Example floating
Example floating
Example 728x250
Budaya

Ketua KAN Nagari Gurun Feby Dt. Bangso Kayo Akan Malewakan Gelar 7 Datuk dan 2 Katik, Perkuat Struktur Adat Luhak Nan Tuo

×

Ketua KAN Nagari Gurun Feby Dt. Bangso Kayo Akan Malewakan Gelar 7 Datuk dan 2 Katik, Perkuat Struktur Adat Luhak Nan Tuo

Sebarkan artikel ini

Sungaitarab  |  MentrengNews. Com – Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, menggelar prosesi adat malewakan (penobatan) gelar bagi 7 orang Datuk dan 2 orang Katik. Acara yang dipimpin langsung oleh Ketua KAN Nagari Gurun, Dr. H. Febby Dt. Bangso Kayo, ini akan berlangsung secara khidmat di Balerong Nagari Gurun pada Minggu (12/7/2026).

Diantara 6vDatuk yang akan dikewakan adalah, Muhammad Zidane Dt.Basa (Patopang) , Rio Antoni, S.E , Dt. Rajo Malano (Palancuang Tinggi), Muhammad Syukur, S.Pd.I., Dt. Bidang Rajo (Piliang Laweh), Amron Dt. Malano Nan Putiah (Payo Bada), Amri Dt. Mangkuto Kayo Nan Kuniang (Patopang), Arif Budiman, S.E., A.Md., Dt. Rajo Endah (Patopang). Dan yang 2 Khatik adalah, M. Hafiz Khatik Malano Nan Putiah dan Richie, Khatik Mangkuto Kayo nan Kuniang.

Prosesi malewakan ini merupakan momen penting dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, di mana para penerima gelar disahkan secara resmi oleh ninik mamak untuk memimpin kaumnya, menjaga marwah adat, dan menjadi pelopor kebaikan di tengah masyarakat. Keenam Datuk yang dilewakan berasal dari berbagai suku di empat jorong Nagari Gurun (Gurun, Sitakuak, Ampalu, dan Luhak Gadang), sementara tiga Katik diangkat untuk membantu tugas-tugas keagamaan dan syarak di nagari.

Ketua KAN Dr. H. Febby Dt. Bangso Kayo juga meluruskan gelar adat nya yang selama 93 ahun sejak dipinjam oleh awaludin hamid seorang jaksa pada tahun 1933 zaman angku lareh Gurun

Lah baliak siriah ka gagangnya , lah baliak baliak pinang ka tampuaknyo , karih lah masuak ka saruangnyo dan baliak soko ka nan pinyo

Sasuai barih balabeh dalam tambo adat nagari gurun , jaleh sosok jarami , pandam pakuburan , nan bana ndak bisa diasak

menekankan bahwa gelar adat bukan sekadar simbol kebanggaan, melainkan amanah berat yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab.

“Gelar Datuk dan Katik adalah titipan dari nenek moyang. Saya berpesan kepada keenam Datuk dan ketiga Katik yang akan dilantik, jangan jadikan gelar ini sebagai alat untuk mencari kekuasaan pribadi. Jadikanlah ia sebagai wadah untuk melayani kaum, menyelesaikan sengketa secara musyawarah, dan menjaga kelestarian adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” ujar Dr. Febby Dt. Bangso Kayo SH, Sst.Par M.Par QRGP CFA

Prosesi adat dimulai dengan pidato pasambahan oleh pemangku adat senior, dilanjutkan dengan pembacaan surat ketetapan gelar, pemasangan atribut adat (tengkuluk, tali bahu, dan cincin), serta pengambilan sumpah janji di hadapan Al-Qur’an dan pusaka adat. Suasana di Balerong Nagari Gurun terasa sangat sakral, dengan kehadiran ratusan undangan yang terdiri dari Forkopimcam Sungai Tarab, Wali Nagari, penghulu dari nagari tetangga, serta keluarga besar penerima gelar.

Salah satu Datuk yang baru dilewakan, Muhammad Syukur yang akan Dilewakan gelar daruknya Minggu 12 Juli 2026 esok, menyatakan rasa syukur dan kesiapannya untuk mengemban amanah tersebut. “Ini adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya. Saya berjanji akan belajar banyak dari para senior dan selalu membuka pintu bagi siapa saja yang membutuhkan nasihat atau penyelesaian masalah di kaum kami,” katanya.

Salah seorang tokoh masyarakat Gurun yang tidak mau disebut namanya, menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan identitas budaya nagari. Menurutnya, sinergi antara pemerintah nagari dan lembaga adat yang kuat akan mempercepat terwujudnya visi Nagari Gurun yang mandiri dan berbudaya.

Acara akan ditutup dengan makan bersama, yang semakin mempererat tali silaturahmi antarwarga dan antar-suku di Nagari Gurun. Dengan dilantiknya 6 Datuk dan 3 Katik baru, diharapkan struktur kepemimpinan adat di Nagari Gurun semakin solid dalam menghadapi dinamika sosial masyarakat modern tanpa kehilangan jati diri Minangkabau. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *