Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, cinta dan Realita)

×

“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, cinta dan Realita)

Sebarkan artikel ini

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 17

“MUHAMMADIYAH BANGUN”

Memperhatikan perjalanan jenjang pendidikan dan pengelaman berorganisasi bahwa penulis tidak ada satupun mengecap pendidikan yang bernafas apalagi di bawah naungan organisasi Muhammadiyah. Tingkat Dasar; SD Inpres Padang Palak. Tingkat Menengah Pertama; MTsN Ganting Padang Panjang. Tingkat Menengah Atas; MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang. Sedangkan Kuliah di IAIN”IB” Padang.

Organisasipun tidak ada, kecuali hanya mengikuti Masta selama 3 hari di awal masuk kuliah. Saat itu, seorang Mahasiswa harus memiliki sertifikat organasasi (yang penulis dengar). Setelah mendapatkan sertifikat tersebut, jangankan menjadi pengurus, aktif pun tidak ada lagi. Prinsipnya, penulis tidak mengenal tentang Muhammadiyah.
Muhammadiyah Bangkit dan bangun kembali di nagari Paninggahan terasa baru kemaren. Apakah belum ada Pergerakan Muhammadiayah di paninggahan sebelumnya? Sudah ada!.

Namun penulis akan mengurai lebih panjang sesuai yang penulis ketahui sejak akhir tahun 1999. Mana yang tercecer, biarlah yang mengetahui melengkapi dan menyempurnakannya. Terhadap nama yang tersebut atau yang tidak dalam tulisan ini, rila dan maaf di minta terlebih dahulu.

Dari manakah penulis akan memulainya? Dari Surat undangan.
Tanggal tidak ingat karena sehelai kertas undangan itu tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini. Andaikan terfikir di saat itu bahwa sehelai kertas tersebut akan berarti dan menjadi salah satu saksi sejarah bagi penulis, mungkin kertas itu akan penulis simpan dengan baik dan rapi sampai sekarang.

Miskipun kertas itu tidak ada lagi untuk dilihat dan dibaca, tanggal dan isinya, namun tahun yang tertullis dalam surat itu masih penulis ingat yaitu tahun 1999. Kenapa penulis ingat tahunnya? Karena saat itu penulis sedang mengajar di MTI, SD dan SMP Terbuka. Selain itu, di akhir tahun 1999, penulis sedang mengikuti Tes CPNS pada Departemen Agama (Kementerian Agama). Isi dari surat undangan itu adalah untuk menghadiri rapat Ranting Muhammadiyah Paninggahan pada hari Minggu.di TK Bustanul Atfal Aisyiah Balai Usang Kampung Tangah.

Penulis keluarkan si Merah (Cup.70) dari sebuah ruangan tempat kos penulis di Ganting menuju TK Balai Usang. Sampainya di TK itu, penulis bertemu dengan beberapa orang tua, baik laki-laki maupun perempuan yang telah berusia lanjut. Di antara laki-laki yang hadir, hanya penulis yang paling muda dan masih bujangan. Pada umumnya yang hadir dalam rapat itu tidak ada yang penulis kenal. Dan beliau-beliau itu juga belum kenal dengan penulis. Di antara para orang tua yang hadir dan masih teringat oleh penulis adalah: Ayah H.N. Dt. Kayo (alm), Mak. Amir.M (alm), Mak. Syamsi, Mak.Pono Hakam, Mak. H. Helmi Autad, Ibu Nurlela. Acik Nurcaya, Atun. Ayah Dt. Palindih. Mak. Rusjak (alm), Mak. H. Mayasir (alm), Mak.H. Ali, Pk. Asmuni Zam (alm) dan masih ada yang lainnya.

Siapakah semua beliau ni? Saat itu penulis belum mengetahui dan juga tidak tahu agenda rapat. Penulis hanya melihat dan memperhatiakan serta menjalin silaturrahmi sebelum rapat berlangsung.
Rapat dimulai dan penulis dipercaya untuk meminpin rapat dengan agenda pembubaran pengurus lama dan pembentukan pengurus baru. Usulan berkembang tentang sistem pembentukan pengurus baru. Akhirnya diputuskan dengan sistem Voting. Setiap peserta memberikan suara. Hasil dari voting; suara untuk penulis dengan Mak.H. Helmy Autad berimbang.

Bardasarkan hasil negosiasi penulis dengan mak. H. Helmy Audat. ditetapkanlah bahwa: H. Helmy Autad sebagai Ketua, Darmiwandi, S.Ag sebagai Sekretaris dan H. Amin Sutan Mantari sebagai Bendahara.

Amanah ini penulis terima tanpa beban, dan tidak terfikir bahwa ini adalah organisasi Muhammadiyah sementara penulis dalam saat yang bersamaan juga sebagai Sekretaris pada Yayasan Bustanul Abrar (MTI) Paninggahan. Apa itu Muhammadiyah dan apa itu Tarbiyah? Penulis tidak megetahui dan mendalami kedua organisasi tersebut. Amanah dijalankan dengan baik dan maksimal! Itu saja yang ada dalam pikiran dan hati penulis.

Tanpa mengurangi arti, setelah pengurus terbentuk, penulis mengusulkan dengan berbagai pemikiran kepada peserta rapat untuk mendirikan Lembaga Pendidikan demi perkembangan dan kelangsungan pergerakan Muhammadiyah untuk masa yang akan datang. Pemikiran ini ditanggapi positif dan mendapat dukungan dari peserta rapat. Tetapi apa Lembaga Pendidikan yang akan didirikan belum disepakati, namun yang disepakati adalah Lembaga Pendidkan Agama.

Sampai pada bulan Desember 1999, penulis masih berfikir dan mempertimbangkan; Lembaga Pendidikan tingkat apakah yang akan didirikan. Kalau tingkat SLTA/SMU, Penulis merasa tidak sanggup, apalagi banyak mata pelajaran umumnya. Bagaimana dengan tenaga pengajarnya nanti. Kalau MA, penulis masih merasa keberatan, kerena tenaga pengajar juga.

Awal tahun 2000. Pada saat itu, penulis baru saja menikah dengan seorang perempuan. Dimana kami belum pernah saling mengenal sebelumnya. Istri penulis tamatan Perguruan Tinggi Wali Songo di Ngabar/Gontor Jawa Timur pada Fakultas Tarbiyah.
Pada rapat di bulan Januari 2000, penulis memberikan pertimbangan kepada peserta rapat, maka disepakati serta diputuskan untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Agama setingkat SLTP yaitu Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTs.M) Paninggahan dan ditetapkan Penulis sebagai Kepala Sekolahnya.

Wacana berkembang lagi, kapan di mulai didirikan dan diterima siswa baru? Maaf, dengan tekat yang bulat pada saat itu, penulis menyampaikan bahwa tahun 2000 ini kita langsung mensosialisasikan Penerimaan Siswa Baru (PSB). “Dimanakah lokal atau gedung tempat siswa belajar nanti? Sementara sekolah lama sudah hampir roboh”. Tanya sebagian anggota rapat. Entah kenapa? Penulis jawab; “Kita pakai saja sebagian dari lokal TK ini untuk siswa baru MTs.Muhammadiyah Paninggahan”. Para jamaah setuju dan memberikan dukungan yang sangat kuat. Dukungan yang kuat dari jamaah menjadi motivasi bagi penulis dan pengurus untuk mengemban amanah yang begitu berat dan berbagai tantangan yang akan di hadang.

Wacana mulai menyebar. Dengan menyebarnya wacana dan rencana akan mendirikan Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Paninggahan sampai ke tempat penulis sedang aktif mengajar, baik di SDN 05 Koto Baru, SMP Terbuka dan MTI Paninggahan.

Adakah respon dari tempat penulis mengajar? Ada!. Satu kalimat pendek yang diungkapkan oleh “J” dalam suasana rapat di tempat penulis masih aktif. “J” mengatakan: “Ado urang nan manjagoan ula lalok, yang alah lalok sekian puluh tahun, kalau ula ko jago, ndak ka baagak-agak cotok e la ngah”.(Ada seseorang yang membangunkan ular tidur puluhan tahun, kalau ular itu bangun, maka gigitnya luar biasa)“.

Saat penulis mendengar kalimat tersebut, penulis biasa-biasa saja, karena penulis tidak tahu sama sekali yang dimaksud oleh orang yang mengungkapkan itu. Namun, ada salah seorang “A” yang menanggapi, bahwa yang dimaksud itu adalah Muhammadiyah dan mari kita minta kepada salah seorang pengurusnya yang ada dalam rapat ini, yaitu Darmiwandi.

