Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“KULIAH SUBUH KU “

×

“KULIAH SUBUH KU “

Sebarkan artikel ini

 

Oleh : DARMIWANDI, S.Ag. M.H

“IRADAH ALLAHI”
Mengaji sifat 20 merupakan sebuah kajian yang menarik di kampung penulis. Kajian sifat 20, mengandung makna mengaji tentang Syariat, Tharikat, Hakikat dan Ma’rifat. Sifat 20 adalah sifat yang wajib bagi Allah. Di antara sifat 20 tersebut adalah: Wujud, Qidam, Baqa’, Mukholafatul Lilhawaditsi dan Iradah.

Penulis akan mencoba menguak salah satu dari sifat Allah yaitu Iradah dalam peristiwa terjadi Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, karena pada bulan ini adalah bulan Rajab. Pada kejadian tersebut, terjawablah sebagian kecil dari kekuasaan dan kehendak Allah. Menurut manusia banyak pada saat itu, peristira Isra’ Mi’raj adalah suatu hal yang mustahil, karena peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad saw adalah peristiwa yang luarbiasa. Tentu, luarbiasa disini adalah luarbiasa menurut manusia, bukan luarbiasa menurut Allah. Sehingga ada sebagian manuasia yang tidak mau menerima apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Mereka tidak yakin atau masih ragu-ragu dengan Allah Maha Kuasa, Allah Maha Perkasa, Allah Maha Bijaksana, dan Allah Maha Suci.

Bahwa Allah Maha Suci, terdapat dalam surat al- Isra’, ayat 1, yang memperlihatkan sebagian kecil tanda-tanda kekuasaan Allah, dan memperlihatkan Kemahasucian-Nya. Sebagaimana Friman Allah:
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Penulis tidak terlalu penjang menjelaskan tentang sejarah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw dalam ayat ini tetapi melihat betapa kekuasaan Allah bila Allah berkehendak. Miskipun ada sekilas sejaran/cerita perjalanan Nabi saw, hanyalah sebuah gambaran dari kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

Maha Sucinya Allah, Tuhan Sekalian Alam dan Maha Kuasanya, karena telah memperjalankan hambaNya, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. di malam hari dari Masjidil-Haram yang berada di Makkah itu. menuju Masjid al-Aqsha. Sedang jarak di antara kedua mesjid itu, atau jarak di antara Tanah Hejaz dengan Tanah Palestina adalah jauh. Al-Aqsha artinya ialah jauh! Perjalanan biasa dengan kaki atau unta dari Makkah ke Palestina itu ialah 40 hari. Perjalan yang sangat jauh tersebut hanya ditempuh dalam waktu yang tidak sampai satu malam. Masuk akalkah? Di sinilah di antaran kekuasaan dan kehendak Allah yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia.

Maha Suci Allah yang membelah laut untuk Musa. Musa bermodalkan sebuah tongkat yang berada di tangannya, lalu Allah memerintahkan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Kalau buka karena kehendak dan kekuasaan Allah, manalah mungkin air laut yang begitu besar dan luas akan terbelah karena sebuah tongkat.

Nabi Muhammad saw diisra’kan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha karena Allah akan memperlihatkan ayat-ayat ( sebagian kekuasaan-Nya). Ayat maha penting sekali di antara banyak ayat itu ialah mi’rajnya ke langit itu. Dan dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat akan seluruh alam yang telah dijadikanNya. Pendengaran Nabi saw pergi ke mesjid. Di sana bertemu Abu Jahal. Lalu Abu Jahal bertanya sambi! berolok: “Ada berita baru?” Beliau jawab: “Ada!” Kata Abu Jahal: “Apa?” Beliau jawab: “Saya diperjalankan tadi malam ke Baitul Maqdis.” “Ke Baitul Maqdis?” Tanya Abu Jahal.

Abu Jahal bermaksud mengumpul orang Quraisy untuk mendengar ceritera Muhammad yang dia tidak percaya itu, dan Nabi pun ingin orang berkumpul supaya diceriterakannya apa yang telah dialaminya itu dan disampaikannya.
Setelah orang berkumpul, berkata Abu Jahal: “Mulailah! Orang Quraisy telah mulai berkumpul di balairung mereka. Ceriterakanlah kepada mereka apa yang engkau ceriterakan kepadaku tadi.” Lalu Rasulullah s.a.w. menceriterakan apa yang dilihatnya, bahwa tadi dia di Baitul Maqdis, sembahyang di sana. Mendengar itu ada orang-orang Quraisy itu yang bertepuk tangan, ada yang bersiul, sebagai mencemuh dan mendustakan berita yang tidak masuk akal mereka itu. Dan pecahlah khabarnya di seluruh Makkah.

Maka ada orang datang kepada Abu Bakar menceriterakan apa yang dikhabarkan Nabi itu. Maka kata Abu Bakar: “Kamu dustakankah itu? Kalau begitu yang dia katakan, benarlah yang dikatakannya itu!” Kemudian dia temui Rasulullah, banyak musyrikin Quraisy mengiringkan. Ditanyanya sekali lagi dan dijawab oleh beliau di hadapan mereka.
Orang Quraisy sampai bertanya: Kalau benar engkau baru saja kernbali dari Baitul Maqdis, adakah engkau lihat di jalan rombongan/ kafilah perniagaan kami? Berapa ekor untanya dan betapa keadaannya? Dengan tegas beliau jawab; rombongan itu sekarang tengah menuju pulang, sekian banyak orangnya dan sekian banyak untanya; hari ini ketika matahari terbit sampailah rombongan itu. Unta yang di muka sekali putih warnanya.
Maka pada hari yang beliau tentukan itu ada mereka yang pergi menunggu keluar kota. Ada yang berkata: “Mana dia? Matahari sudah terbit. Mereka belum nampak!” Tiba-tiba berkata temannya: “ltu dia, sudah datang! Di muka sekali unta putih!” (Hamka)

Betapa kekuasaan Allah dalam perjalanan Nabi saw, sekecil dan sedeteil apapun yang di lihat dan di dengar oleh Nabi, dapat dijelaskan kepada orang yang tidak percaya dan ragu atas kebenaran beliau alami. Dalam hal yang sama , Allah juga memperlihatkan kekuasaan beliau, yakni rombongan yang dibilang oleh Nabi saw datang tepat pada waktunya, sesuai dengan apa yang disampaikan saat orang bertanya kepada beliau. Kalaulah bukan Iradah Illahi, mustahil hal ini akan terjadi.

Iradah Allah tentang Isra’ Mi’raj adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, karena telah sangat banyak kekeuasaan dan kehendak Allah yang beliau perlihatkan kepada umat-umat sebelumnya. Iradah Allah, bisa saja terjadi kapan dan di mana serta kepada siapa saja. Apabila Allah berkehendak, tidak ada seseorang pun yang bisa menghalangi.

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. Maka Maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Q.S. Yasin: 82-83).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *