Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini / Artikel

“SURAU KU”

×

“SURAU KU”

Sebarkan artikel ini

 

By. DARMIWANDI, S.Ag. M.H.

Rajo Mada : Rajo Mudo!, Kapodo Rajo Mudo sambah dipulangkan:

“ Limau manih dalam parak,
Urang bau ka tangah pakan,
Kok batanyo, yo lapeh arak,
Kok barundiang, yo sudah makan”.
Alah kok lapeh arak Rajo Mudo basarato sanak saudaro di sinan? Kok alun kami nantian, kok alah akan kami laluan.

Rajo Mudo: Bialangan alah Rajo Mada. Laluanlah.

Rajo Mada : Tagak ambo di nan tinggi, ambo layangkan pandangan jauah dan ambo tukiakkan pandanga dakek, nampak dek ambo anak kamanakan Rajo Mudo nan barado di bawah payuang Datuak Rajo di Hati, namonyo Bujang. Inyo akan kami ambiak untuk manjadi junjungan anak kamanakan kami, nan banamo Gadih.
Kok di sabuik si Bujang jo Si gadih. Siang di sarahkan basikola, supayo tahu huruf dan angko, pandai manulih dan mambaco. Kok malam di suruah pai ka surau untuk mangaji, supayo tahu halal dan haram, pandai bado’a agak sapatah untuk urang tuo.

Itulah sekelumit kutipan pidato adat saat Manikek Janjang manapiak bandua (maminang) di Nagari Paninggahan.
Sekolah dan Surau, tidak lepas dari kehidupan orang Minangkabau. Di suruh sekolah, agar isi kepalanya berisi dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan bisa menjadi orang pintar secara rasional. Sedangkan di suruh ke surau adalah untuk mengisi kepalanya dengan ilmu agama serta dadanya dengan Iman, akhlah dan ibadah, agar seimbangllah antara lahir dan bathin, antara kepala dan dada. Inilah inti dari pituah dan perintah dari orang tua kepada anak-anak dan kemenakannya di ranah Minangkabau.

Menuntut ilmu pengetahuan di surau, mengingatkan aku berbagai macam pengalaman dan kenangan. Mungkin tidak jauh bedanya dengan teman-teman ku lainnya, aku menuntut ilmu dan mengaji di surat bukan hanya satu buah surau. Di Nagari Paninggahan cukup banyak surau. Tidak ada jorong yang tidak ada surau. Dalam satu jorong bahkan satu dusun saja ada lebih dari satu buah surau. Sebut sajalah di dusun Padang Palak contohnya. Ada surau Darek, Surau sumua, surau lakang dan surau Baru serta surau Ateh. Dari 5buah surau tersebut, hanya Surau Ateh dan surau Lakang yang tidak aktif lagi di masa-masa aku kecil. Surau Lakang itu terletaknya di Tampat.

Menyebut surau Lakang, mengingatkan aku saat bermain kelerang di halamannya. Suraunya kecil dan halamannya juga sempit, hanya sekedar jelan untuk lewat. Jalannya memang kecil, jalan setapak tetapi datar. Dijalan halaman surau inilah kami sering main kelerang, baik baik Kapalo Ula (kepala ular) maupun main sibusuk. Main Kapalo Ula, dimana kami meleretkan atau menyusun kelereng dengan memanjang ke samping lalu ditentukan kepala dari susunan itu. Siapa yang kena kepala dari kelerang dan keluar dari garisnya, maka seluruh kelereng yang berjejeran menjadi milik orang yang mengenainya itu. Sedangkan main sibusuk, adalah dibuatkan lingkaran sekira-kira diameternya 10 cm, lalu di letakkan beberapa kelerang di dalamnya. Apabila ada kelerang yang kena dan membuat kelereng lainnya keluar dari lingkaran tersebut, maka kelereng yang keluar dari lingkaran tersebut menjadi milik yang mengenainya. Itulah permainan Kapalu Ula dan Main Sibusuk dalam kelereng.

Dimanakah permain itu sekarang? Apakah kita yang lahir tahun 90-an ada yang kenal dengan istilah itu?. Apakah di halaman surau Lakang ini kami bermain kelereng dan hanya itu permainan kami? Jawabnya: “Tidak”.

Surau Darek adalah surau yang pertama aku diantarkan orang tua/amak untuk mengaji. Surau Darek bertingkat, dalam arti ada kandangnya, di bagian bawah tidak di huni hanya kosong.Ukuran surau Darek cukup besar juga, ada kamar/bilik di atasnya. Yang menjadi guru mengaji di saat aku menjadi muridnya adalah Mak. Ramidi dan Menek Mawi. Selain dari beliau berdua, ada lagi yang membantu beliau yang disebut guru bantu. Garu bantu adalah murid juga yang diperbantukan untuk menunjukkan dan membimbing yang dibawahnya.

Saat mengaji di surau Darek, aku telah kelas 3 SD. Namun belum mendapatkan dan mengerti apa-apa kecuali menuruti bacaan sholat yang populer disebut Kaparo Sumbayang dan mengaji papan. Aku tidak pandai membaca al-qur’an dengan cara patah-patah apalagi secara lancar. Karena kecerdasan otak juga ala kadarnya, yang pasti jarang pergi mengaji, berbagai alasan yang diberikan kepada guru mengaji. “Orang mau seribu akal, orang tak mau seribu dalih”, mungkin inilah istilah yang pas bagi orang yang pemalas termasuk aku disaat itu.

Surau Darek, bukan hanya tempat mengaji atau mempelajari al-Qur’an tetapi sekali tempat tidur. Menjalang mata tertidur, aku mendengar beberapa orang yang menghafal pidato adat. Pidato adat merupakan pituah-pituah dan pipatah serta pantun-pantun yang keleuarkan di saat adanya alek perkawinan dan tentu juga saat adanya prosesi adat setelah kematian. Pidato adat tersebut juga enak di dengar dan memiliki hikmah yang dalam bagi orang yang memahaminya. Belajar pituah, tidak jauh bedanya dengan belajar falsafah dan hikmah.

Selama mengaji di Surau Darek ini, ada pengalaman yang tidak terlupakan, sebagaimana yang aku ungkapkan dalam tulisan selanjutnya, bahwa aku pernah di rendak dalah kolam kecil yang berada di halaman surau Darek ini karena sering bolos mengaji dan sekolah. Aku lah orang pertama yang kena rendam atau di suruh mandi malam. Setelah aku, juga ada murid lain yang di suruh mandi oleh mak.Enek Mawi karena melanggar peraturan dan ketentuan. Sebelum sanksi ini diberlakukan, Guru mengaji membuat perjanjian dengan murid terlebih dahulu.
Diantara perjanjian itu adalah; “ Siapa yang melanggar peraturan surau dalam bentuk tidak mengaji selama 3 hari berturut-turut atau melawan kepada orang tuanya, maka sanksinya adalah di rendam atau dimandikan pada jam belajar mengaji malam. Ternyata, ada beberapa orang yang melanggar perjanjian, maka dengan kesepakatan bersama dan kesadaran murid miskipun dalam hatinya keberatan, terpaksa buka baju dan mandi berenang dalam kolam besar yang berada di depan surau darek juga.

Tidak beberapa lama mengaji di Surau Darek, penulis pindah mengaji ke Surau Banda Gadang dalam jorong Kampung Tangah. Di surau gadang ini, aku masih mengaji papan ( Iqra’ istilah sekarangnya). Garu mengaji di sana adalah ayah Wali karena beliau adalah mantan Wali Nagari Paninggahan sebelum berpindahkan ke sistem pemerintahan desa. Selain beliau, ada juga ayah Lanca. Proses belajar mengajar tidak ada bedanya dengan surau Darek. Bagaimanakah dengan perkembangan ilmu aku? Yaa..juga tidak ada bedanya. Mengaji tidak juga pandai-pandai. Kaji papan dan papan juga.

Mengaji di surau Banda Gadang sekian bulan, setelah itu aku pindah lagi ke surau Sumua yang terletak di jorong Ganting Padang Palak. Yang mengajar di saat itu adalah Mamak Pakih Bahar dan Mak. Enek Mawi. Tidak lama pula mengaji di Surau Sumua, Aku pindah lagi mengaji ke Surau Baru Sawah Gadang, masih dalam dudun Padang Palak. Berpindahnya mengaji ke surau Baru Sawah Gadang, karena di Surau Darek dan Surau Sumua tidak aktif lagi. Kenapa tidak aktifnya, sampai sekarang aku tidak tahu. Kelas berapakah aku mulai mengaji di Surau Baru Sawah Gadang? Masih kelas IV SD.

Surau Baru Sawah Gadang terletah di dalam sawah. Sawahnya memang gadang (besar) di antara sawah yang ada di dusun Padang Palak. Tanpa bermaksud mengedepankan pribadi, Sawah Gadang adalah Sawah Pusako kami dalam suru Pinyalai di bawah atap rumag gadang Rajo Mudo dusun Padang Palak. Posisi surau Baru berada di sudut sawah gadang bagian utara. Sawah Gadang, memang di jadikan sawah giliran dalam lingkungan kaum kami. Namun pada saat berdirinya Surau Baru itu, sawah gadang berubah fungsi menjadi parigi (kolam ikan).
Dengan berubahnya sawah gadang menjadi kolam, otomatis di bawah Surau baru adalah kolam. Kolam tersebut juga tempat mandi-mandi kami waktu itu. Apakah ada orang mandi dan dimandikan malam di dalam kolam yang berada di bawah surau Baru tersebut? Ada. Siapakah orang yang pasti? Aku lupa! Mudah2an ada yang mengingatkan.

Satu hal lagi yang tidak terlupakan, hampir di setiap surau dan guru yang aku jumpai, tidak ada yang tidak memegang dan mempergunakan rotan untuk malacuik (memukul) kami. Bila ada satu atau dua orang yang ribut dan bermain-main atau bergurau selama mengaji, maka guru memukul rata semua anak murid. Dengan cara mengajar yang begitu ketat dan keras dari mak.Enek Mawi di Surau Baru, aku sudah bisa membaca al-Qur’an secara terbata-bata. Aku sudah bisa dimasukan ke dalam anggota tadarus al-Qur’an. Dalam kegiatan tadarus al-Qur’an sekali seminggu itulah aku bisa mendapatkan ilmu tajwid.

Bertahankah aku mengaji di surau Baru itu? Tidak. Setelah aku kelas 5 SD, aku pindah lagi mengaji ke Suran Bansa. Surau Bansa adalah surau tertua juga yang ada dalam dusun Jambak. Jaraknya sedikit jauh dari rumah ku. Gurunya mamak Abai Jangguik. Karakter beliau tidak ada bedanya dengan guru-guru mengaji ku sebelumnya. Selain suara beliau yang keras, juga keras dalam mendidik anak-anak murid beliau. Yang namanya ROTAN sudah menjadi langganan kami bagi yang tidak serius dalam mengaji.

Tidak beberapa bulan aku mengaji di Surau Bansa ini, aku beliau utus untuk mengikuti MTQ dalam helat perkawinan. Dapat juarakah aku? Tidak. Tetapi sedikit pendidikan mental sudah mulai aku rasakan. Dengan semakin lancarkan aku membaca al-Qur’an, aku juga sudah dibolehkan mengikiti latihan irama/ seni al-Qur’an dengan Buya Nurdin Ibrahim, yang di kenal dengan panggilan Buya Lelen. Di suran Bansa Kami belajar al-Qur’an, di surau Bansa pula kami tidur.
Setiap subuh, kami telah beliau bangunkan untuk sholat subuh berjamaah. Bagi yang tidak mau bangun, air datang dan surau keraspun tiba. Bagi kawan-kawan yang tidak mau tidurnya terganggu, tidurlah di rumah orang tuanya atau tidur di tempat lain. Berbica tempat tidur selama di SD, selain tidur di Surau, mangkin sudah belasan rumah tempat aku menumpang tidur bersama kawan-kawan. Rumah siapa sajakah? Ada saatnya di tulisan yang akan datang aku tuliskan. Apakah aku seperti gelandangan di waktu kecil ku? Yang pasti semuanya adalah realita dan keadaan. Siapa-siapa sajakah teman-teman yang sama-sama mengaji ku? Wah, terlalu banyak untuk disebutkan. Namun demikian, satu atau tiga orang, aku sebutkan jugalah sebagai wakil dari yang banyak. Di antaranya adalah; Railis, Amril dan Aliyus.

Sedang mengaji di surau Bansa, aku sempatkan juga mengaji al-Qur’an di Rumah Pakih Mansini. Rumah? Iya, karena di rumah beliau juga ada orang mengaji. Aku juga ikut mengaji di sana. Agak berbeda dengan sebelumnya, selain aku mengaji dan membaca al-Qur’an, aku mulai sedikit-sedikit mempelajari terjemahan Al-Qur’an. Selain itu aku juga beajar kepada beliau bacaan-bacaan do’a setelah sholat. Saat belajar dengan ayah Pakih mansini, aku hanya belajar sendirian. Boleh dikatakan bahwa teman-teman ku yang lain tidak mengetahui bahwa aku juga belajar mengaji dan terjemahan al-Qur’an.

Adakah satu awal cerita di saat mengaji di rumah ayah pakih mansini? Ada. Apa itu? Telah aku ungkapkan!
Sekian lama dan sekian banyak surau-surau yang telah aku tempuh, tentu ada masa berakhirnya. Barakhirnya aku mengaji ke surau adalah pertengahan tahun 1986. Karena aku harus meninggalkan kampung halaman termasuk surau-surau ku. Sebagian teman-teman masih ke surau, karena mereka masih sekolah di kampung halaman ku. Sementara aku? Tidak!.

Surau, bagi aku adalah sebuah pengalaman dan perjuangan hidupku. Dari kelas 1 sampai kelas 3 SD, aku belum mendapatkan apa-apa dari kehidupan aka bersurau. Aku mengulang lagi kelas 3 di SD dengan tahun yang berbeda, Alhamdulillah, juara 1 telah mulai aku raih. Hati dan pikran aku mulai terbuka, prestasi ku di sekolah sudah bisa aku banggakan. Mengaji dan membaca al-Qur’an sudah bisa aku jadikan modal melanjutkan pendidikan agama yang lebih tinggi. Tanpa ku sadari, petualangan ku sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Pandai bukan pintar membaca al-Qur’an adalah hasil petualangan aku ke surau.

Dari sekian banyak guru mengaji ku, hanya guru mengaji tempat pertama aku mengaji (Surau Darek) yang masih hidup sampai sekarang.
Allahummagfirlahum Warhamhum, bagi yang telah mendahului aku.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *