Oleh: Elisnia Rezika
(Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Batusangkar)
Covid-19, kita semua tentu sudah tidak asing lagi dengan virus jenis baru yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China. Penyebarannya pun meluas dengan sangat cepat dan menjadi pandemi yang menggemparkan dunia tak terkecuali di Indonesia. Dampak yang ditimbulkannya sangat signifikan dan dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi sistem pendidikan di seluruh dunia, yang mengarah ke penutupan sekolah, perguruan tinggi dan universitas yang tersebar luas. Kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka langsung di kelas, sekarang berubah menjadi sistem belajar secara daring (dalam jaringan).
Tentunya ini merupakan sistem pembelajaran yang baru bagi kita semua. Suka tidak suka pendidik dan peserta didik yang terbiasa melakukan kegiatan belajar mengajar dengan interaksi langsung di ruang kelas harus belajar menyesuaikan diri dan menerima metode belajar jarak jauh itu sebagai satu-satunya jalan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru yang dituntut untuk memberikan inovasi dan kreativitas dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik dengan tidak hanya memberikan tugas yang banyak serta memberi beban kepada siswa.
Tantangan proses pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 ini seakan terkesan mempercepat revolusi industri 4.0. Menghadapi tantangan yang besar ini, maka pendidikan harus dituntut untuk berubah dalam rangka menghasilkan generasi hebat sesuai harapan penddikan pada abad 21 ini yang mana pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran yang bercirikan learning skill, dan literasi.
Selain itu, sistem pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran di mana kurikulum yang dikembangkan menuntut sekolah mengubah pendekatan pembelajaran yakni yang berpusat pada pendidik (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan masa depan, peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar.
Kembali ke permasalahan awal, tidak ada satu orang pun yang mengetahui secara pasti kapan pandemi ini akan berakhir. Mengingat ketidakpastian yang semakin tinggi, sudah barang tentu pembelajaran dalam jaringan akan terus dilakukan selama pandemi ini berakhir sebagai salah satu solusi dalam proses belajar-mengajar. Namun pada konteks ini, kualitas kegiatan belajar mengajar pendidikan nasional kita mulai dipertanyakan. Apakah kualitas atau mutu pendidikan bisa dikembangkan paling tidak tetap di jaga selama masa pandemi ini?.
Jika kita membahas tentang kualitas atau mutu pendidikan, tentu saja kita berbicara pada 8 (Delapan) aspek standar pendidikan yaitu standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, biaya, dan penilaian. Pembelajaran yang dilakukan dalam jaringan kemungkinan akan mempengaruhi 2 (Dua) standar yang utama yaitu standar proses dan standar penilaian. Namun tidak menutup kemungkinan akan merembet ke seluruh aspek standar yang ada.
Untuk menjaga mutu pendidikan selama masa pandemi ini tentu saja diperlukan penyesuaian dari berbagai macam aspek standar proses pendidikan. Salah satu standar yang terpenting yang perlu di jaga adalah kualitas standar proses pembelajaran. Para pendidik terutama guru harus fokus kembali pada isu utama pendidikan yaitu mutu belajar. Untuk itu guru dan orang tua dituntut untuk terus berinovasi dan kreatif agar kualitas proses pembelajaran selama masa pandemi ini bisa dijaga dengan baik.
Banyak cara yang dapat dilakukan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran selama masa pandemi ini. Guru dapat mencari refensi pembelajaran yang inovatif di laman komunitas guru berbagi yang sudah disediakan oleh kemendikbud. Para guru dan praktisi pendidikan bisa saling berbagi melalui rancangan pembelajaran serta mampu menginspirasi praktik baik pendidikan khususnya pendidikan jarak jauh.
Banyak halangan yang dihadapi oleh pendidik dan siswa untuk menjaga kualitas pendidikan. Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan agar kualitas pendidikan nasional kita tidak menurun di tengah berlangsungnya pandemi. Seluruh stakeholder pendidikan nasional harus ikut turun tangan menjadi solusi dan mengantisipasi potensi persoalan tersebut. Salah satu aspek penyokong dalam peningkatan proses pembelajaran dalam masa pandemi ini adalah ketersediaan teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran.
Pemanfaatan teknologi dalam peningkatan layanan pendidikan terutama pemerataan akses dan mutu pembelajaran harus didukung minat yang tinggi dari guru dan siswa untuk belajar teknologi. Pengembangan teknologi akan membantu guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar.
Namun demikian peran guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, “orang tua” di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang atau digantikan teknologi. Akan tetapi, kita perlu sadari bahwa teknologi telah mengubah cara hidup kita semua.
Mari kita manfaatkan teknologi, maksimalkan kemampuan mengajar kita. Meskipun profesi guru tidak mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meng-upgrade diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
Email: elisnia.rezika@gmail.com








