OKI | Mentreng news.com – Rapat formatur DPW PKB Sumsel membalik arah hasil Muscab. H.M. Dja’far Shodiq kembali memimpin PKB OKI setelah sempat muncul nama Farid Hadi Sasongko sebagai ketua terpilih.
Sejumlah petinggi Partai Kebangkitan Bangsa berkumpul di Palembang, Kamis (18/6/2026), mengakhiri satu teka-teki yang selama beberapa waktu menggantung di tubuh PKB Kabupaten Ogan Komering Ilir. Nama yang keluar dari forum itu bukan sosok baru. H.M. Dja’far Shodiq kembali mendapat mandat memimpin Dewan Pengurus Cabang PKB OKI untuk periode 2026-2031.
Keputusan tersebut lahir melalui Rapat Formatur Dewan Pengurus Wilayah PKB Sumatera Selatan yang turut dihadiri utusan Dewan Pengurus Pusat PKB, Ahmad Iman Syukri. Forum itu sekaligus menutup silang pendapat yang muncul setelah hasil Musyawarah Cabang sebelumnya menempatkan Farid Hadi Sasongko sebagai Ketua DPC PKB OKI.
Bagi sebagian kader, keputusan itu bukan sekadar soal pergantian nama di pucuk kepengurusan. Ada pertaruhan yang lebih besar: menjaga keseimbangan antara regenerasi dan stabilitas organisasi.
Nama Dja’far Shodiq bukan figur asing di lingkungan PKB OKI. Selama memimpin partai, ia dikenal memiliki jejaring yang kuat di kalangan kader maupun tokoh masyarakat. Modal itulah yang disebut-sebut menjadi salah satu pertimbangan utama forum formatur.
Seorang kader Yadi Hendri Supriyadi yang mengikuti dinamika internal partai menyebut pengalaman politik dan kemampuan menjaga komunikasi lintas kelompok menjadi nilai yang sulit diabaikan.
“Partai membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul semua unsur. Yang dicari bukan hanya figur populer, tetapi juga kemampuan menjaga rumah besar ini tetap utuh,” ujarnya.
Pandangan serupa mengemuka di kalangan pengurus daerah. Mereka menilai agenda politik lima tahun mendatang menuntut organisasi yang solid dan tidak tersandera konflik internal berkepanjangan.
Meski kursi ketua kembali ditempati Dja’far Shodiq, kemunculan Farid Hadi Sasongko dalam proses Muscab meninggalkan pesan tersendiri. Figur yang kini menjabat Ketua DPRD OKI itu dinilai tetap memiliki posisi strategis dalam peta politik PKB daerah.
Farid dianggap mewakili gelombang kader yang tumbuh dari proses regenerasi partai. Kehadirannya menunjukkan bahwa ruang bagi generasi baru tidak tertutup, meski tongkat komando masih berada di tangan figur yang lebih berpengalaman.
Keseimbangan antara pengalaman dan pembaruan itulah yang kini menjadi tantangan PKB OKI. Partai harus menjaga ritme kaderisasi tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini dibangun.
Di tengah kompetisi politik yang kian rapat, soliditas organisasi menjadi kata kunci yang berulang kali muncul dalam pembahasan internal partai. Sejumlah kader menilai keberhasilan partai tidak pernah bertumpu pada satu figur semata.
Hal itu menjadi penanda arah yang hendak ditempuh PKB OKI setelah Muscab usai. Kontestasi internal boleh berakhir dengan satu nama sebagai pemenang. Tetapi menurut Yadi, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai ketika seluruh kader kembali duduk di meja yang sama dan mengayuh perahu ke tujuan yang serupa.
“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh kader tetap bersatu dan bekerja bersama untuk membesarkan partai. Kepemimpinan yang solid akan menjadi modal utama PKB dalam menghadapi tantangan politik ke depan,” pungkasnya.(Ir)








