Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

Maulid Nabi dan Budaya Kesejahteraan Rakyat Aceh

×

Maulid Nabi dan Budaya Kesejahteraan Rakyat Aceh

Sebarkan artikel ini

Mentreng.com  |  Aceh – Maulid nabi merupakan sebuah momentum yang menjadi hari keberkahan bagi seluruh masyarakat muslim dunia. 12 rabiul awal adalah hari lahir nya nabi Muhammad rasulullah SAW.

Bagi masyarakat maulid nabi bukan hanya memperingati dengan berdo’a dan bersyukur saja. Peringatan Maulid nabi dibalut dengan tradisi budaya khanduri yang di prakasai secara kolektif dan gotong royong.

Biasanya sebelum menetap kan tanggal peringatan para tokoh agama dan tokoh agama mengadakan diskusi persiapan untuk mempersiapkan secara matang kemeriahan khanduri tersebut.

Namun seiring dengan kemajuan kebudayaan dan perdakwaan tentang khanduri maulid bid’ah atau tidak yang terpenting adalah makna yang kita petik dalam momentum maulid nabi tersebut.

Saya berani mengatakan khanduri maulid nabi sebagai budaya kesejahtraan yang harus di rawat secara berkelanjutan sampai genarasi selanjut nya.

Beberapa makna yang terkandung dalam peringatan maulid nabi di Aceh :

Gotong Royong

Gotong royong sebagai ciri khas bangsa indonesia. Budaya kolektif masyarakat Aceh dari musyawarah dan kolektif menyumbang makanan segenap kemampuan membuktikan masyarakat Aceh memegang prinsip sosialisme yang kuat.

Saat ini di era globalisasi budaya liberal semakin eksis itu di buktikan dengan banyak negara mengalami ancaman krisis pangan.
Kemeriahan khanduri maulid juga membuktikan masyarakat Aceh siap bertahan dalam kondisi apapun dan sekaligus mengabarkan kepada masyarakat dunia kalau mau menerapkan konsep ketahanan pangan maka belajarlah ke Aceh.

Persatuan

Disana ada persatuan laki laki dan perempuan , orang miskin dan orang kaya yang saling terkoneksi satu sama lain untuk kemudian menyukseskan Acara maulid.

Mereka saling membagi kerja sesuai kemampuan mereka. Kaum perempuan memasak menyajikan makana dan kaum laki laki menyusun agenda dari penerimaan tamu sampai pembagian nasi kepada tamu yang di undang.

Budaya kesejahtraan

Budaya kesejahteraan menjadi perdebatan akhir akhir ini . Dimana pertentangan dua budaya ekonomi semakin tajam yaitu budaya demokrasi dan budaya oligarki.

Salah satu indikator untuk mengukur ketimpangan ekonomi suatu wilayah adalah Rasio Gini. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Rasio Gini Indonesia naik dari 0,380 pada tahun 2019 menjadi 0,385 pada tahun 2020.

Peningkatan rasio gini ini menandakan bahwa terdapat peningkatan ketimpangan pendapatan selama masa pandemi, khususnya terhadap kelompok miskin dan rentan, karena pandemi ini sangat berdampak pada mereka.

Selain itu oligarki menjadi masalah kenapa rakyat sulit mengakses kesejahteraan.Pada kenyatannya di Indonesia terjadi distribusi kekuasaan politik yang timpang karena pengaruh dari oligarki.

Sumber daya material yang dimilikinya membuat posisi daya tawar terhadap keputusan pembuatan kebijakan lebih besar daripada masyarakat yang membuat ketimpangan ekonomi semakin memburuk. Penelitian ini menganalisis pengaruh demokrasi dan oligarki terhadap ketimpangan ekonomi di Indonesia tahun 2006-2018. Data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder.

Metode analisis kuantitatif menggunakan analisis regresi dengan metode OLS, sedangkan analisis kualitatif menggunakan metode wawancara mendalam dan konten analisis.

Hasil estimasi menunjukkan bahwa demokrasi dan oligarki berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan ekonomi di Indonesia.

Maka dalam kondisi serba ketidakpastian seperti ini budaya kesejahtraan rakyat harus kita gelorakan untuk mempercapat tercapai nya cita cita kita bersama yaitu berdaulat secara politik berdikari , secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya.**

Penulis : Baktiar
Ketua Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Lhokseumawe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *