Penulis : MERIYANTO
Wartawan MADYA
Tanah Datar | mentreng – Membantu menanggulangi bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan merupakan salah satu dari sekian banyak tugas pokok Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tugas prajurit TNI ini juga terimplementasi kepada penerapan Santiaji didalam delapan wajib TNI.
Di Luhak Nan Tuo, Tanah Datar, Sumatera Barat, peran TNI dalam penanggulangan bencana cukup aktif, salah satunya waktu bencana banjir bandang Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara pada akhir tahun 2018 lalu. Yang terbaru, peran TNI juga terlihat pada bencana banjir bandang di Kenagarian Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan pada 17 Januari 2020 kemarin.
Setidaknya, bencana banjir bandang malalo merusak 8 unit rumah, kedai dan menghanyutkan 13 ekor ternak warga. Mulai dari hari pertama bencana pada tanggal 17 januari 2020, Kodim 0307/ Tanah Datar telah berperan aktif dalam penanganan bencana, dan berlansung hingga pada tahap perbaikan (recovery). Bekerjasama dengan jajaran POLRI dan BPBD, pulahan anggota TNI pada masa tanggap darurat yang diberlakukan oleh pemerintah Kabupaten Tanah Datar itu terlibat dalam penanganan pemukiman warga yang nyaris hancur dihondoh oleh banjir bandang Bukit Patah Gigi.
“ liputlah bapak-bapak kita TNI POLRI. teman-teman kan bisa melihat, kita bersama sama TNI/Polri dan BPBD saat ini tengah melakukan pembersihan rumah warga yang hancur. TNI/POLRI lebih fokus pada rehabilitasi daerah terdampak bencana tentunya dengan berkordinasi dengan pemerintah daerah,” ungkap Thamrin Basroel, Kalaksa BPBD Tanah Datar saat ditemui di lokasi bencana banjir bandang bukit patah gigi Malalo kala itu.
Pada bencana itu, TNI juga ikut berperan dalam survey terhadap daerah aliran sungai (DAS) bukit patah gigi yang dianggap masih berpotensi terjadinya banjir bandang susulan. Survey ini juga merupakan instruksi gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno dan Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi.
“ jadi hari ini (20 januari 2020), kita BNPB, TNI dan POLRI serta masyrakat tengah menelusuri aliran sungai. Dari 7 daerah aliran sungai yang ditargetkan, pada hari ini kita selesaikan dua sungai,” Kata Kalaksa BPBD Tanah Datar.

Selain bencana alam, TNI di wilayah Kodim 0307/Tanah Datar juga berperan dalam meningkatkan perekonomian dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Luhak Nan Tuo. Seperti di Jorong Panti Kecamatan Rambatan, kelompok tani Rizqullah dibawah pimpinan Syamsinir Pasiter Kodim 0307 Tanah Datar yang juga mantan Danramil 07 Rambatan, bersama masyarakat membuka lahan perkebunan produktif, yakninya Serai Wangi.
Menurut Kapten kav. Syamsinir, beberapa wilayah di Kabupaten Tanah Datar terbilang sangat cocok untuk pengembangan perkebunan serai wangi. Beberapa wilayah yang saat ini dijadikan sebagai ladang serai wangi seperti Jorong Panti Nagari Rambatan, Jorong Labuah Limo Kaum dan Nagari Saruaso.
Saat ini juga telah banyak bermunculan petani dan kelompok tani yang membudidayakan tanaman ini. Berbasis di Jorong Panti, kelompok tani ini mengembangkan komoditi serai wangi guna meningkatkan perekonomian anggotanya. Serumpun serai wangi bisa mencapai berat 5 kg atau sekitar 250 batang.
“Kualitas varietas G-1 atau G-Super merupakan varietas yang tergolong bermutu baik dan amat diminati pasar, terutama untuk ekspor,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk varietas yang saat ini ditanam memiliki waktu panen yang relatif cepat, yakni tiga hingga enam bulan untuk panen pertama dan 30-40 hari untuk panen berikutnya. Sehingga dapat memberi pendapatan yang bagus bagi petani.
Sementara, untuk pemeliharaan tanaman, menurut Syamsini tergolong cukup mudah. Pemupukan dan pemberian insektisidapun tidak seruwet jenis tanaman lainnya.
“ pemupukan pertama cukup menggunakan kotoran sapi, setelah berusia sebulan baru diberi pupuk tambahan seperti pupuk mutiara dan sejenisnya,” ungkap Syamsinir.
Komoditas serai wangi yang dikembangkan Kelompok Tani Serai Wangi Rizqullah di Kabupaten Tanah Datar sangat diminati pengusaha luar negeri. Beberapa pengusaha dari beberapa negara juga telah berkomunikasi dengan ketua kelompok tani untuk mendapatkan hasil penyulingan serai wangi tersebut.
“Sebagai salah satu komoditi ekspor dan sedang jadi primadona, beberapa negara seperti Perancis, Turki, China, dan Jepang sudah menghubungi kami,” kata Syamsinir, Ketua Kelompok Tani Serai Wangi Rizqullah.
Akan tetapi, permintaan tersebut belum dapat terpenuhi lantaran produksi yang masih sedikit. Sementara untuk permintaan lokal saja pihaknya sudah kewalahan.
Menurut Syamsinir, keterbatasan produksi juga disebabkan oleh keterbatasan lahan untuk penanaman serai. Untuk saat ini, pihaknya terus berupaya memotivasi masyarakat untuk menanam serai wangi sehingga dapat memenuhi permintaan pasar.
“ kami terus memotivasi petani agar bertanam serai wangi. Sebab pasarnya sangat terbuka dan permintaan cukup tinggi,” ujarnya.
Dengan bertanam serai wangi, ia bersama kelompoknya optimis petani akan memperoleh penghasilan rutin setiap bulannya.
“apabila seorang petani memiliki tanaman serai sebanyak 3000 lobang, maka ia sudah bisa berpenghasilan Rp. 7 juta hingga Rp. 8 juta dalam rentang waktu 40 hari, ujarnya lagi.
Syamsinir menambahkan, bertani serai wangi merupakan prospek yang menjanjikan sehingga dapat meningkatkan pendapata serta kesejahteraan petani.(meryanto)