Mendengar kalimat tersebut, penulis diberi kesempatan untuk bicara. Diawali dengan salam, kalimat terima kasih dan rasa hormat, penulis menyampaikan kronologis dari semua yang penulis lalui dan rencana yang disepati oleh jamaah Muhammadiyah dengan jelas dan apa adanya. Peserta rapat diam. Tetapi sesaat setelah itu, terdengar lagi kalimat berikutnya dari “J”: “Wa ang hati-hati!, Taserak di kampuangkan urang, Tarumbai di putuih urang” (Kamu harus hati-hati!, terserak dikumpulkan orang, terjulur di putus orang)”. Penulis lagi-lagi diam, karena tidak mengerti maksudnya. Rapat langsung di tutup dan peserta rapat pun bubar.

Setelah penulis coba menyampaikan kalimat-kalimat tersebut kepada orang tua-tua, beliau menanggapi: Teruslah semangat dan tetaplah dengan kehati-hatian, karena kalimat-kalimat tersebut adalah ancaman.

Dua kalimat di atas (“Ado seseorang nan manjagoan ula lalok sekian puluh tahun, kalau ula ko jago, ndak ka baagak-agak cotok e la ngah”dan“ Wa ang hati-hati!, Taserak di kampuangkan urang, Tarumbai di putuih urang”), entah sampai kapan akan lupanya oleh penulis, miskipun bagi orang lain tidak akan ingat lagi. Positifnya, dari sinilah penulis mulai mengetahui adanya perbedaan dengan Muhammadiyah.

Perjalanan dilanjutkan, pergerakan diteruskan. Penulis dengan pengurus dan jamaah lainnya terus berfikir dan bergerak. Di antara pergerakan yang dijalankan adalah melaksanakan wirid/pengajian agama setiap bulan. Kami mendatang mubaligh dari dalam Nagari Paninggahan, di antanya Ust. Syahril Alen (alm), Ayah Pakih Ahmad Dalimi (alm), Mamak. H. Arbai Mizen, Mamak J. Panito Pisang, Sy. Panito Koto, Rudi Rasyid, S.Ag, Armen Ghani, S.Ag. Arlis Rusman, dan juga dari luar nagari Paninggahan seperti H.Afrizal Thaib, H. Afdhal.A. Sa’ad, Jasri, S.Ag, dll.

Untuk mengenang, penulis akan tuliskan nama-nama jamaah yang sering dan semangat hadir dalam wirid bulan adalah: Mak.Azhar Kan.Ngah (alm), Mak. H. Mayasir (alm), Ayah H.N.Dt.Kayo (alm), Mak. Hakam Pono (alm), Mak.Ja’far (muaro pingai), Ayah Panito Guci, Mak. H. Helmy Autad, Mak.H. Ali Katik Batuah. Mak. Asmar Hasan. Mak.Syamsi, Mak.H.Naim ( alm), Uni Rosni, Acik Nurcaya, Atun, dan bebarapa orang ibuk-ibuk lainnya.

Sekian bulan penulis mencoba mengunjungi dan mengundang jamaah Muhammadiyah atau keturunan orang Muhammadiyah yang ada di Nagari Paninggahan, mulai dari Gando, Kampung Tangah, Ganting Padang Palak, Koto Baru Tambak, Parumahan dan Subarang, Penulis porsentasekan dari segi jumlahnya dibanding dengan jumlah penduduk Nagari Paninggahan, maka boleh penulis bilang bahwa jumlah jamaah Muhammadiayah hanya 1% sampai 2 %.. Kenapa penulis mengatakan seperti itu? Karena penulis telah menelusuri seluruh pelosok nagari Paninggahan. Miskipun jumlah porsentasenya sangat kecil sekali, tetapi semangat para jamaah tersebut sangat luar biasa. Semangat yang beliau miliki terus di bagi kepada penulis. “Jangan ragu! Jangan gentar! Teruslah bergerak dan berjuang! Perjuangan Muhammadiyah adalah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Penyakit TBC (Khurafat, Bid’ah dan Tahayul) harus di berantas. Aqidah masyarakat harus dibersihkan dari segala bentuk syirik. Kepercayaan kepada perdukunan apalagi menjadi dukun harus disingkirkan. Mempelajari ilmu sihir apalagi menjadi guru sihir harus dijauhi. Beribadah kepada Allah harus berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw bukan hanya berdasarkan kemauan dan keinginan sendiri. Mengkultuskan orang-orang dan tempat-tempat tertentu apalagi meminta kepada yang demikian itu harus di lawan. Cerdaskan umat dan ajari mereka agar Ittiba’ dan jauhkan mereka dari Taqlid buta.

Beratkah? Memang berat!. Sulitkah? Tantang di kiri kanan, muka belakang, dari dalam dan luarpun menghadang. Berhentikah? Tunggu dulu!. Berfikir dan bergerak adalah sebuah komitmen. Doa kepada Allah adalah handalan.

Februari 2000, penulis membuat brosur Penerimaan Siswa Baru (PSB) MTs.M Paninggahan. Penulis yang didampingi Arianto Tandika menerima calon siswa baru. Alhamdulillah, tepatnya bulan Juli 2002, MTs.M dapat merekrut siswa sebanyak 14 orang. Mereka itu adalah: Dona, Rosa, Pera, Johan Hidayat, Hemel Jaka, Feri, Miko, Neneng Nursyam, Diye, Refni, Indra, Dayat, Adri (1 orang lagi penulis lupa). Tenaga pengajarnya adalah; Arianto Tandika, S.Pd. Kartini, S.Ag. Helen Nursyam,SH, Alen Martina. Railis, S.Ag, Fatimah, S.Pd. Litra Nara, Arlis Rusman, Raflis,S.Ag, Armen Ghani,S.Ag. Riza.

Pada tahun berikutnya, siswa yang masuk MTs.M berlebih daripada tahun pertama, dan pada tahun ketiga, jumlah siswa MTs.M berkisar 70-80 orang. Tenaga pengajar pun datang silih berganti. Maklum, sekolah swasta, sedang mengajar bisa saja pindah ke sekolah lain, pergi ke rantau orang untuk merobah ekonomi dan menuruti suami.

Bagaimanakah dengan honor guru? Selain sumbernya dari uang sekolah anak yang sangat terbatas dan terbata-bata, penulis membuat kartu donator dan menjalankannya setiap bulan. Semua perjalanan menuju para donator masih ingat dalam pikiran penulis. Sebut saja pergi ke ondoh menemui Mak. H. Ali Katik Batuah, Mak.Laidin di karang, Mak. Sahar Kak.Ngah di Parumahan, Ayah Dt. Kayo di Gantiang dan beberapa orang jamaah lainnya. Lima dan sepuluh ribu, itulah yang dikumpulkan setiap bulan demi membantu operasinal madrasah.

Bidang Pendidikan terus dijalankan, bidang pembangunan fisik terus digerakkan. Berkat kerjasama dan komonikasi serta komonikasi yang baik antara pengurus, jamaah yang berada di kampung dengan perantau, maka lambat laun, bangunan fisik yang lama dirobohkan melalui gotong royong. Hanya dengan seulas tali yang diikatkan pada bangunan lama tersebut, bangunan bisa runtuh. Begitulah kondisinya saat itu.

Dari manakah sumber dana untuk membangun bangunan Madrasah yang beru? Karena masalah pembangunan fisik diamanahkan kepada Ketua saat itu, yakni Mamak H. Helmy Autad, maka penulis tidak terlalu menelusi sumber dana pembangunan fisik. Yang menjadi tukangnya adalah uda Edi dengan anggota beliau lainnya. Dalam masa mulai pembangunan itu, mamak H. Helmy menyebut nama Mamak H. Ismet Roza. Siapakah mamak H. Ismet Rosa pada awal-awal pembangunan fisik itu? Penulis belum kenal karena belum pernah bertemu dengan beliau. Tugas penulis pada saat itu hanyalah konsen mengurus sekolah dan mencarikan dana tambahan untuk majelis guru dari dinatur.

Sebagai Kepala Madrasah, Penulis berusaha juga mencari informasi ke Instansi Pemerintahan. Berkisar tahun 2002/2003. Alhamdulillah, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Paninggahan mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Solok sebanyak Rp. 30.000.000,- ( Tiga Puluh Juta Rupiah). Dana tersebut diperuntukan utnuk membantu pembangunan fisik madrasah.

Mulai merintis tahun 2000, penulis di percaya menjadi Kepala MTs.M Paninggahan. Amanah ini dijalankan sambil bekerja sebagai Pegawai Nageri. Penulis dinotadinaskan bekerja ke KUA Kecamatan X Koto Di Atas di Nagari Tanjung Balit, miskipun SK pertama penulis di KUA Kecamatan Junjung Sirih. Dalam menjalankan tugas, kadang-kadang penulis singgah ke sekolah, kadang-kadang tidak. Kadang-kadang saat singgah di sekolah, tidak jadi saja pergi ke kantor, kalau pun pergi ke kantor sudah jam 9 lewat. Begitulah penulis menjalankan amanah. Tapi…, Berkat kerja sama dengan seluruh majelis guru, terjalinnya komonikasi dan koordinasi yang baik serta terciptanya suasana yang kondusif, Alhamdulillah, semua proses belajar dan mengajar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Bapak Arlis Rusman dan Arianto Tandika yang mambantu sebagai Wakil Kepala Sekolah mampu menghandel dan mengembangkan potensi siswa sehingga nama MTs.M Paninggahan bisa berbicara baik di dalam nagari Paninggahan maupun diluar Nagari Paningggahan.

Adakah tantang, rintangan bahkan konflik selama penulis menjadi Kepala Sekolah? Tidak terhitungkan banyaknya. Luar dalam datang menghadang dan menghalang. Satu tekat dan kepercayaan dijadikan modal.

Pada tahun 2008, penulis menyerahkan estapet Kepala MTs.M kepada Bapak Arlis Ruman, karena di akhir tahun 2007, penulis diamanahkan menjadi Kepala KUA di Kota Sawahlunto. Semenjak itu, bolah dikatakan bahwa penulis tidak bisa terlalu aktif lagi di Madrasah karena keterbatasan waktu dan tenaga. Bapak Arlis Rusman dengan tenaga pengajar meneruskan perjuangan Pendidikan Muhammadiyah sampai sekarang. Tantangan dan kendala pun tidak bisa beliau helakkan. Perjuangan Muhammadiyah terus berjalan, tahun ke tahun, MTs.M mempunya Alumni. Ada yang melanjutkan ke Jenjang pendidikan agama dan ada yang melanjutkan ke jenjang pendidikan umum. Di antaro Alumni MTs.M yang penulis ingat sampat tamat di Perguruan Tinggi adalah: Yesriva Nursyam (Dosen ISI Padang Panjang), M. Jaiz (Tamatan UNP Padang), Hana Pertiwi (Mengabdi pada Perguruan Tinggi di Padang), Silvivi Yasminika (di CITY BANK –Jakarta). Diri (Garu SDN Paninggahan), Iqbal (Guru SDN Muaro Pingai).

Perjalanan dan pergerakan Muhammadiyah di Nagari Paninggahan memang berat, dari segi jumlah yang masih sangat minim (1 % sampai 2 %), apalagi orang benar-benar berjiwa dan bermantal Muhammadiyah masih bisa di hitung dengan jari. Namun demikian, pergerakan Muhammadiyah baik di bidang pendidikan, Aqidah, Sosial dan ekonomi akan terus digerakkan. Semangat perjuangan Muhammadiyah harus dibangkitkan. Organisasi Muhammadiyah bukanlah sebuah tujuan, tetapi adalah sebagai alat pergerakan untuk memajukan dan mencerdaskan serta mensejahterakan umat.

Sejauh manakah pengaruh perjuangan pergerakan Muhammadiayah di Paninggahan? Menurut penulis yang dipercaya lagi menjadi Ketua PCM Junjung Sirih dari tahun 2005 sampai sekarang bahwa: “Secara kuantitas tidak terlalu signifikan, tetapi secara umum; pergerakan muhammadiyah telah membuka kran cara pandang dan karakter pemikiran masyarakat termasuk sebagian tokoh masyarakat dan tokoh agama. Dimana sebelumnuya, mendengar Muhammadiyah dan pergerakannya seolah-olah suatu hal yang tabu dan alergi. Berkaitan dengan muballigh apalagi Ulama, secara keorganisasian Muhammadiyah Paninggahan masih sedikit memilikinya, namun sebagian dari mubaligh/ulama nagari Paninggahan telah bisa menerima terjadinya perbedaan cara pandang/berfikir terutama dalam perkara furuiyah.

Mencerdaskan cara pandang dan cara berfikir untuk mengiring masyarakat umum dan tokoh-tokoh masyarakat kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw merupakan tugas kita bersama terutama para muballigh dan ulama. Khusus untuk penulis, adalah fardhu “ain untuk mengkaji lebih jauh dan lebih dalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw untuk mencarikan solusi dari persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, baik yang berkaitan dengan Aqidah, Ibadah dan Muamalah (ekonomi).

Saran dan kritikan konstruktif terhadap penggerak Muhammadiyah di Nagari Paninggahan perlu diberikan. Bidang Pendidikan telah dan sedang berjalan, bidang dakwah sangat kurang, bidang ekonomi belum kelihatan, SDM belum seberapa. Kalaupun ada, entah di mana. Kenapa? Mungkin penulis sebagai pimpinan bukanlah seorang ahli strategi, politisi dan pintar bernegosiasi.

“Bergerak dan berjuang adalah sebuah tekat, Hasil dari perjuangan, suatu hal yang relatif. Gagal dalam perjuangan adalah hal yang biasa. Ingatlah! Anda akan tercatat dalam sejarah bahwa Anda telah berjuang bahkan seorang pejuang” (Darmiwandi). “Perjuangan akan terasa apabila mendapat tantangan yang menantang. Jangan bilang anda berjuang kalau hanya mengikuti apalagi terbawa arus” (Darmiwandi).

Tak salahnya penulis bertanya kepada diri penulis sendiri. Apa yang anda cari? Apa yang anda perjuangkan? Apa yang anda gerakkan? Mencari nama agar dikenal orang? Tak perlu penulis jawab dengan tulisan.

Muhammadiyah adalah nama lekat kemudian kepada penulis termasuk jabatan yang ditenggerkan ke pundak penulis. Andaikan jabatan dan nama muhammadiyah di ambil dan hilang dari penulis? Insya Allah, belajar dan belajar lagi tentang Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw serta mendakwahkannya akan terus dijalankan.Kekuatan adalah milik Allah. Organisasi Muhammadiyah adalah alat dan bukan milik pribadi. Tujuan hakiki adalah Mencari Ridha Illahi. Mudah-mudahan…!!

Pergerakan Muhammadiyah yang bertujuan mencerdaskan umat dan peduli terhadap kehidupan masyarakat agar sesuai dengan syariat Islam terus diperjuangkan. Memuhammadiyahkan orang yang mengaku Muhammadiyah jauh lebih sulit daripada orang yang belum mengetahui tentang Muhammadiyah.

Sebagai penutup dari salah satu mulainya penulis berkiprah kecil-kecilan di Nagari sendiri sebagai bagian dari pendiri, Kepala Madrasah dan Ketua PCM Kecamatan Junjung Sirih dari tahun 2005 s/d 2020 telah merasakan lika likunya perjuangan Muhammadiyah khususnya di Nagari Paninggahan. Satu hal yang penulis merasa bangga bahwa masyarakat tidak merasa asing lagi mendengar kata-kata Muhammadiyah. Namun dibalik itu, yang sangat memprihatikan, mungkin jaga karena keterbatasan penulis sendiri, sudah sekian tahun Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Paninggahan berdiri, namun belum menampakkan perkembangan yang berarti. Penulis sebagai Mantan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Junjung Sirih sangat mengharapkan kepada seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah yang sekarang ini agar terus memperhatikan pergerakan dan perkembangan MTsM Paningahan yang merupana ujung tombak dari organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Dalam bahasa sehari-hari sebeutkan bahwa: “MTs.Muhammadiyah adalah Kapalo Galeh”.

Berkisah tentang Muhammadiyah yang merupakan bagian dari pengalaman hidup penulis, untuk hari ini dicukupkan hingga di sini dulu. Dan tidak tertutup kemungkinan akan bersambung lagi.

Bulan Juli tahun 2000, MTs Muhammadiyah Paninggahan resmi berdiri. Bulan Agustus Tahun 2000, Penulis diundang untuk menerima Surat Keputusan Sebagai Calon Pegawai Negeri. Bagaimanakan menjalankan amanah dan langkah-langkah yang diambil sehingga kedua tugas ini bisa berjalan tanpa ada yang dilalaikan? Ditambah lagi, pada tahun 2002, Penulis dipercaya oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Paningahan menjadi Ketua Masjid Raya Nagari Paninggahan. Dalam tahun yang bersamaan, MUI Nagari Paninggahan yang baru berdiri, penulis dipercaya menjadi Sekretaris. Amanah menjadi anggota Badan Perwakilan Nagari (BPN) Nagari Paninggahan sedang dijalani.

Semua dari amanah tersebut, tidak terlepas dari cerita dan/atau kisah yang sangat berarti, khususnya bagi penulis sendiri.

Bersambung…”13 Maret 2021”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *