Padang | MentrengNews.com – Konsep merantau khas Minangkabau bertemu dengan kisah diaspora internasional dalam gelaran sastra “Rantau and Rhythm: When Poetry Becomes a Home” di Mini Theater Youth Center Padang, Sabtu (11/10/2026).
Acara dwibahasa yang digagas DPD SatuPena Sumatera Barat bersama Sumbar Talenta dan IMLF ini mempertemukan penyair, penulis, pegiat budaya, dan perwakilan Pemerintah Kota Padang dalam sebuah pertukaran sastra budaya.
Bintang tamu utama adalah Mai White (Võ Thị Như Mai), penyair dan penerjemah Vietnam-Australia, pendiri Multicultural Press Australia dan majalah The Rhythm of Vietnam.
Ketua panitia Basnurida dalam laporannya menyebut acara ini sebagai ruang dialog antara tradisi lokal dan perspektif global. Hal senada disampaikan Ketua SatuPena Sumbar, Sastri Bakry, yang menegaskan pentingnya sastra sebagai jembatan antar bangsa. Perwakilan Pemko Padang turut hadir mewakili Wali Kota.
Dalam acara tersebut juga diluncurkan dua buku, yakni _Seven Summits West Sumatra_ karya Two Efly dan Azib Fattah Mandala Putra yang mengangkat keindahan pegunungan Sumbar, serta _Smart Book, Augmented Reality_ karya Rifky S. Jamal dkk tentang inovasi penerbitan interaktif.
Dalam sesi utama bertema “Pembacaan Puisi, Kisah Diaspora, dan Konsep Rantau”, Mai White membagikan pengalamannya hidup di antara dua budaya.
Vietnam adalah bahasa, ingatan, dan warisan saya. Australia adalah ruang multikultural tempat saya belajar merangkul perbedaan melalui sastra, ungkapnya.
Menurut Mai, puisi adalah rumah portabel yang bisa dibawa siapa saja melintasi batas negara. Dengan menjaga bahasa ibu dan tradisi, seseorang justru memiliki fondasi lebih kuat untuk menghargai budaya lain.
Gagasannya selaras dengan filosofi merantau Minangkabau, di mana pergi dari kampung halaman bukan untuk melupakan, melainkan untuk tumbuh, mandiri, dan kembali dengan pemahaman yang lebih dalam.
Kemeriahan berlanjut dengan parade baca puisi dari tujuh penyair Sumbar: Yeni Ibrahim – “100 Tahun Jam Gadang”, Fauzul El Nurca – “Lucunya Negeri Ini”, Murziyenny – Jembatan Dua Benua”, Nurhayani – “Ikatan Tanpa Sekat”, Marniyeti – Perempuan adalah Rumah”, Uncu Munur, dan Rezkya Amelia – “Himalaya kepada Asap Penampilan penuh haru datang dari Rahmat Zainun Abdullah yang membacakan puisi tentang rindu pada anak-anaknya saat bertugas jauh.
Momen simbolis terjadi saat Mai White menyerahkan naskah terbitan Multicultural Press Australia kepada Pemko Padang sebagai komitmen kolaborasi sastra Indonesia, Vietnam, dan Australia.
Acara ditutup dengan pesan: _Puisi Menyatukan Kita – Poetry Brings Us Together._
Bagi Mai, makna rantau adalah menemukan dunia baru tanpa melupakan dari mana kisah itu bermula.(Uncu Ed)










