Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

AIR MATA WARGA GUNUNG MAS TANJUNG RATU KATIBUNG : DARI MASA KE MASA– HINGGA MASA LAMPUNG SELATAN MAJU

×

AIR MATA WARGA GUNUNG MAS TANJUNG RATU KATIBUNG : DARI MASA KE MASA– HINGGA MASA LAMPUNG SELATAN MAJU

Sebarkan artikel ini

KATIBUNG, LAMPUNG SELATAN  |  Mentrengnews.com – 30 Mei 2026, Di tengah indahnya pemandangan alam yang memanjakan mata, tersimpan duka mendalam yang telah membelenggu hidup ratusan jiwa selama puluhan tahun. Di Dusun Gunung Mas, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, setiap langkah kaki adalah perjuangan, setiap perjalanan adalah siksaan, dan setiap harapan adalah doa yang entah kapan akan didengar.

Jalan penghubung yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan dan kemajuan, kini berubah menjadi luka terbuka yang tak kunjung sembuh, menyisakan duka dan air mata bagi seluruh warga yang mendiami wilayah tersebut.

Sudah puluhan tahun lamanya, suara jeritan dan permohonan warga Dusun Gunung Mas terlantar di tengah riuh rendah pembangunan di berbagai penjuru Kabupaten Lampung Selatan.

Berulang kali suara itu dikumandangkan, berulang kali surat permohonan disampaikan, berulang kali harapan digantungkan, namun hingga detik ini, apa yang mereka terima hanyalah keheningan dan kenyataan pahit yang terus memburuk dari hari ke hari.

Jalan yang menjadi satu-satunya akses masuk dan keluar itu kini kondisinya sangat memprihatinkan, penuh lubang yang menganga, tanah yang longsor, serta permukaan yang tidak rata, seolah menjadi saksi bisu betapa beratnya nasib yang harus dipikul oleh masyarakat yang hidup di wilayah ini.

Bagi warga Gunung Mas, jalan itu bukan sekadar jalur lalu lintas, melainkan satu-satunya jalan kehidupan. Melalui jalan itulah hasil bumi dibawa ke pasar, anak-anak berjalan menuju sekolah, dan pasien sakit diantar ke tempat pelayanan kesehatan. Namun kenyataan pahitnya, jalan yang rusak parah ini justru menjadi penghalang terbesar yang memisahkan mereka dari kemajuan, kenyamanan, bahkan keselamatan nyawa sendiri.

Di saat hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan sulit dilalui, membuat siapa pun yang melintas harus berjuang sekuat tenaga, sering kali harus berjalan kaki berjam-jam demi sampai ke tujuan. Dan saat kemarau tiba, debu beterbangan menyesakkan napas, mengotori rumah dan lingkungan, serta mengganggu kesehatan dan kenyamanan hidup sehari-hari.

“Sudah puluhan tahun kami berteriak meminta perhatian, meminta jalan yang layak dan manusiawi. Kami bukan meminta jalan yang mewah, kami hanya meminta jalan yang bisa dilalui dengan selamat dan nyaman, jalan yang pantas bagi warga negara yang juga membayar pajak dan berkontribusi bagi daerah ini.

Namun hingga hari ini, jeritan kami seolah tak pernah terdengar, permohonan kami seolah tak pernah sampai ke telinga para pemimpin. Kami lelah berharap, kami lelah menunggu, namun kami tetap berharap masih ada hati yang tersentuh dan merasakan apa yang kami rasakan setiap harinya,” ujar salah satu warga dengan nada suara yang bergetar menahan tangis, seolah beban berat telah dipikulnya seumur hidup.

Penderitaan yang dialami masyarakat Dusun Gunung Mas ini bukan hanya sekadar masalah fisik dan aksesibilitas, melainkan juga menyangkut rasa keadilan dan kemanusiaan.

Bagaimana mungkin sebuah wilayah yang sudah ada puluhan tahun, yang penduduknya terus berusaha bekerja keras dan berpartisipasi dalam pembangunan daerah, masih harus hidup terisolir dan terbelenggu oleh kondisi jalan yang sangat memprihatinkan ini?

Bagaimana mungkin anak-anak harus berjalan melewati lumpur dan lubang setiap hari hanya untuk menuntut ilmu, atau pasien sakit harus menahan rasa sakit berlipat ganda saat dibawa berobat karena jalan yang rusak parah?

Kondisi jalan yang memburuk ini juga berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Hasil panen yang melimpah sering kali menjadi sia-sia atau harus dijual dengan harga yang sangat murah karena sulitnya akses pengangkutan.

Biaya pengiriman dan biaya perjalanan menjadi sangat mahal dan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh, membuat perekonomian masyarakat di wilayah ini seolah tertahan dan sulit berkembang, sementara daerah lain terus melaju pesat menuju kemajuan dan kesejahteraan.

Berita ini disusun bukan dengan niat lain selain untuk menyampaikan jeritan hati dan kesedihan yang mendalam dari masyarakat yang sudah terlalu lama menunggu.

Kami memohon, dengan penuh rasa hormat dan ketulusan, kepada Bupati Lampung Selatan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta seluruh pihak berwenang dan terkait, agar sejenak berhenti dan merenungkan nasib saudara-saudara kita di Dusun Gunung Mas, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung.

Kami memohon dengan segala kerendahan hati, datanglah dan lihatlah sendiri kenyataan yang ada, rasakanlah penderitaan yang kami alami, dan biarkanlah hati nurani serta rasa empati Bapak/Ibu tergerak untuk segera mengambil langkah nyata. Jangan biarkan air mata dan keringat warga terus mengalir sia-sia.

Jangan biarkan puluhan tahun harapan dan permohonan ini berakhir menjadi keputusasaan. Warga Gunung Mas tidak meminta kemewahan, mereka hanya meminta apa yang menjadi hak dasar setiap warga negara: akses jalan yang layak, aman, dan manusiawi.

Semoga tulisan ini mampu menyentuh hati dan pikiran para pemimpin dan penentu kebijakan, sehingga langkah perbaikan segera diambil dan doa serta harapan puluhan tahun masyarakat Dusun Gunung Mas akhirnya terwujud.

Redaksi mentrengnews.com
Mengutamakan Fakta, Menyuarakan Suara Rakyat

Penulis : Sholeh MTV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *