Mentreng.com –
1. Q.S. Al-Baqarah (2 ), Ayat: 14
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14)
”Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.”Dan bila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok”
Berdasarkan penjelasan ayat sebelumnya dan beberapa tafsir bahwa yang dimaksud dengan kata “Syayaathiin” dalam ayat 14 surat al-Baqarah di atas adalah Pemimpin orang munafik.
Allah menerangkan dan menjelaskan sikap orang dalam menerima dan menolak kebenaran yang disampaikan oleh Rasul-Nya Nabi Muhammad saw, di antaranya adalah golongan yang pecah di antara hatinya dengan mulutnya. Mulutnya mengakui percaya, tetapi hatinya tidak, dan pada perbuatannya lebih terbukti lagi bahwa pengakuan mulutnya tidak sesuai dengan apa yang tersimpan di hati. Itulah yang disebut dengan orang munafik.
Munafik telah menjadi bahasa sehari-hari, terkadang disingkat dan diperindah bacaannya menjadi”Muna”, yang maksud dan tujuan tidak ada bedanya dengan kata munafik, yakni; “menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan”. Lahir ditampakan kawan sebenarnya kawan, batinnya ternyata lawan, menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring, lain kata lain hati, dan berbagai ungkapan/istilah yang ditujukan untuk sebuah kata munafik. .
“Dan apabila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka”, yakni apabila mereka bergabung dengan para pemimpin, kepala suku dan para pembesar mereka yang terdiri atas pendeta Yahudi dan para pemimpin kaum musyrik dan minafik, maka mereka berkata, “Sesungngguhnya kami bersamamu”, sejalan dan sehaluan denganmu. Sedangkan kami hanya berolok-olok dengan mereka (para sahabat Muhammad SAW). Para pemimpin munafik disebut oleh Allah dengan sebutan syayaathiin. (Darmiwandi)








