Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“Enam Tahun Di Padang Panjang” (Romantika, Cita, Cinta dan Realita)

×

“Enam Tahun Di Padang Panjang” (Romantika, Cita, Cinta dan Realita)

Sebarkan artikel ini

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 3

“ PASAR RABAA – GANTING )

Antara pasar Padang Panjang dan pasar Koto Baru, ada sebuah pasar yang letaknya “mungkin” dipertengahannya. Pasar tersebut adalah Pasar Rabaa. Di dekat pasar Rabaa itulah penulis tinggal di rumah etek Gadis. Aku tinggal bersama dengan tiga orang teman yang senasip sepenanggungan di waktu SD. Nama kedua temanku yang baik itu adalah Erizal dan Charles Sevenson. Penulis tidak akan banyak membicarakan teman penulis yang berdua ini karena satu orang hanya bertahan sekian hari sedangakan teman yang satu lagi hanya satu sampai dua bulan tinggal di rumah etek Gadis tersebut.

Jarak antara pasar Rabaa dengan MTsN Ganting relatif dekat. Dikatakan dekat, karena penulis telah biasa menempuh jarak puluhan kilo meter dengan berjalan kaki dan dalam waktu lebih satu jam. Berapa kilo meterkah antara Pasar Rabaa dengan MTsN Ganting? Penulis tidak pernah pula mengukurnya karena memang bukan pekerjaan dan ahlinya penulis. Namun demikian, bila penulis berangkat dari Pasar Rabaa menuju MTsN Ganting, penulis menghabiskan waktu lebih kurang 30 minit. Ritme berjalan adalah ritme takut terlambat.

Andaikan dihitung, jumlah banyak berjalan kaki dibanding dengan naik mobil, baik pergi maupun pulang dari sekolah selama satu tahun tinggal di rumah etek Gadis, boleh dikatakan lebih banyak berjalan kaki. Penulis berjalan kaki karena pertimbangan uang yang penulis miliki. Miskipun ongkos hanya Rp. 50,- s/d Rp. 75,- untuk ongkos mobil saat itu, tetapi sangat besar jumlahnya bagi penulis.

Pedoman berjalan kaki atau tidak, selain kondisi keuangan yang ada dalam saku, juga keadaan hari di waktu pagi. Bila pagi menmpakan kecerahannya, maka penulis akan berjalankan kaki menuju sekolah miskipun badan berkeringat. Kadang-kadang juga basah sampai di sekolah karena kehujanan dalam perjalanan. Waktu pergi sekolah, mungkin tidak terlau terasa letih karena jalan menurun dari pasar Rabaa menuju sekolah dan cahaya matahari masih bersahabat di waktu pagi itu. Beda halnya kalau sudah pulang sekolah. Kalau hari panas, perjalan dengan berjalan kaki terus dilakukan keculai hari hujan yang tidak memungkinkan teduhnya cepat, maka alternatif adalah naik mobil.

Perjalanan kenangan masa tinggal di pasar Rabaa bukan hanya berjalan kaki pergi dan pulang sekolah. Pekerjaan yang biasa dikerjakan di kampung sebagai anak seorang petani masih dilakoni. Pulang dari sekolah, penulis juga pergi menyabit rumput untuk makanan sapi. Suatu ketika, Penulis membawa sehelai karung dan satu buah sabit menuju sawah dan ladang yang berlokasi tidak jauh dari pasar Rabaa. Setalah menyabit rumput yang begitu tebal dan sedang enak-enaknya memasukan rumput ke dalam karung sehingga penuh, tanpa diduga datang seseorang dengan suranya yg keras dan lantang menghardik penulis. Dengan bahasa Minang dia berkata: “Baa ko waang sabik rumpuik iko? Waang katoan indak batanam dan bapupuak rumpuik tu??. Dengan suara rendah dan juga dengan perasaan takut penulis menjawab: Maaf pak, ambo indak tahulah pk. Sangko ambo indak ado urang yg punyonyo dan bukan rumpuik larangan dan ditanam. Maaf ambo pk”. Penulis mengeluarkan lagi rumput yang telah dimasukan kedalam karung dan diletakkan di bawah pimatang sawah, lalu penulis pergi membawa karung yang telah kosong. Melihat orang yang punya rumput itu juga pergi, penulis kembali lagi mengambil rumput yang telah dikeluarkan tadi dan memasukannya ke dalam karung. Dengan penglihatan kian kemari, penulis menelusuri jalan pulang ke rumah dan tidak pernah lagi menyabit rumput ke arah sana. Berapakah yang penulis dapatkan dari menyabit rumput sepulang sekolah? Sekedar ongkos pergi dan pulang sekolah untuk satu minggu, cukuplah.

Bila hari sabtu datang, umumnya kawan-kawan telah bersiap-siap untuk pulang kampung. Sedikit berbeda juga dengan penulis. Penulis tidak pulang kampung setiap hari sabtu, karena penulis ikut menolong etek Gadis pergi mangaleh (berdagang) ke pasar sumani. Sekali dua kali, penulis membantu dan bersama beliau. Kadang-kadang, beliau percayakan pula kepada penulis untuk menjual sendiri dengan mengambil tempat yg beliau carikan. Bagaimanakah dan berapakah hasil dari yang penulis jualkan sendiri? Penulis tidak memikirkan itu. Berapa beliau kasih, itulah rezki penulis.

Kisah/erita ini kelihatan memang biasa-biasa saja. Namun bagi penulis, mungkin ada nilai dan artinya. Bila penulis tidak terlatih dan punya kemuan yang kuat, maka penulis tidak akan mampu melaksanakan dan menjalani kehidupan seperti itu sebagai anak yang baru masuk sekolah menengah dan jauh dari orang tua. Ternyata kemampuan dan kemauan harus juga penulis miliki sedikit banyaknya dalam mengarungi kehidupan ini.

Penulis tinggal di rumah etek gadis hanya satu tahun. Dimanakah penulis tinggal setelah itu???.

Bersambung……….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *