ingatan buruk masyarakat. Masyarakat menilai pemindahan ini bukan bentuk penyelesaian masalah, melainkan seolah-olah masalah hanya dipindah tempatkan.
SMKN 1 Sragi kini menyisakan puing-puing kepercayaan yang berserakan. Sekolah yang lahir dari perjuangan warga, malah menjadi lembaga yang menghantam dan menyakitkan hati warga itu sendiri.
Kisah ini menjadi pelajaran pahit: Bahwa sebuah lembaga pendidikan tidak hanya bertugas mengajarkan hitungan dan teori, tapi wajib menjaga sejarah, memberdayakan lingkungan sekitar, dan yang paling utama: Menjadi teladan akhlak serta memiliki hati nurani.
Sifat angkuh dan hilangnya rasa tanggung jawab, ternyata lebih menghancurkan masa depan sekolah daripada sekadar bangunan fisik yang megah.
Redaksi mentrengnews.com
Mengutamakan Fakta, Menyuarakan Suara Rakyat
Penulis : Sholeh MTV








