“Paninggahan Nagari Ku” (Wisata Puncak Gagoan)

 

Oleh: Darmiwandi.,S.Ag,.M.H.

Bacaan Lainnya

Gagoan bukan sebuah nama dan daerah yang asing bagi masyarakat Nagari Paninggahan. Gagoan merupakan salah satu nama dari nama daerah lain sebelum masyarakat /petani memasuki pintu rimba Paningahan. Dama dan kayu Gadis adalah daerah sembelum menuju Gagoan. Biasanya para petani sebelum mendaki menuju Gagoan, mereka berhenti sejenak di Dama dan/atau di Kayu Gadih terlebih dahulu.

Mereke berhenti karena lelah setelah melewati jalan yang mendaki dari rumah mereka. Selain mendaki, jalanan kecil dan berlobang-lobang. Jangankan roda empat, roda dua saja tidak bisa melewati. Petani menelusuri jalan setapak yang di kiri-kanan penuh dengan semak. Petani yang berasal dari berbagai jorong di Paninggahan, baik dari Kampung Tangah, Gando, Ganting Padang Palak, Koto Baru Tambak, Parumahan dan sebagian kecil dari jorong Subarang yang memeliki “Parak” (ladang) di rimba Paninggahan pasti melewati Gagoan.

“Puncak Gagoan” adalah sebuah tempat melepaskan lelah bagi para petani yang akan menuju ladang mereka yang berada di balik Gagoan, sebut saja; Aro, Aia Badarun, parak Angku, Dama Bungku dan lain sebagainya.

Penulis tahu dengan nama-nama tersebut karena keluarga penulis juga mempunya ladang di sebagian dari rimba Paninggahan yaitu di Dama bungkuk dan Gaduang Angku. Pada waktu kecil penulis, yang mengolah ladang tersebut bersama angku/kakek penulis. Nama populer beliau adalah Pakih Kutar dan Angku Buyuang Tambak.

Di balik Gagoan itu, berbagai macam isi ladang para petani Paninggahan, mulai dari tanaman muda sampai tanaman tua. Tanaman muda seperti bawang, lada dan sayur-sayuran. Sedangkan tanaman tua seperti Kopi, kulit manis, pala, cengkeh dan dama (kemiri).

Rimba Nagari Paninggahan yang satu ini merupakan jantung perekonomian masyarakat Paninggahan. Di sinilah sebagian mata pencaharian mereka. Dari hasil tanah rimba inilah mereka menghidupi anak-anak dan keluarga mereka. Bila mereka belum panen, yang mereka bawa pulang adalah kayu api. Meraka membawa Kayu batang patai dan kulit manis dengan menyandangnya di pundak dan menjujungnya di kepala mereka. Kayu batang patai dan kayu kulit manis ini mereka ikat dan mereka letakkan di rumah mereka, selain sebagai kayu api untuk mereka sendiri juga kayu api itu mereka jual untuk membantu biaya hidup sehari-hari.

Jarak tempuh berjalan kaki dari rumah Penduduk ke Pancak Gagoan kira-kira 1 sampai dua jam. Dari puncak Gagoan sampai ke Dama Bungkuk dan Gaduang Angku, kira-kira 3 jam. Dekatkah? Iya!, bagi para petani. Karena mereka tidak pernah kenal menyerah apalagi mengalah.

Puncak Gagoan adalah sebuah tempat peristirahatan mereka setelah melalui perjalanan panjang, berliku dan mendaki terutama beberapa meter menjelang sampai di puncak Gagoan dari arah rimba Paninggahan.

Di daerah sekitar puncak Gagoan, masyarakat berjalan dengan hati-hati, jurang yang sangat terjal ada di samping mereka, kadang-kadang angin kencang pun ikut menerjang. Gagoan, membuat penulis “Gagok” (gamang) melewatinya. Jalan kecil di lereng bukit, melihat ke bawah, perasaan gamang. Mundur, maksud tidak akan sampai. Mau tak mau, jalan kecil, sempit dan mendaki di lereng bukit harus di tempuh dengan beban berat sedang di pundak. Inilah Gagoan beserta Puncaknya dari dulu sampai tahun 90.an.

Alhamdulillah dan terima kasih kepada masyarakat Paninggahan dan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat Paninggahan yang sangat peduli terhadap nagarinya telah merealisasikan sebagian kecil dari cita-cita mereka.

Pada awal tahun 2000, masyarakat Paninggahan melaksanakan gotong royong Nagari. Masyarakat Paninggahan, baik laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak saling membahu memikirkan jalan sentral ekonomi rakyat Paninggahan ini. Bantuan materil pemerintah dan sumber daya serta dana masyarakat menjadi kekuatan ampuh untuk memperbaiki jalan ke Gagoan, bahkan sampai ke Ladang Gaduang Angku.

Sekarang jalan menuju Gagoan bukan hanya bisa dilewati oleh roda dua, bahkan si Kijang berwarna Biru Silver telah pernah menjejakkan kakinya di Puncak Gagoan itu.

Dahulu Puncak Gagoan adalah tempat melepaskan letihnya para petani. Sekarang Puncak Gagoan telah berubah sebagian dari fungsinya. Selain sebagai sekedar tempat melepaskan sesak nafas karena letih juga sudah menjadi tempat rekreasi dan wisata bagi masyarakat Paninggahan bahkan masyarakat yang datang dari luar nagari Paninggahan.

Puncak Gagoan sudah menjadi sebagian tempat wisata dan rekreasi yang ada di Nagari Paninggahan. Sebelum kita sampai di Puncak Gagoan, aura keindahan alam sudah terlihat dan terasa. Saat kita melihat ke kiri dan ke depan, kita akan menyaksikan pemandangan bukit Junjung Sirih yang berdiri gagah dan tegap serta dihiasi dengan indahnya rumput yang menghijau. Saat kita menorehkan pandangan kita ke kanan, kita disuguhkan pemandangan alam yang sangat indah, wilayah pertanian yang luas.

Puncak Gagoan, namanya saja Puncak. Tentu kita akan merasakan dan melihat pemandangan yang berbeda sebelum kita sampai di puncaknya. Puncak Gagoan lokasinya agak menjorok ke depan. Dari puncak itu, kita bisa melihat rimba Paninggahan yang begitu hijau, pohon-pohon kayu yang sangat besar dan perbukitan kecil lainnya. Kita bisa menyaksikan Bukit Batu Agung di sebelahnya.

Dari kejauhan, terlihatlah ladang-ladang dan pondok-pondok yang berada di ladang penduduk. Khusus bagi penulis, bila melihat ke arah bukit di seberang “Batang Air” (sungai), penulis ingat semasa kecil penulis yang hampir setiap minggu pergi ke ladang itu. Di saat musim liburan sekolah, di sanalah penulis menghabiskan waktu. Nama daerah ladang penulis, yakni KUMULAU.

Selain bapak penulis yang berladang di Kumulau itu, ada lagi yang penulis ingat, yaitu Mak Nawi, Mak Subia Anyuik dan Mak Abai Jangguik. Masih hidupkah daerah Kumalau tersebut? Penulis tidak tahu lagi.

Puncak Gagoan, selain menyuguhkan indah dan luasnya Nagari Paninggahan, juga dapat melihat sebagian besar luasnya Danau Singkarak. Dengan tampaknya Danau Singkarak, menambah indahnya perbukitan yang berada di seberang danau Singkarak itu.

Indah..???, indahnya tidak terungkapkan dengan kata-kata dan tidak terucapkan dengan lidah, hanya bisa dirasakan oleh mata yang memandangnya serta halusnya hati yang merasakannya. Di balik keindahan yang disuguhkan dari Puncak Gagoan, terasa dan teringatlah penulis; “BETAPA BESARNYA KARUNIA ALLAH SWT UNTUK NAGARI PANINGGAHAN”.

Tanpa berandai-andai…., secara pribadi, penulis sebagai anak Nagari Paninggahan masih berharap munculnya lagi Pejuang-Pejuang/Tokoh-tokoh/Hartawan-Dermawan dari Nagari Paninggahan yang bukan hanya bercerita, berwacana, apalagi saling lempar tangan tetapi yang bisa bicara dan berbuat nyata untuk Nagari Paninggahan.

Puncak Gagoan..apakah dirimu akan kembali seperti dulu lagi???

Pos terkait