Mentreng.com | X Koto – Babinsa Koramil 05/X Koto Kodim 0307/Tanah Datar, Serda Dedi dan Serda Abdul Halim bersama masyarakat Jorong Koto Tuo Nagari Panyalaian melaksanakan kegiatan inovatif memamfaat kotoran kambing menjadi pupuk organik. Dari fermentasi kotoran kambing gembel, di atas areal 2 hektare lahan pertaniannya di Kecamatan X Koto, Minggu (26/12/2021).
Kegiatan Bertujuan untuk mengurangi biaya pembelian pupuk pabrik di Jorong koto tuo dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
“Serda Dedi dan Serda Abdul Halim memaparkan soal terobosan untuk pemenuhan pupuk organik bagi petani melalui fermentasi kotoran Kambing. Jenis kambing yang paling bagus adalah Kambing Gembel. Karena Kambing Gembel adalah sebagai hasil perkawinan silang domba dan kambing, justru menjadi pilihan tepat untuk dataran tinggi seperti di Kecamatan X Koto ini” paparnya.
Proses fermentasi cairan urine dan feses padat kambing gembel yang dicampur sulfur, urea, dan sejumlah bahan lainnya untuk menghasilkan pupuk organik.
Sekilas diungkapkan oleh Dandim 0307/TD Letkol Inf Wisyudha Utama melalui Pgs Danramil 05/X Koto Serka Zainal Tanjung menginovasi warga, tentang proses fermentasi dilakukan dengan mengumpulkan cairan urine dan feses padat kambing yang dicampur sejumlah bahan dibiarkan tercampur sempurna selama 30 hari.
Dalam tiga wadah fermentasi yang dibangun, setiap wadah mampu menghasilkan 3000 liter pupuk organik cair, dalam satu bulan.
“Setiap bulannya, bisa mencapai sembilan ribu liter pupuk organik cair dihasilkan dari proses fermentasi ini,” jelasnya.
Sementara, untuk penggunaannya, setiap satu liter pupuk organik cair hasil fermentasi akan dicampur dengan 20 liter air, dan siap untuk digunakan.
“Tentunya, ini akan sangat membantu petani. Setiap sepuluh liter pupuk seharga Rp50 ribu. Soal khasiatnya untuk tanaman, bisa dibuktikan,” sebutnya.
Pupuk organik cair buatan warga ini dinilai mampu meningkatkan kandungan unsur hara yang diperlukan tanaman, meningkatkan produktivitas tanaman, merangsang pertumbuhan daun, batang, dan akar; serta menyuburkan dan menggemburkan tanah, hingga tanaman jeruk di areal pertanian mampu berbuah tanpa terputus.
“Semangat untuk membantu para petani melalui ketersediaan pupuk organik. Mari bertani kembali ke alam, dari alam, untuk alam, oleh alam,” katanya.**








