Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

×

“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Sebarkan artikel ini

Oleh: Darmiwandi, S.Ag. M.H.

“TERHARU DI SIMPANG HARU”

Semester I telah penulis lewati, semester II juga telah diselesaikan. Satu tahun bolak balik dari Tabing ke Sudirman. Selama itu, tentu penulis telah mengetahui mana jalan Raden Saleh dan mana jalan Khatib Sulaiman menuju Simpang Tabing Padang. Hanya dua jalan tersebut yang sering dilewati oleh bus kota menuju jalan Sudirman. Selain sudah kenal dengan sebagian nama jalan, penulis juga telah banyak kenal dengan teman-teman seangkatan khususnya.
Awal semester 3 tahun kedua, penulis mencoba mencari tempat tinggal lain untuk mencari pengalaman. Tanpa penulis ingat bagaimana pembicaraannya, penulis ikut bersama Hanali untuk tiggal di Masjid Muttaqin Simpang Haru.

Nama nya tinggal di masjid, tugas wajib tentu telah penulis ketahui kerena saat kelas 2 Tsanawiyah Padang Panjang sudah berpengalaman juga tinggal di Masjid. Selain menjadi Iman dan Muazin, mengajar anak-anak TPA juga dilaksanakan. Kami mangajar TPA sebanyak 3 orang, yakni Hanali, Uni Ref dan penulis sendiri.

Tidak beberapa lama penulis tinggal di masjid, pengurus masjid melaksanakan perbaikan terhadap bangunan masjid tersebut. Waktu perbaikan ini, penulis menggunakan kesempatan pula. Karena adanya komunikasi yang baik dengan kepala tukang, maka penulis meminta untuk menjadi tenaga kasar, seperti mengaduk semen dan mengakut bahan-bahan bangunan. Bekerja sebagai kuli kasar, hanya beberapa hari saja karena kuliah harus diikuti.

Pada suatu ketika, pengurus masjid pernah bertanya; “ Wan, indak kuliah wan? Penulis jawab: “Kebetulan jadwal kuliah kosong pk”. Sebenarnya memang ada jadwal kuliah, tetapi mengingangat upah Rp. 4.000,- sehari. Untuk beberapa hari, penulis mendahulukan makan upah daripada kuliah.

Masalah makan, memang sedikit berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya penulis membawa beras dari kampung, sedangkan waktu tinggal di masjid, anak-anak murid dengan suka rela berkeliling menemui warga meminta beras. Beras yang terkumpul, diserahkan kepada kami. Dan itulah yang kami masak. Dalam mengumpulkan beras, kadang-kadang dapat cukup banyak, kadang-kadang sekedarnya saja. Yang lebih dilemanya, kadang-kadang anak-anak murid keberatan berjalan. Kalaulah seperti yang terakhir ini, maka kami akan kekurang beras untuk dimasak.

Hari itu hari minggu. Penulis tinggal sendirian karena teman pulang kampung. Dilihat beras tidak ada. Bahan sambal yang akan dimasak pun sudah habis. Yang tersisa hanya nasi dingin tadi malam. Itulah yang penulis makan di pagi minggu itu.

Sore menjelang, malampun datang. Magrib habis, Isya telah selesai. Hari telah menunjukan pukul 9 malam lewat. Mata belum ngantuk, perut terasa lapar. Penulis duduk termenung sambil berfikir; Kemana akan mencari sesuap nasi di malam hari hujan ini? Penulis duduk di atas sajadah yang terbentang. Teringat dan terucap sebuah pantun. Pantun itu berbunyi:
“Urang Padang Maelo rantai,
Rantai dielo ka tapi muaro,
Dari ketek badan marasai,
Alah gadang sansaro juo”.

Penulis ulang-ulang pantun ini sampai 3 kali, tanpa penulis sadari, air mata berlinang dan membasahi pipi.
Penulis berdiri dari tempat duduk di atas sajadah, mencoba juga mencari-cari uang kalau ada yang terselip dimanapun berada. Alhamdulillah, bertemulah uang sebanyak Rp. 100,- (seratus rupiah). Uang yang saratus rupian tersebut, penulis bawa ke kedai yang ada di dekat masjid. Penulis tanyakan Indomi, uang tidak cukup. Ditanyakan Sakura, uang tidak sampai. Penulis ingat bahwa uang penulis ada tinggal di kedai itu Rp. 50,- (lima puluh rupiah), maka penulis minta saja satu buah Mie Sakura. Mie Sakura dibawa pulang, dan itulah pengganjal perut di malam itu.

Minggu malam berlalu, pagi Senin telah datang. Waktu kuliah pun tiba. Mau sarapan pagi, mie Sakura tadi malam sudah habis. Mau pergi kuliah, harus ada pitis. Berjalan kaki rasanya tidak sanggup. Kampus di Lubuk Lintah cukup jauh. Galang-galang dalam perut mulai berteriak, pikiran berbicara sendirian. Duduk sendirian di dalam kamar tanpa ada yang menemani. Mata kepala bisa terhambat, tetapi mata hati dan pikiran terus melihat. Berdiri dari duduk, kaki dibawa melangkah. Melangkah ke rumah salah seorang teman yang sama mengajar mengaji TPA.

Assalaamu’alaikum mengawali kalimat sampai di pintu uni Ren. Pertanyaan pertama dari uni Ren; Tidak pergi kuliah wan?. Penulis jawab; Iya, jam 9.00. nanti. Pertanyaan kedua muncul lagi dari uni Ren. Sudah sarapan pagi wan? Penulis jawab; Belum ni Ren. Makanlah dulu Wan. Lalu penulis dihidangkan makan. Dan makanlah penulis saat itu.

Jam dinding terus berputar. Setelah makan, kami ngobrol-ngobrol kesana kemari. Yang namanya canda, cerita dan tawa terus tetap ada, miskipun orang tidak mengerti apa yang sedang di rasa. Di saat jam telah menunjukan jam 10.00. WIB lewat, Uni Ren berkata: Pulanglah lagi dan pergilah kuliah. Tanpa malu dan segan penulis menanggapi; Bagaimana akan pergi kuliah? Ongkos Rp. 100,- untuk pergi ke Kampus itu yang tidak ada.

Mendengar kata-kata penulis seperti itu, Uni Ren langsung mengambilkan uangnya sebanyak Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah) dan memberikannya kepada penulis. Mengingat waktu kuliah tidak memungkinkan lagi, maka penulis tidak jadi pergi kuliah hari itu.
Alhamdulillah, dan terima kasih uni Ren. Uang sebanyak ini rasanya sudah cukup untuk biaya pergi kuliah selama satu minggu. Dengan perasaan lega, penulis kembali lagi ke masjid.

“MUDAH DAN MURAH KITA KEPADA ORANG LAIN,
JALAN BUNTU AKAN ADA ORANG YANG MEMBANTU”
(Darmiwandi)

Tidak sampai satu tahun penulis menjalani hari-hari menjadi guru TPA di Masjid Muttaqin Simpang Haru, penulis pindah lagi ke tempat lain.

Bersambung……………

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *