Payakumbuh | MentrengNews. Com – Rasa cemas menyelimuti para pengemudi transportasi online di Kota Payakumbuh. Rencana pengoperasian 13 unit bus listrik di Kota Payakumbuh dinilai akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendapatan mereka.
Kecemasan itu disampaikan langsung oleh para pengemudi ojek online saat menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) atau hearing bersama Komisi C DPRD Kota Payakumbuh, Selasa (30/9/2026) di Gedung DPRD.
“Bagaimana nasib kami para pengemudi online ini jika bus listrik di Payakumbuh mulai beroperasi?” itulah salah satu keluhan yang disampaikan para driver dalam forum tersebut.
Hearing tersebut dipimpin langsung oleh Anggota DPRD Komisi C, Fitrayanto, bersama empat anggota Komisi C lainnya, di antaranya Mesrawati dan Dion Fernandez.
Para pengemudi online yang hadir berjumlah 7 orang perwakilan, yang dikomandoi oleh Ketua Serikat Pengemudi Transportasi Online Indonesia (S.P.E.E.D), Bayu Rivan, S.E.
Dalam hearing itu, Bayu Rivan menyampaikan keluhan dan kekhawatiran anggotanya terkait rencana masuknya 13 unit bus listrik yang akan beroperasi di Kota Payakumbuh.
“Kami dari S.P.E.E.D mewakili ratusan driver online yang ada di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Kami datang ke sini bukan menolak program pemerintah, tapi kami khawatir. Jika 13 unit bus listrik ini beroperasi di semua rute dalam kota, dengan tarif murah bahkan gratis, maka secara otomatis orderan kami akan mati,” ujar Bayu Rivan di hadapan anggota dewan.
Bayu menjelaskan, selama ini driver online menjadi tumpuan transportasi masyarakat, terutama untuk mobilitas jarak dekat dan menengah di dalam kota. Kehadiran bus listrik dengan trayek yang tumpang tindih dikhawatirkan akan mematikan secara perlahan.
“Kami ini bukan pegawai, kami tidak digaji. Kami hidup dari orderan harian. Satu hari tidak narik, dapur kami tidak ngebul. Kami mohon kepada DPRD, tolong kaji ulang trayek dan sistem operasionalnya. Jangan sampai kemajuan transportasi justru mematikan rakyat kecil,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Rapat, Fitrayanto, menyatakan pihaknya memahami kekhawatiran para driver. Pihaknya berjanji akan menindaklanjuti aspirasi tersebut kepada Pemerintah Kota Payakumbuh, khususnya Dinas Perhubungan.
“Kami dari Komisi C menerima dan memahami apa yang menjadi keresahan kawan-kawan S.P.E.E.D. Tentu setiap kebijakan harus berkeadilan. Kami akan panggil Dishub untuk meminta penjelasan detail terkait konsep operasional 13 bus listrik ini, trayeknya di mana saja, dan bagaimana mitigasi dampaknya terhadap transportasi online yang sudah ada,” ujar Fitrayanto.
Ia juga menegaskan, hearing ini menjadi catatan penting bagi DPRD agar pembangunan transportasi di Payakumbuh tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
“Kita ingin transportasi maju, tapi driver lokal juga harus tetap hidup. Harus ada win-win solution,” tutupnya.
Hingga hearing selesai, para pengemudi berharap ada solusi konkret dari pemerintah agar keberadaan bus listrik tidak mematikan mata pencaharian.(Debby)








