Oleh: Iskandar Muda Hasibuan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Muhammadiyah Aceh
Banda Aceh | MentrengNewa. Com – 14 September 2026, Pertumbuhan ekonomi Aceh mulai menunjukkan momentum positif. Namun, tantangan pembangunan daerah ke depan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan generasi muda memiliki keterampilan yang mampu mengubah pertumbuhan tersebut menjadi pekerjaan layak, peningkatan produktivitas, inovasi, serta kesejahteraan masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Aceh tumbuh 4,86 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 masih berada di angka 5,89 persen, sementara lebih dari 62 persen pekerja berada di sektor informal. Struktur ekonomi Aceh sendiri masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
Kesenjangan antara struktur ekonomi dengan kesiapan keterampilan tenaga kerja inilah yang dinilai perlu segera dijawab melalui perubahan mendasar dalam sistem pendidikan vokasi.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, Iskandar Muda Hasibuan, mendorong agar pendidikan vokasi tidak lagi hanya diposisikan sebagai lembaga pencetak tenaga kerja.
Menurutnya, pendidikan vokasi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi Aceh dengan membangun hubungan yang lebih kuat antara sekolah, industri, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Membentuk Ekosistem Keterampilan Masa Depan
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah Aceh Vocational Future Hub 2035, sebuah ekosistem pendidikan dan keterampilan yang menghubungkan proses pembelajaran dengan kebutuhan ekonomi nyata di masing-masing daerah.
Menurut gagasan tersebut, setiap daerah tidak harus memiliki pola pendidikan vokasi yang seragam. Pengembangan sekolah vokasi dapat disesuaikan dengan potensi dan keunggulan wilayah.
Kawasan pertanian dapat diarahkan pada pengembangan agritech dan agroindustri, wilayah pesisir pada teknologi perikanan dan blue economy, kawasan industri pada bidang energi dan teknik, sementara pusat-pusat perkotaan dapat memperkuat ekonomi kreatif, kecerdasan buatan (AI), perangkat lunak dan bisnis digital.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan vokasi tidak hanya dituntut mengikuti kebutuhan pasar kerja, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan dan membentuk pasar kerja baru.
Para siswa juga didorong untuk mengerjakan berbagai persoalan nyata di masyarakat, mulai dari pengolahan hasil pertanian, pengembangan solusi digital, teknologi energi, peningkatan proses produksi, pengembangan produk halal hingga penciptaan model bisnis baru.
Dalam paradigma tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga dapat berfungsi sebagai laboratorium ekonomi dan inovasi daerah.
AI Bukan Sekadar Mata Pelajaran
Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat reformasi pendidikan vokasi dinilai semakin mendesak.
Integrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Pendidikan vokasi dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi baru.
Bagi Aceh, AI menurut gagasan Iskandar seharusnya tidak diperlakukan hanya sebagai mata pelajaran tambahan.
AI perlu menjadi alat kerja yang dapat digunakan lintas bidang, termasuk pertanian, perikanan, manufaktur, desain, kesehatan, pendidikan, pariwisata, bisnis hingga pelayanan publik.
Karena itu, kompetensi seperti literasi digital, pengolahan data, AI, bahasa asing, komunikasi dan kewirausahaan perlu menjadi kompetensi lintas program keahlian.
Industri Harus Ikut Memiliki Proses Pendidikan
Transformasi pendidikan vokasi juga membutuhkan perubahan dalam hubungan antara sekolah dan dunia industri.
Perusahaan, menurut gagasan tersebut, tidak cukup hanya hadir ketika siswa melaksanakan praktik kerja. Dunia usaha dan industri perlu terlibat dalam menentukan standar kompetensi, kurikulum, teknologi pembelajaran, sertifikasi hingga kebutuhan tenaga kerja.
Guru vokasi juga perlu memperoleh pengalaman industri secara berkala agar kompetensi yang dimiliki tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah pembaruan pendidikan yang selama ini didorong Iskandar di lingkungan Muhammadiyah Aceh, termasuk penguatan pembelajaran mendalam, personalisasi pembelajaran, inovasi, keterampilan abad ke-21, penguatan sains dan teknologi serta pengembangan pendidikan vokasional.
Ijazah Tidak Lagi Cukup
Iskandar juga mendorong gagasan Digital Competency Passport, yakni rekam jejak digital yang dapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan nyata seseorang.
Dokumen tersebut dapat memuat sertifikasi, proyek yang pernah dikerjakan, pengalaman industri serta berbagai kompetensi yang telah dikuasai.
Dalam dunia kerja yang semakin berbasis keterampilan, seorang lulusan tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan pertanyaan, “Lulus dari sekolah mana?”
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang benar-benar mampu Anda kerjakan?”
Perubahan paradigma tersebut sekaligus membuka tiga jalur yang sama-sama bermartabat bagi lulusan pendidikan vokasi, yakni bekerja secara profesional, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, atau menciptakan usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Dari Brain Drain Menjadi Brain Circulation
Visi yang lebih besar dari transformasi pendidikan vokasi adalah menjadikan Aceh bukan sekadar daerah pengirim tenaga kerja, tetapi menjadi produsen talenta.
Anak-anak muda Aceh harus memiliki kemampuan untuk bekerja di Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Timur Tengah, Eropa maupun pasar digital global tanpa harus kehilangan hubungan dengan daerah asalnya.
Talenta Aceh yang bekerja di luar daerah maupun luar negeri diharapkan tetap dapat berkontribusi melalui investasi, transfer pengetahuan, kolaborasi, teknologi, maupun penciptaan lapangan kerja di Aceh.
Dengan demikian, fenomena brain drain atau keluarnya talenta dari daerah dapat diarahkan menjadi brain circulation, yaitu perputaran pengetahuan dan talenta yang tetap memberikan manfaat bagi daerah asal.
Pada akhirnya, revolusi pendidikan vokasi di Aceh bukan sekadar tentang memperbarui kurikulum atau menambah peralatan praktik. Lebih dari itu, perubahan tersebut menyangkut bagaimana sekolah membentuk generasi muda yang mampu membaca perubahan, menguasai teknologi, menciptakan inovasi dan menghasilkan pekerjaan masa depan. (Rizki M)








