Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

DI PERSIMPANGAN JALAN* SRIKANDI n’ Papie Series

×

DI PERSIMPANGAN JALAN* SRIKANDI n’ Papie Series

Sebarkan artikel ini

_By: Al Faruq_

Cerpen; Motivasi, Edukasi dan Dakwah.

Dinding rumah kontrakan berukuran 3×4 meter itu menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Di sana, berderet medali emas skala nasional hingga internasional yang mulai berdebu, saksi hidup bahwa Bahar pernah menjadi atlet beladiri legendaris yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Namun sekarang, realita menamparnya keras.

Bahar hanyalah seorang satpam sif malam dengan seragam yang mulai pudar warnanya.

Siang itu, kepalanya serasa mau pecah. Di dalam kamar, istrinya terbaring lemas menahan sakit parah tanpa obat yang memadai. Sementara di sudut ruangan, Rani, putri kecilnya, duduk termenung menatap ijazah kelulusan SD-nya. Uang pangkal SMP yang mahal membuat impian Rani menggantung di awang-awang.

Alih-alih mendapat simpati saat menceritakan kesulitannya di pos satpam, Bahar justru dijadikan bahan olokan oleh rekan kerjanya yang bermulut lancang. “Zaman sekarang medali enggak bisa digoreng, Har ! Kalau mau cepat kaya buat bini sama anak lu, nih gue punya dua jalur kilat: jadi kurir ‘tepung ajaib’ alias sabu, atau lu bawa badan lu ke klinik gelap buat jual satu ginjal. Pikirin deh, daripada anak lu putus sekolah !” hasut rekan kerjanya sambil terkekeh.

Sepanjang jalan pulang selepas sif malam, di atas sepeda jengki tuanya yang berdecit, pikiran Bahar berkecamuk hebat. Angin malam menusuk tulang, seirama dengan badai di hatinya yang terjebak di antara harga diri seorang mantan juara dunia dan tuntutan darurat perut keluarganya.

Jalan setapak menuju arah kontrakannya sangat sepi dan minim penerangan. Dari kejauhan, Bahar melihat siluet sebuah mobil sedan mewah yang berhenti di bahu jalan. Dua pria berbadan kekar dan berwajah kasar sedang menggedor-gedor kaca mobil dengan brutal, membawa senjata tajam.

Bahar yang lelah secara fisik dan batin sempat mengayuh sepedanya lebih cepat. Ia berniat acuh. Jiwa penolongnya seolah sudah mati terkubur oleh kemiskinan. Namun, tepat saat sepedanya melintas sejajar dengan mobil itu, sebuah jeritan histeris memecah malam.
“Papaaa! Takut, Paaa ..!”
Suara anak perempuan itu terdengar begitu ketakutan. Bahar tersentak. Suara itu sangat mirip dengan suara Rani. Detik itu juga, darah atletnya mendidih. Jiwa kesatria yang lama tertidur langsung bangkit bergolak.

Bahar memutar balik sepedanya, menghentikannya dengan standar yang berbunyi nyaring. “Woiii, Jangan ganggu mereka ..!” teriaknya tegas.

Kedua perampok itu menoleh lalu tertawa meremehkan melihat seorang satpam kurus bersepeda tua menantang mereka. Namun, mereka salah pilih lawan. Ketika salah satu perampok mengayunkan celurit, insting bela diri Bahar yang sudah mendarah daging langsung mengambil alih. Dengan gerakan lincah, ia menghindar, menangkap pergelangan tangan lawan, dan melakukan teknik bantingan Ikkyo yang membuat perampok pertama berdentum keras di atas aspal. Perampok kedua yang mencoba menyerang dari belakang langsung disambut dengan tendangan putar belakang tepat di rahangnya.

Hanya dalam hitungan detik, kedua penjahat itu lari tunggang langgang sambil memegangi tulang mereka yang bergeser. Pak Rahmat, pemilik mobil yang gemetar, segera keluar dan menyodorkan segepok uang tunai pecahan seratus ribu yang tebal dari dompetnya.
“Terima kasih, Pak ..! Tolong terima ini untuk tanda terima kasih saya !”
Bahar menatap uang itu, lalu menatap tingginya langit malam. Dengan perlahan, ia mendorong kembali tangan Pak Rahmat. “Simpan uang Anda, Pak. Jaga putri Anda baik-baik,” ucap Bahar datar, sambil melirik kedalam mobil ada anak remaja sebaya anaknya dan wanita cantik yang terlihat lemah bersandar. Ia lalu menaiki sepedanya dan berlalu pergi, menyisakan kekaguman di mata Pak Rahmat dan Alya, putri kecilnya serta istrinya yang terlihat pucat dan lemah. Bahar saat itu memilih pulang dengan dompet kosong, demi menjaga kehormatan prinsip hidupnya sebagai mantan jawara.

Sesampainya di rumah, Bahar baru saja hendak memutar kenop pintu kayu kontrakan yang rapuh ketika ia mendengar suara bisikan dari dalam. Ia terpaku dan mengintip dari celah pintu yang renggang.

Di dalam, Rani sedang memijat kaki ibunya yang pucat pasi. Rani meratap lembut sambil berdoa, “Ya Allah, sembuhkan Ibu… Rani rela enggak usah masuk SMP, Rani rela kerja apa aja asal Ibu bisa berobat dan enggak kesakitan lagi…”

Mendengar ketulusan dan pengorbanan putrinya, pertahanan Bahar runtuh. Air matanya mengalir deras tanpa suara. Dada mantan atlet tangguh itu sesak luar biasa. Ia terduduk lemas di lantai teras hingga kepalanya tanpa sengaja membentur pintu. Tok ! Mendengar suara di luar, Rani dengan cekatan membuka pintu. Bahar yang panik langsung menghapus air matanya dengan lengan baju, lalu memasang topeng senyum paling lebar dan ceria yang bisa ia pamerkan.
“Eh, Rani belum tidur ?” tanya Bahar dengan suara yang diusahakan tegap. “Ada kabar gembira! Besok Ayah dipanggil bos besar di kantor pusat untuk menerima uang bantuan khusus buat berobat Ibu dan biaya sekolah kamu. Jadi, Rani harus siap-siap masuk SMP ya !”

Mendengar kalimat itu, sang istri yang berbaring langsung menangis haru sambil mengucap syukur, sementara Rani memeluk ayahnya dengan gembira. Bahar membalas pelukan itu dengan erat, meski dalam hatinya ia tahu, esok hari ia harus nekat memeras otak dan raganya demi mewujudkan kebohongan demi kebaikan tersebut.

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah di rute jalan setapak lingkungan tersebut. Di sinilah takdir mulai bermain secara jenaka bersama tiga remaja muslimah yang luar biasa.

Tiga Srikandi tangguh Kakak Ratu yang tegas, Kakak Wiwie yang selalu ceria, dan si bungsu Shifa yang lincah sedang melakukan lari maraton pagi. Ketiganya tampil anggun namun sporty dengan hijab instan yang menutup dada dan pakaian olahraga longgar. Walau berhijab, keluguan dan kejenakaan khas remaja mereka tidak hilang sama sekali.

Bukannya lari dengan jaim, mereka justru berlari sambil bercanda heboh. Kakak Wiwie mencoba menjegal kaki Shifa, yang dibalas Shifa dengan tarikan ujung hijab Kakak Ratu sampai agak miring.
“Shifaaa ! Hijab Kakak meleyot nih !” omel Kakak Ratu ketus sambil membetulkan peniti jilbabnya.

Kakak Ratu langsung mengejar keduanya dengan langkah seribu. Jalanan yang sepi mendadak riuh dengan tawa terpingkal-pingkal dan kejar-kejaran fisik khas tiga saudari muslimah yang kelewat akrab namun tetap menjaga kesopanan.

Di belakang mereka, Sang Papie berjalan santai memantau anak-anak gadisnya yang super aktif itu sambil geleng-geleng kepala. Rute maraton heboh para Srikandi berhijab ini ternyata telah digariskan bersilang dengan takdir kelam yang sedang menjemput Bahar.

Di sudut jalan raya yang tak jauh dari rute lari para Srikandi, pintu sebuah klinik kesehatan swasta terbuka. Bahar melangkah keluar dengan perlahan. Wajahnya seputih kertas, bibirnya kering, dan sesekali ia meringis geli bercampur perih luar biasa sambil memegangi pinggang bagian belakangnya. Namun, sebuah senyum lega tak lepas dari wajahnya.

Di tangannya, ada sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai dalam jumlah besar. Demi menepati janjinya semalam kepada anak dan istrinya, Bahar telah mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: mendonorkan salah satu ginjalnya melalui jalur cepat klinik terafiliasi tersebut.

Nahas, saat ia berjalan sempoyongan menuju sepedanya, dari arah berlawanan melintas sebuah sepeda motor yang dinaiki bertiga oleh tiga orang preman jalanan.

Salah satu dari mereka yang ternyata adalah rekan dari perampok yang dihajar Bahar semalam langsung melotot.

“Woi, lihat ! Itu kan bangsat yang menggagalkan operasi kita tadi malam !” teriaknya dendam.

Motor langsung berputar arah dengan kasar. Ketiga preman itu turun dan tanpa basa-basi langsung menyerang Bahar secara membabi buta. Dalam kondisi normal, Bahar bisa menumbangkan mereka dalam tiga hitungan. Namun sekarang, kondisi fisiknya pasca-operasi sangat lemah. Staminanya benar-benar ambruk.

Bugh ! Bagh ! Pukulan dan tendangan maut bersarang di tubuh Bahar. Ia terjerembap ke aspal panas. Fokus utamanya bukan lagi melindungi diri, melainkan mendekap erat amplop cokelat di dadanya. Namun, sebuah sepakan keras membuat amplop itu robek, dan lembaran uang di dalamnya berhamburan ke jalanan. Para preman yang kalap mulai menjarah uang tersebut. Di saat yang sama, salah satu preman mengangkat kakinya tinggi-tinggi, siap mendaratkan tendangan maut tepat ke arah kepala Bahar yang sudah kritis dan setengah pingsan.

DUAK !
Tepat satu milidetik sebelum sepatu preman itu mengenai pelipis Bahar, sebuah hantaman keras memotong udara. Shifa, yang melesat paling depan, berhasil melakukan tangkisan atas yang kokoh. Hijab instannya berkibar saat ia mematahkan arah tendangan maut tersebut tepat pada waktunya !

“Astagfirullah ! Berani ya … Tiga lawan satu, enggak tahu malu ..! Mana lawannya lagi sakit ..!” teriak Shifa lantang, mencerminkan prinsip pembela kebenaran sejati.

Dalam sekejap, Kakak Ratu dan Kakak Wiwie melompat ke depan, merapikan posisi jilbab mereka sejenak, lalu langsung mengambil posisi Kamae (sikap pasang) Shorinji Kempo yang sangat kokoh di depan tubuh Bahar. Dua remaja muslimah ini tampak begitu anggun sekaligus mengintimidasi.

Pertarungan sengit di jalanan pun pecah ! Tiga preman sadis melawan Tiga Srikandi Berhijab. Aksi bela diri ini berjalan estetik sekaligus jenaka. Kakak Ratu maju dengan teknik Goju (serangan keras), mendaratkan pukulan beruntun yang membuat preman pertama pusing tujuh keliling.

Sementara itu, Kakak Wiwie dengan cerdas memanfaatkan teknik Juho (lunak/kuncian). Saat lengannya ditarik preman kedua, dengan gerakan santun namun mematikan, ia memuntir balik pergelangan tangan lawan hingga terdengar bunyi klek, lalu melemparnya ke semak-semak. “Punten, Mas ! Rasain tuh !” seru Kakak Wiwie kocak.

Shifa yang paling bungsu memutar badan dan memberikan tendangan ganda yang membuat preman ketiga terjungkal. Sayangnya, karena kewalahan melihat ketangguhan tiga bersaudara muslimah yang cerdas dan tangkas ini, para preman memilih kabur kocar-kacir. Namun di tengah kepanikan, salah satu preman sempat menyambar sisa uang di dalam amplop cokelat milik Bahar sebelum lari sekencang-kencangnya.

Papie yang tiba di lokasi beberapa saat kemudian langsung berlari menghampiri Bahar. “Astaga, pendarahan hebat ini !” seru Papie melihat darah segar mulai merembes dari balik baju bagian pinggang Bahar. Kondisi Bahar mulai kehilangan kesadaran akibat pendarahan pasca-operasi yang robek kembali akibat benturan.

Dibantu oleh warga sekitar, Papie dan 3 Srikandi langsung mencari kendaraan dan melarikan Bahar menuju rumah sakit utama terbesar yang berada paling dekat dari lokasi untuk mendapatkan pertolongan darurat.

Takdir yang rumit membawa mereka ke koridor rumah sakit yang sama. Bahar yang sudah pingsan didorong dengan sangat terburu-buru di atas brankar menuju ruang UGD oleh Papie, tim medis, dan 3 Srikandi yang panik bukan main. Shifa dan Kakak Wiwie bahkan sampai harus memegangi jilbab mereka agar tidak melorot saat ikut berlari mendorong brankar.

Pada saat yang bersamaan, dari arah berlawanan di koridor yang sama, sebuah kursi roda sedang didorong oleh seorang suster menuju ruang operasi pemulihan. Di atas kursi roda itu duduk istri Pak Rahmat, wanita paruh baya yang cantik namun berwajah sangat pucat. Ia ditemani oleh Pak Rahmat yang tampak tegang dan Alya yang terus menggenggam tangan ibunya.

Dua rombongan ini sempat berjalan sejajar, bahkan brankar Bahar dan kursi roda tersebut sempat bersisian selama beberapa detik di koridor dalam suasana genting yang mencekam. Namun, karena situasi yang sangat panik, terburu-buru, dan fokus pada keselamatan masing-masing, kedua belah pihak sama sekali tidak saling menoleh ataupun mengenali satu sama lain. Keluarga kaya tersebut fokus pada transisi pasca-operasi sang ibu, sementara Srikandi n’ Papie sibuk berteriak meminta jalan demi menyelamatkan nyawa Bahar yang terus kritis.

Waktu berlalu dalam ketegangan yang sunyi di sudut lain rumah sakit. Di dalam ruang pemulihan (recovery) yang tenang dan berfasilitas mewah, suasana haru biru menyelimuti keluarga Pak Rahmat. Operasi transplantasi ginjal darurat yang dijalani istrinya beberapa jam lalu dinyatakan berjalan dengan sangat lancar oleh tim dokter spesialis. Proses transfusi organ baru tersebut menyatu dengan tubuh sang istri tanpa ada komplikasi sedikit pun.
Perlahan, wanita paruh baya itu membuka matanya. Ia disambut oleh air mata bahagia dan senyum haru dari Pak Rahmat. Alya langsung menghambur memberikan pelukan hangat yang sangat hati-hati.
“Terima kasih, Ya Allah… Ibu sudah sehat lagi,” bisik Alya lirih.

Mereka berkumpul melingkari tempat tidur, saling menggenggam tangan dengan penuh rasa syukur yang luar biasa mendalam. Mereka merayakan keajaiban kesempatan hidup kedua bagi sang ibu. Di dalam hati, mereka merasa sangat beruntung karena pihak klinik terafiliasi berhasil mendapatkan donor ginjal yang cocok dalam waktu singkat, tanpa pernah menduga sedikit pun sebuah kenyataan pahit: bahwa ginjal yang kini berfungsi di dalam tubuh sang ibu adalah milik Bahar, pria bersepeda tua yang malam sebelumnya telah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan mereka dari rampokan preman jalanan.

Di dalam ruang perawatan pasca-operasi mewah tersebut, dokter utama didampingi pihak manajemen rumah sakit sedang melakukan kunjungan rutin (visite). Mereka memeriksa lembaran grafik medis istri Pak Rahmat dan memberikan ucapan selamat atas kesuksesan transfusi yang berjalan sempurna.
Namun, di tengah obrolan hangat itu, pintu ruangan mendadak terbuka lebar dengan kasar. Seorang suster masuk dengan napas yang memburu dan wajah ketakutan. Ia mendekati dokter utama dan membisikkan sesuatu yang sangat darurat. Detik itu juga, raut wajah dokter utama berkerut tegang.

“Maaf Pak Rahmat, ada pasien darurat di UGD yang mengalami komplikasi pendarahan hebat akibat bekas operasi donor yang terbuka paksa. Saya harus ke sana sekarang !” seru dokter langsung bergegas keluar.

Didorong oleh rasa penasaran dan firasat yang tidak biasa, Pak Rahmat dan Alya tanpa sadar melangkah keluar ruangan, mengikuti langkah cepat sang dokter dari belakang melewati koridor demi koridor hingga sampai di instalasi UGD.

Begitu melangkah di ambang pintu bangsal UGD, langkah kaki Pak Rahmat mendadak terkunci kaku. Matanya terbelalak menatap sosok pria yang sedang dikerumuni tim medis di atas kasur. Pada detik yang sama, keheningan UGD pecah oleh teriakan histeris Alya yang menunjuk ke arah ranjang.
“Itu Bapak Jagoaaannn…!!!”

Alya menangis sejadi-jadinya sambil menarik-narik ujung jas Pak Rahmat dengan panik. “Itu Bapak jagoan yang tolong kita tadi malam, Papa ! Tolong dia, Pa! Kenapa dia berdarah-darah begitu ? Segera tolong dia !”
Pemandangan emosional dan penuh histeria anak-anak itu spontan membuat dokter, suster, serta Papie dan 3 Srikandi berhijab yang berdiri cemas di sekeliling ranjang Bahar langsung melongo bengong kebingungan. Mereka menatap bergantian antara Alya yang menangis dan Bahar yang tak sadarkan diri.

Melihat histeria Alya dan perintah tegas dari Pak Rahmat yang langsung mengenali Bahar, dokter utama dan seluruh tim medis terbaik rumah sakit segera mengambil tindakan taktis maksimal. Luka robekan pasca-operasi di pinggang Bahar yang mengalami pendarahan hebat dijahit ulang dengan sangat hati-hati menggunakan peralatan paling lengkap dan obat-obatan kualitas premium (perawatan plus). Selama proses yang menegangkan itu, Papie, 3 Srikandi, Pak Rahmat, dan Alya menunggu di luar koridor dengan cemas, saling bertukar cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah beberapa jam berlalu dan dokter memastikan kondisi Bahar sudah aman serta melewati masa kritisnya, Bahar langsung dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang sangat mewah dan luas, sesuai dengan permintaan khusus dan penuh desakan dari Pak Rahmat.

Di dalam ruang VIP yang tenang, tempat Bahar terbaring diam namun dengan napas yang sudah teratur dan wajah yang mulai memerah, Pak Rahmat akhirnya membuka suara di hadapan Papie, dokter, serta para Srikandi yang menyimak dalam keheningan yang mendalam.

“Beliau ini… adalah pahlawan kami sekeluarga tadi malam. Beliau menyelamatkan kami dari orang-orang beringas yang berniat merampok kami di tempat sepi, tepat setelah ban mobil saya selesai diganti karena kempes bocor,” ujar Pak Rahmat dengan suara yang bergetar penuh rasa hormat dan penyesalan karena sempat kehilangan jejak sang penolong yang menolak imbalan tersebut.

Mendengar kesaksian itu, dokter utama menghela napas panjang dan menambahkan fakta medis yang membuat seisi ruangan merinding haru.

“Pak Rahmat, ada satu hal lagi, ucap Pak Rahmat memecah keharuan. Pria yang ada di depan kita ini adalah mantan atlet kebanggaan negara kita di masa lalu. Dan alasan mengapa dia berada di klinik gelap tadi pagi adalah karena dia nekat mendonorkan ginjalnya demi mendapatkan biaya instan untuk pengobatan istrinya yang sakit sakral dan biaya sekolah putrinya. Dan… ginjal dari pria mulia inilah yang sekarang terpasang di tubuh istri Anda.”

Detik itu juga, suasana ruangan menjadi sangat sunyi. Pak Rahmat dan Alya tersentak hebat dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menyadari takdir luar biasa yang telah mengikat kehidupan keluarga mereka dengan organ tubuh pria bersepeda tua ini.

Memecah keheningan, Pak Rahmat menatap sang dokter dengan pandangan mata yang tegas, tulus, namun sangat bersahaja.
“Oh, begitu rupanya, suara parau Pak Rahmat menahan sesak di dadanya… Dokter, tolong maksimalkan seluruh perawatan untuk Pak Bahar dan juga istrinya yang sedang sakit. Pindahkan istrinya ke kamar VIP di sebelah ruangan ini sekarang juga. Biarkan seluruh biaya pengobatan mereka berdua, termasuk seluruh biaya pendidikan putrinya hingga ke perguruan tinggi, saya yang menanggung semuanya sampai tuntas !”

Ucapan tulus itu seketika disambut dengan senyum lega dan binar mata bahagia dari Papie dan 3 Srikandi. Kakak Ratu, Kakak Wiwie, dan Shifa yang berprinsip teguh dan berhati emas langsung mengucap hamdalah bersama-sama. Mereka saling berpelukan dan melakukan tos kemenangan tiga arah dengan kompak di sudut ruangan, membetulkan kembali posisi hijab mereka yang berantakan dengan senyum ceria yang paling tulus. Berkat ketulusan hati sang mantan atlet legendaris serta aksi sigap bin heboh dari Srikandi n’ Papie, badai dalam kehidupan Bahar akhirnya berlalu, digantikan oleh berkah dan senyum ceria Rani yang siap melangkah gagah menuju bangku SMP dengan seragam barunya.

Tiga hari telah berlalu sejak badai besar itu menghantam kehidupan Bahar. Aroma obat-obatan yang tajam kini digantikan oleh wanginya semerbak buket bunga lili di dalam ruang perawatan VIP yang sejuk.

Pagi itu, Bahar perlahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang putih bersih, jauh berbeda dari atap tripleks kontrakannya yang bocor. Di sisi kanan ranjangnya, sang istri duduk di atas kursi roda dengan wajah yang jauh lebih segar dan tidak sepucat dulu. Di sisi kirinya, Rani sedang menggenggam erat tangannya sambil tertidur pulas dengan kepala bersandar di tepi kasur.

“Ayah sudah bangun ?” bisik istrinya lirih dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Bahar mencoba mengangguk, meski pinggangnya masih terasa sedikit ngilu. “Ibu… kita di mana ? Terus, uang untuk sekolah Rani dan berobat Ibu…” Bahar mendadak panik, ingatan terakhirnya adalah aspal jalanan dan uang yang berhamburan jarahan preman.
“Semuanya sudah beres, Pak Bahar,” sebuah suara bariton yang berwibawa memotong kalimatnya.

Pintu ruangan terbuka. Pak Rahmat masuk bersama istrinya yang kini sudah bisa berjalan pelan, didampingi oleh Alya. Di belakang mereka, menyusul Sang yang tersenyum hangat bersama Tiga Srikandi yang tampak rapi dengan hijab senada berwarna merah muda olahraga.

“Saya Rahmat, Pak. Dan ini istri saya,” ujar Pak Rahmat sambil menggenggam tangan Bahar dengan sangat erat dan takzim. “Wanita di sebelah saya ini bisa kembali berdiri dan tersenyum hari ini, semuanya karena pengorbanan luar biasa dari Anda. Ginjal Anda sekarang hidup di dalam tubuh istri saya.”

Istri Pak Rahmat maju selangkah, menatap Bahar dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak Bahar. Anda bukan cuma menyelamatkan kami dari perampok malam itu, tapi Anda juga memberikan saya kesempatan hidup kedua.”

Bahar terpaku. Ia menatap istrinya, lalu menatap keluarga Pak Rahmat. Air mata menetes di sudut mata sang mantan atlet. Kebohongan demi kebaikan yang ia ucapkan di balik pintu kontrakan malam itu, kini benar-benar diwujudkan oleh takdir Allah melalui cara yang sama sekali tidak pernah ia duga.

Suasana haru itu mendadak berganti menjadi penuh tawa ketika Rani terbangun dan langsung memeluk ayahnya. Di saat yang sama, Alya maju membawa sebuah tas besar berlogo toko perlengkapan sekolah ternama.
“Kak Rani ! Ini buat Kakak !” seru Alya riang sambil membuka tas tersebut.

Di dalamnya terdapat seragam SMP putih-biru yang masih kaku lengkap dengan dasi, sepatu baru, dan sebuah laptop jinjing untuk belajar. Rani menutup mulutnya tak percaya, air matanya tumpah karena bahagia. Impiannya untuk melanjutkan sekolah kini nyata berada di depan mata.

Melihat adegan manis itu, Shifa, si bungsu dari Tiga Srikandi, langsung menyenggol lengan Kakak Wiwie. “Kak Wiwie, lihat deh. Terharu banget rasanya. Jadi pengen sekolah lagi tapi mager ujiannya,” bisik Shifa lugu.
“Hush ! Kamu itu kerjaannya mabal terus kalau pelajaran olahraga,” timpal Kakak Ratu sambil menjewer pelan telinga Shifa dari belakang.

“Aduh, aduh ! Kak Ratu mah hobi banget aniaya anak bawang. Ini hijab instan aku beli mahal loh di olshop, jangan ditarik-tarik !” protes Shifa sambil membetulkan posisi jilbabnya yang agak melorot ke depan, memancing tawa seisi ruangan.

Papie Alfan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anak gadisnya yang tidak bisa diam, bahkan di dalam ruang rumah sakit sekalipun. Papie kemudian melangkah mendekati brankar Bahar.

“Pak Bahar, setelah Anda sembuh total nanti, Pak Rahmat dan saya sudah sepakat. Anda tidak perlu lagi menjadi satpam sif malam. Pak Rahmat meminta Anda untuk menjadi kepala jajaran pengamanan di seluruh jaringan perusahaannya. Dan di akhir pekan, jika Anda berkenan, Anda bisa membantu saya melatih anak-anak bela diri Shorinji Kempo di Komplek kami, agar mereka tidak cuma sibuk bermain HO (Gadget) dan motor-motoroan di jalanan,” ujar Papie Alfan dengan senyum tenang berwibawa.

Bahar tersenyum lebar, senyuman paling tulus dan tanpa beban yang pernah ia miliki setelah bertahun-tahun lamanya. Ia melirik ke arah dinding kamar rumah sakit yang kosong, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa medali emas paling berharga dalam hidupnya bukanlah yang terbuat dari logam dan dipajang di kontrakan, melainkan berkah berupa kesehatan istrinya, masa depan putrinya, dan sahabat-sahabat baru yang berhati emas.

Tiga Srikandi berhijab itu langsung mengambil posisi berdiri tegak berdampingan. Mereka menangkupkan kedua tangan di depan dada sambil mengucapkan hormat khas remaja muslimah yang beradab dan berprinsip. “Osh Selamat sembuh, Pak Senpai Jagoan !” seru mereka kompak, menutup lembaran kelam kehidupan Bahar dengan tawa dan harapan baru yang cerah.

@sorotan
semua orang
Pengikut Nabi Muhammad Saw
Advokat-Pengacara & Konsultan Hukum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *