Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

HIJRAH HATI: MERAYAKAN 1 MUHARRAM 1448 H DENGAN AIR MATA PENYESALAN DAN CAHAYA HARAPAN

×

HIJRAH HATI: MERAYAKAN 1 MUHARRAM 1448 H DENGAN AIR MATA PENYESALAN DAN CAHAYA HARAPAN

Sebarkan artikel ini

Oleh: Meriyanto, S.H., M.Ad
(Penggiat Sosial Budaya)

Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa kita telah meninggalkan tahun 1447 Hijriah. Di ambang pintu gerbang Tahun Baru Islam 1448 H ini, jiwa rasanya bergetar halus. Bukan karena gemuruh kembang api atau pesta pora, melainkan karena bisikan lembut dari dalam sanubari: “Sudahkah aku menjadi hamba yang lebih baik dari kemarin?”

Example 300x600

Tahun Baru Masehi mungkin dirayakan dengan euforia duniawi, namun Tahun Baru Hijriah mengajak kita untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bermuhasabah. Kata “Hijrah” sendiri bukan sekadar perpindahan fisik Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Hijrah adalah perjalanan spiritual yang tiada henti; hijrah dari gelapnya maksiat menuju terangnya taubat, dari kerasnya hati menuju lunaknya kasih sayang, dan dari egoisme diri menuju pengabdian pada Ilahi.

Di usia senja kehidupan dunia yang semakin singkat ini, 1 Muharram 1448 H menjadi momen introspeksi paling jujur. Mari kita bertanya pada diri sendiri:
* Berapa banyak shalat kita yang masih terlalaikan?
* Berapa banyak janji kepada Allah yang belum kita tepati?
* Berapa banyak air mata orang tua atau sesama manusia yang kita sia-siakan?
* Dan berapa banyak dosa yang masih kita peluk erat-erat, enggan untuk melepaskannya?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini adalah teguran sekaligus pelukan kasih sayang dari Tuhan. Ia mengingatkan kita bahwa “hari esok” itu bisa jadi adalah akhirat, atau bisa jadi adalah besok pagi di tahun 1448 H ini. Jangan sampai kita menunda-nunda kebaikan. Taubat tidak menunggu usia tua, dan ampunan Allah tidak menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah sekarang.

Bagi kita di Tanah Datar, di bawah naungan falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, momentum 1 Muharram ini harus dimaknai sebagai penguatan iman. Mari kita bersihkan hati dari dendam, iri, dan sombong. Mari kita perbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat. Karena sejatinya, ibadah vertikal (habluminallah) akan terasa hampa jika tidak dibarengi dengan akhlak mulia horizontal (habluminannas).

Kepada para pemuda, jangan biarkan masa muda habis untuk hal yang sia-sia. Jadikan 1448 H sebagai tahun di mana kalian kembali ke surau, kembali mengaji, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kepada para orang tua, doakan anak-anak kita agar tetap istiqomah di jalan-Nya. Dan kepada kita semua, mari kita saling memaafkan. Maafkan kesalahan orang lain, sebagaimana kita sangat berharap Allah memaafkan ribuan kesalahan kita.

Semoga di Tahun Baru Islam 1448 H ini, Allah SWT memberikan kita kesehatan untuk beribadah, rezeki yang halal untuk berbagi, dan hati yang tenang untuk selalu bersyukur. Semoga hijrah kita diterima, dan langkah kita senantiasa diterangi cahaya ridha-Nya.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Meriyanto, S.H., M. Ad
Putra Asli Putra Pagaruyung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *