Oleh: Darmiwandi, S.Ag. M.H.
Bagian : 23
“Istriku”
“Kaluak paku kacang balimbiang,
Ambo tampuruang, lenggang lenggokan,
Kelaurga paralu, karajo pun pentiang,
Kaduonyo samao-samo dijalankan”.
Membawa anak-anak ke kantor bagi seorang Pegawai Negeri sudah hal yang biasa apalagi ibuk-ibuk. Kerja kantor dikerjalan juga, anak dibimbing juga. Kita patut memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada ibuk-ibuk, karena mereka sangat pandai membagi waktu. Waktu untuk bekerja, waktu untuk anak bahkan waktu untuk suami. Kdang-kadang rasa lelah dan letih sepertinya tidak mereka hiraukan. Mereka sama-sama mencari uang dengan suami mereka, yang sebenarnya mencari nafkah itu adalah kewajiban suami. Namun karena keadaan, mereka ikut membantu kewajiban suami. Pergi sama dan pulangpun sama.
Mereka sama-sama sampai di rumah.
Apakah yang mereka kerjakan saat sampai di rumah?. Sang istri tukar pakaian dinas lagi. Pergi ke dapur untuk memasak, mencuci kain yang belum sempat dicuci, piringpun menjadi sambilan saat memasak. Air minum suami telah terhidang sebelum pekerjaan mereka kerjaka. Bagaimana dengan suami? Yaa..ambil remot, duduk santa di kursi, cari siaran tv yang bagus lalu hirup secangkir teh telur sambil menikmati rokok dan siaran yang mengasyikan. Seperti itulah sebagian suami istri dalam menjalani rumah tangga, dan tidak tertutup kemungkinan, penulispun ada juga seperti itu.
Berkenaan dengan membawa anak ke kantor sebagaimana sebagian perempuan, penulis juga telah terbiasa seperti itu. Kalau perempuan membawa anak ke kantor, mungkin hanya satu atau dua orang. Tetapi penuli membawa semua anak-anak ke kantor. Di kantor di mandikan dan di kantor diberikan sarapan pagi.
Suatu ketika, penulis agak terlambat datang ke kantor. Kantor penulis di KUA Kecamatan Barangin. Barusan turun dari mobil, penulis lihat sudah banyak honda dinas di halaman kantor. Penulis turun dan langsung masuk kantor. Penulis lihat sudah ada duduk beberapa orang pejabat di dalam ruangan penulis termasuk Bapak H. Adrimas (Kasubbag TU disaat itu). Beliau datang ke Kantor enulis untuk melaksanakan monev. Melihat beliau-beliau duduk, penulis menyampakan sepatah kata: “ Maaf pak, duduklah bapak sabanta, ambo kamehi anak-anak ambo sabanta lu” (Maaf pak, duduklah bapak sebentar, beri saya izin untuk mengurus anak-anak saya sebentar). “Silahkan!”. Jawab Bapak H. Adrimas.
Penulis pergi lagi ke mobil untuk menyuruh mereka keluar dari mobil dan membangunkan yang masih tidur. Mobil penulis adalah mobil Kijang Jantan. Mobil tahun 90-an. Dibagian belakang, penulis sediakan kasur untuk yang tidur. Mereka berempat. Dua orang tidur di belakang, satu orang tidut di tengan dan sati orang duduk/tidur di depan. Ke empat anak dibawa ke kantor. Satu persatu, anak-anak penulis suruh mandi sendiri kecuali yang bungsu/ Nayla, karena umurnya belum sampai dua tahun. Yang nomor tiga (Maharani) belum sekolah, yang nomor dua (Adzkia) kelas 1 sedangkan yang sulung (Fauzan) baru kelas 3.
Setelah memandikan anak-anak, makan mereka disuapin lalu mainan mereka diberikan, barulah penulis melayani tim monev dari Kementarian Agama Kota Sawahlunto. Kenapa hal ini sering penulis laksanakan? Tentu tidak terlepas dari kondisi kami dan terutama istri penulis yang bernama Kartini.
Istri penulis diangkat menjadi CPNS pada September 2010. Sebelum menjadi PNS, Kartini adalah seorang guru honer pada MTs.Muhammadiyah Paninggahan semenjak berdirinya MTs.M tersebut pada tahun 2000. Berarti, Kartini honor lebih kurang selama 10 tahun. Pengetahuan dan pengalaman serta kompetensinya mengajar penulis sangat penulis akui bahwa dia lebih daripada penulis.
Berkat ketabahan Kartini mengabdi mengajar, dia diundang menerima oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok untuk menerima SK CPNS pada bulan September. Rasa syukur kehadirat Allah SWT tak terhinggga karena sudah sekian tahun diharapkan datang juga.
SK CPNS sudah di tangan. Tempat melaksanakan tugas di MTsN Alahan Panjang. Pada tanggal 1 Oktober 2010, Kartini harus melaksanakan tugas negara di MTsN Alahan Panjang tersebut. Jarak antara Paninggahan dengan Alahan Panjang cukup jauh juga, yakni kira-kira 80 KM.
Minggu tanggal 30 September, kami berangkat ke Alahan Panjang bersama 4 orang anak. Nayla masih erat menyusu. Rani berumur 4 tahun, Adzkia baru masuk kelas 1 SD sedangkan Fauzan baru juga duduk di kelas 3 SD. Kami mengontrak satu petak rumah kontrakan. Namanya Alahan Panjang, tidak dapat di sangkal lagi bahwa nagari tersebut cukup dingin dibandingkan dengan daerah lain. Jangankan di waktu hari hujan, cuaca panaspun kebanyakan orang memakai jaket dan kain sarung.
Senin, tanggal 1 Oktober 2010. Hari pertama dinas, Istri telah berangat mengajar ke MTsN Alahan Panjang. Penulis yang dinas Kota Sawahlunto juga berangkat di pagi itu. Tinggallah anak-anak berempat orang di tempat kontrakan.
Istri dan 4 orang anak tinggal di Alahan Panjang sedang penulis di Sawahlunto. Kadang-kadang penulis kembali lagi ke Alahan Panjang setelah jam kantor. Sampai di Alahan Panjang hari sudah malam, besok paginya kembali lagi ke Sawahlunto. Kalau tidak memungkinkan kembali ke Alahan Panjang, penulis kembali lagi tidur di kantor. Kantor ibaratkan rumah. Di sana penulis bekerja, mandi dan tidur.
Bagaimana dengan Adzkia baru masuk kelas 1 SD dan Fauzan kelas 3 SD?. Karena tidak ada yang akan mengurus mereka di kampung kecuali kedua mertua yang telah sangat tua (80-tahunan), maka mereka (Adzkia dan Fauzan) jarang masuk sekolah dan sering minta izin.
Agar Adzkia dan Fauzan bisa mengikuti proses belajar mengajar, maka penulis harus balik hari setiap hari. Pagi mengantarkan Adzkia pergi sekolah dan penulis langsung berangkat ke kantor. Seringkah penulis terlambat? Inilah konsekwensi yang harus diambil. Andaikan penulis harus berangkat pagi karena urusan kantor yang tidak bisa penulis wakilkan, maka mereka ditingglkan dalam keadaan tidur. Angku dan neneklah yang membangunkan mereka. Apabila Adzkia malas sekolah atau rewel menjalang pergi sekolah, maka penulis bawa aja ke kantor.
Di kampung penulis mengurus dua orang anak, sedang Istri harus mengurus dua orang anak pula di Alahan Panjang sambil mengajar. Ibu mereka pergi mengajar, maka Maharani yang mengasuh dan menunggui Nayla diatas ayunan. Rani yang masih berumur 4 tahun, mau tak mau harus mengasuh adiknya yang masih balita. Berhubung jarak antara rumah kontrakan dangan sekolah tidak jauh, maka Istri bisa cepat melihat dan memantau anak-anak yang ditinggalkan.
Setiap hari Jum’at, penulis dari kantor langsung ke Alahan Panjang. Besok harinya (sabtu sore) kami pulang kampung. Senin menjelang subuh, kami berangkat lagi ke Alahan Panjang. Sering kami sholat subuh di Kayu Aro. Sampai di Alahan Panjang pagi hari. Istri pergi ke sekolah, penulis berangkat juga le Sawahlunto. Kalau anak-anak semuanya ikut ke Alahan Panjang, maka penulis balik lagi setelah pulang kantor ke Alahan Panjang.
Mengingat dan memperhatikan Adzkia dan Fauzan sering tidak sekolah dan tidak maksimal untuk mengurus mereka, kami telah berusaha untuk memindahkan mereka ke Alahan Panjang. Karena terkendala dengan jarak sekolah dengan rumah kontrakan yang jauh, maka rencana dan usaha tersebut kami batalkan lagi. Biarlah mereka sekolah di kampung miskipun dengan keadaan apa adanya.
Perjalanan ini seperti ini kami lalui selama tiga bulan. Pada bulan ke empat, Istri mendapatkan dispensasi untuk mengajar di MTs.M Paninggahan selama 2 hari dalam satu minggu. Istri mengambil hari mengajar di MTs. M Paninggahan pada hari Senin dan Selasa. Karena dispensasi tersebut, maka kami batalkan mengontrak di Alahan Panjang. Anak-anak tiinggal di kampung sedangkan Istri tetap pergi mengajar ke Alahan Panjang pada hari Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu.
Menjelang subuh, istri telah berangkat naik mobil paninggahan sampai ke Solok. Dari Solok naik lagi mobil umum menuju Alahan Panjang. Kadang menumpang dengan mobil Kantor POS yang menuju Muara Labuh. Di kantor Pos itulah istri sholat subuh. Pulang sekolah, istri juga pulang juga ke solok dengan mobil umum.
Sampai di Solok, dengan apa istri pulang ke Paninggahan? Kartini pulang dengan mobil Kijang Jantan yang telah menunggu di tempat yang telah dijanjikan. Mobil Kijang Jantan itu dari Sawahlunto.
Berdualah Kartini dengan sopir Kijang itu menuju tempat yang sama. Kalau istri berangkat dengan honda pada subuh hari, lalu honda dititipkan, maka pulangnya dengan honda lagi dari Solok ke Paninggahan.
Kalau hari hujan atau tidak ada mobil ke solok pada subuh hari, maka bersama penulislah ke solok. Kartini berangkat ke Alahan Panjang, penulis menuju kota Sawahlunto.
Bagaimana dengan anak-anak yang tinggal di rumah, Yaa..dengan HP saja kami bangunkan dari jauh. Namanya anak-anak, kadang-kadang malas bangun dan pergi sekolah, kami berusaha memahami saja.
Istri sudah berangkat di subuh hari, tinggallah penulis yang mengurus anak-anak di waktu pagi. Apabila mereka tidak mau sekolah, rewel atau karena libur, maka penulis naikan saja semuanya ke atas mobil dan penulis bawa ke kantor. Sampai di kantor, ada yang masih tidur juga. Siapa yang bangun, disuruh mandi dan sarapan. Nayla belum pandai mandi sendiri, penulislah memenadikannya. Setelah mandi, diberi sarapan dan mainan, maka penulis melaksanakan pekerjaan lagi.
Perjalanan dan pengalaman istri menjalani tugas sebagai Pegawai Negeri di Alahan Panjang selama lebih lima tahun penuh suka dan dukanya. Tidak jarang, si bungsu dibawanya ke sekolah sambil mengajar. Bagaimanakah istri mengaturnya, istrilah yang mengetahuinya. Suatu ketika, istri membawa Nayla ke sekolah, Maharani juga ingin ikut. Alasan Rani ikut bukan karena keinginan saja tetapi dia bertanya kepada ibunya: “Kalau ibu mengajar, siapa yang akan menjaga dan melihat adik?”. Mendengar kata-kata seperti itu, akhirnya Maharani dibawa sekolah.
Kedua orang tua butuh perhatian dan bantuan, namun apa daya, waktu habis dari padi menjelang subuh sampai senja bahkan sampai malam.
Apakah istri atau penulis tidak ada keinginan untuk pindah tugas karena pertimbangan keadaan keluarga?. Seperti orang lain dengan alasan yang sama?
Bersambung………..








