Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“Gadang di Rantau Ketek di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

×

“Gadang di Rantau Ketek di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Sebarkan artikel ini

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 19

“BERHENTI DI MASJID RAYA KARENA TUGAS NEGARA”

Masjid Raya Nagari Paninggahan merupakan satu-satunya masjid yang terbesar dari 12 Masjid yang ada di Nagari Paninggahan. Selain terbesar, juga merupakan masjid tertua setelah Masjid Aro yang berlokasi di pintu rimbo ulu nagari Paninggahan. Masjid Aro tersebut tidak aktif dan difungsikan lagi secara maksimal oleh masyarakat karena tidak adanya penduduk yang berdomisili di sana.

Entah tahun berapa masjid Raya Paninggahan ini berdiri, penulis tidak mengetahuinya secara pasti. Yang pasti adalah penulis telah mengetahui juga mesjid ini sejak kecil. Kolam yang berukuran kira-kira 10×10 meter yang berada di samping masjid merupakan tempat mandi-mandi penulis di waktu kecil bahkan sampai sekarang kolam tersebut masih dimanfaatkan oleh masyarakat umum khususnya warga yang berada di sekitar masjid.

Sebagaimana yang penulis tulis juga pada tulisan sebelumnya, Kakek penulis (B. Dt. Rajo Nan Kusuik) meninggal dunia di dalam masjid Raya ini disaat sedang melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Dari kecil sampai dewasa/menikah, penulis sering juga sholat dan memberikan ceramah bahkan menjadi khatib jum’at di sini. Masih kelas 2 Tsanawiyah, penulis telah disuruh oleh pengurus masjid menjadi khatib jum’at. Setelah menikah, kehadiran ke Masjid Raya Paninggahan ini semakin sering. Karena rumah istri dekat dari lokasi masjid.

Berkaitan dengan kepengurusan Masjid Raya Nagari Paninggahan, pada awalnya penulis tidak mengetahui dan memahami karena tidak pernah menjadi pengurus masjid. Kalau menjadi pengawas/bekerja di masjid memang sudah ada pengalaman Sejak kelas 2 Tsanawiyah sampai tamat kuliah, lebih banyak tinggal di masjid. Bagaimana suka dukanya tinggal di masjid sudah menjadi air mandi penulis. Mulai dari membersihkan WC sampai menjadi Khatib Hari Raya sudah menjadi hal biasa-biasa saja. Turun dari mimbar setelah menjadi khatib Hari Raya, ditukar pakaian kemudian langsung menbersihkan WC.

Penulis mulai dipercaya menjadi sebagai Ketua Pengurus berawal dari hasil musyawarah anggota KAN Paninggahan dan juga para undangan lainnya pada awal tahun 2003. Sebelum penulis menghadiri musyawarah tersebut, penulis telah diingatkan agar jangan mau menjadi pengurus (sebagaimana yang penulis sampaikan dalam tulisan sebelumnya). Namun hasil musyawarah menghendaki lain.

Amanah yang cukup berat ini penulis jalani sesuai dengan kepampuan penulis. Semua tugas memang dilaksanakan dengan berbagi waktu dan tenaga. Selain menjadi PNS, Kepala MTs.M, Sekretaris MUI Paninggahan, Ketua Masjid Raya pun dijalankan dalam waktu yang bersamaan.
Waktu terus bergulir. Pada pertengahan tahun 2007, penulis mendapat tawaran untuk menjadi Kepala KUA di Kota Sawahlunto. Tahun 2007 itu adalah periode kedua penulis diamanahi menjadi Ketua Masjid. Musyawarah dan Penetapan menjadi Ketua yang kedua kalinya ini tanpa penulis hadiri.

Namun telah sampai saja Surat Keputusan dari Pengurus KAN Paninggahan kepada penulis. Mau tidak mau, amanah yang kedua kali ini terus penulis jalani sampai berhenti sebelum masa jabatan habis.

Bulan September 2007, penulis diamanahi menjadi Kepala KUA Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto. Jabatan menjadi Kepala MTs.M dan Ketua Masjid Raya Paninggahan masih penulis jalani. Mengingat dan mempertimbangkan kedua amanah yang cukup berat ini tidak mungkin lagi penulis laksanakan secara maksimal karena tugas negara yang cukup berat juga, maka penulis meletakkan kedua jabatan tersebut.

Kepala MTs.M diserahkan kepada Bapak Arlis Rusman, sedangkan Ketua masjid, penulis serahkan kepada pengurus KAN Paninggahan melalui surat Pengunduran Diri. Berdasarkan hasil musyawarah KAN, maka dipercayalah ayah Dt. Palindih menjadi Ketua Masjid Raya menggantikan penulis.

Satu kalimat yang penulis masih ingat yang disampaikan oleh Sekretaris KAN Paninggahan saat itu (J. Dt. Hitam). Beliau menyampaikan kapada penulis; “Andaikan Buya tidak dinas di Kota Sawahlunto atau masih di Kabupaten Solok, maka jabatan Ketua Masjid Raya Paninggahan belum akan diganti”.
Menjadi Kepala KUA di Kota Sawahlunto adalah pengalaman pertama bagi penulis menjadi salah seorang Pejabat di Lingkungan Kementerian Agama Kota Sawahlunto. Selama 6 tahun lebih penulis diamanahi menjadi staf di KUA Kecamatan X Koto Diatas Kabupaten Solok.

Penulis satu-satunya staf senior dengan formasi CPPN yang belum diangkat menjadi Kepala KUA Kecamatan.
Apakah tidak ada saran dari senior agar cepat diangkat menjadi Kepala KUA? Ada, tetapi tidak semua saran itu penulis turuti. Penulis tidak mengikuti saran karena cara yang akan penulis tempuh tidak sesuai dengan hati dan prinsip penulis, miskipun diawali dengan silaturrahmi dan itu sudah menjadi lumrah. Kalau saran untuk bersilaturrahmi dengan atasan adalah saran yang sangat baik. Yang tidak baiknya adalah silaturrahmi dikedepankan namun dibalik itu ada jabatan yang diminta. Inilah saran yang tidak penulis ikuti.

Bagaimanakah penulis bisa menjadi Kepala KUA? Sedangkan Kepala KUA juga sebuah jabatan.
Bersambung………..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *