Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

×

“Gadang Di Rantau Ketek Di Kampuang” (Romantika Cita, Cinta dan Realita)

Sebarkan artikel ini

Oleh: DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Bagian : 13

“ANAK BERCERITA, AMAK MENANGIS”

Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.
Amak penulis telah tiada sejak 15 tahun yang lalu. Tepanya bulan Mei Tahun 2005 di pangkuan penulis sendiri. Kehadiran beliau masih penulis rasakan sampaik sekarang. Sangat banyak kata-kata dan sikap amak yang masih lekat dalam hati dan pikiran penulis. Penulis adalah anak pertama, tentu sangat banyak pengalaman dan cerita bersama beliau, khususnya tentang masalah kuliah.
Amak dan apak sangat senang kalau penulis pulang kampung dari kuliah, bahkan sebelum berangkat ke Padang, beliau telah menyuruh penulis pulang pada hari-hari tertentu, tujuannya adalah menolong beliau ke sawah.

Waktu menjadi satpam, penulis memang jarang pulang kampung, kalaupun pulang, cepat kembali ke padang karena harus dinas malam. Pada suatu waktu, penulis pulang dan bercerita dengan amak dan apak sampai tengah malam. Bapak duduk di kursi, sedangkan kami bercerita sambil tiduran. Dalam bercerita panjang lebar tersebut, penulis sampai menceritakan kenapa penulis jarang pulang dan cepat lagi kembali ke Padang.

“ Mak, ambo selain tingga di masajik, ambo juo manjadi satpam/manjago malam di salah seorang rumah dan gudang bareh urang di Padang tu mak. Dari pagi sampai magrib, ambo di masajik, tetapi setelah magrib, ambo pai manjadi satpam. Paginyo pulang baliak ka masajik dan pai kuliah. Kiro-kiro itulah karajo ambo beberapo bulan ko mak. Kalau gaji, sekedar ongkos pai kuliah, lai cukuik mak”.

Mendengar cerita penulis tersebut, amak langsung terperanjat dan mengomentari panjang lebar. Beliau membayangkan bahwa;” Sabalun urang marampok atau mancilok, nan akan dibunuah dulu itu adolah waang. Kok Paniang-paniang waang tangah malam itu, sia urang nan akan tau. Mati tajaleo sajo waang di tangah jalan. Kalau iyo waang ingin kuliah, mulai kini waang harus baranti manjadi satpam itu. Kalau indak namuah waang baranti, baranti sajolah kuliah. Pokoknya baranti”

Begitulah kutipan tanggapan amak, sambil beliau mengeluarkan air mata. Belaiu sesekali memanggil penulis dengan kalimat anak. Mendengar kata-kata amak dengan hiba hati dan meneteskan air mata, maka penulis meyakinkan beliau untuk berhenti menjadi satpam.

Dua hari penulis di kampung, kemudian penulis pergi ke padang. Menjelang pergi, amak masih bapasan; “Lai jaleh dek waang tu.. Baranti jadi satpam tu!”. Jadi mak, jawab penulis. Sampainya penulis di Padang, orang pertama yang penulis temuai adalah kawan yang sama-sama menjadi satpam, namanya Nanda. Waktu bertemu, penulis cari saja alasan yang dibuat-buat. Penulis bilang bahwa; “Bapak penulis sedang sakit dan saya harus pulang lagi ke kampuang setelah pulang kuliah sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Oleh sebab itu, mulai hari ini, saya mengundurkan diri dan berhenti menjadi satpam”. Uda Nanda menanggapi agak berat juga, karena kami sudah sekian lama bersama dan saling bercerita dan canda. Suka duka telah kami lewatkan bersama. Beliau mengatakan:’ Uruslah dulu bapak dan kembali lagi bekerja berdua seperti sebelumnya”. Lalu penulis kuatkan hati penulis untuk menyatakannya;” Saya tidak mungkin lagi untuk bekerja sebagai satpam da Nanda, saya mulai hari ni berhenti dan akan pulang lagi nanti ke Kampung”.
Tanpa banyak bercerita, penulis minta maaf dan pamit. Mulai saat itulah penulis berhenti menjadi satpam.

Kemanakan penulis pergi tidur selama belasan hari? Kalau tidur di Masjid, tentu pastilah terbukti penulis bohong karena uda Nanda sering sholat di Masjid Nurul Ulya. Akhirnya penulis pergi tidur ke rumah mamak di Simpang tabing untuk beberapa hari miskipun siang harinya masih singgah di Masjid. Setelah beberapa hari penulis bolak balik dari Simpang Tabing ke Kampus, maka penulis kembali lagi ke Masjid Nurul Ulya dan melaksanakan seperti biasa.

Perjalanan menjalani kuliah dan mencari uang untuk membantu biaya harian kuliah tidak hanya sampai di situ. Berkat pergaulan dengan jamaah masjid, maka penulis ditawari untuk menjadi salah seorang karyawan di sebuah Toko Souvenir. Nama Toko tersebut adalah ABU NAWAS SILUNGKANG SOUVENIR.

Pimpinannya adalah Uni Ida ( nama lengkap beliau, penulis lupa). Uni Ida adalah anak Kandung dari Bapak Abu Nawas. Saudara Kandung dari uni Ida adalah Herman Nawas (alm).

Sebelum penulis mendapat tawaran menjadi karyawan toko Silungkan Souvenir, penulis pernah masuk pasar raya dan bertanya kepada sebagian pemilik toko untuk bisa diterima menjadi karyawan toko mereka. Dengan jujur dan apa adanya, penulis sampaikan bahwa penulis mencari kerja dan bisa bekerja dari siap zuhur sampai sore atau malam karena pagi sampai siang saya kuliah. Sudah beberapa orang penulis minta untuk diterima, tidak seorangpun pemilik toko menerima.

Kuliah terus jalan, tugas di masjid dilaksanakan, menjadi karyawan toko Silungkang Souvenir sudah dimulai. Apa di antara tugas, dimana dan kemana sajakah penulis selama menjadi karyawan toko Silungkang Souvenir??
Bersambung……………

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *